Pagi itu, Rolan terbangun dengan perasaan yang masih sama, cemas dan tidak tenang. Setelah mandi dan berpakaian, dia segera bergegas ke akademik. Di perjalanan, pikirannya terus berkecamuk tentang sosok berwajah pucat yang dilihatnya malam itu.
Suasana di meja makan pun menjadi canggung karena sejak malam kemarin anak tunggal pemilik mansion ini tidak mengeluarkan satu kata apapun, mereka pun sudah tau penyebabnya karena permasalahan utama Rolan adalah kemampuan spesialnya itu.
"Lan, apa kamu gamau cerita apapun? sepertinya kamu lagi memikirkan sesuatu" Hevan, papa Rolan memecahkan suasana ketegangan ini dengan baik untuk berbasa-basi.
Rolan masih menikmati sarapannya pun melirik papa nya, "kehidupan Rolan kedepan udah ngga akan makin tenang pah"
Evelyn dan Hevan saling melihat dan merasa kebingungan "maksud kamu apa, lan?"
Rolan meletakkan sendoknya dan menghela napas panjang. Dia memandang kedua orang tuanya, Evelyn dan Hevan, dengan tatapan serius. "Kemarin malam, waktu latihan basket, Rolan melihat sesuatu yang aneh di tribun penonton," Rolan memulai ceritanya.
Evelyn dan Hevan saling berpandangan sebelum kembali memusatkan perhatian mereka pada Rolan. "Apa yang kamu lihat, Lan?" tanya Evelyn dengan lembut.
"Rolan lihat sosok berwajah pucat di tribun. Itu bukan manusia biasa. Wajahnya begitu mengerikan dan sepertinya dia hanya bisa dilihat olehku," jawab Rolan dengan suara sedikit gemetar.
Hevan mengerutkan kening, "Apakah ini ada hubungannya dengan kemampuan spesialmu itu, Lan? Apakah kamu melihat makhluk gaib lagi?"
Rolan mengangguk pelan. "Ya, Pah. Rolan juga ga akan bisa pura-pura lagi buat sembunyiin kemampuan spesial ini ke 'mereka'."
Evelyn meraih tangan Rolan, memberikan dukungan yang hangat. "Lan, kita pernah berbicara tentang bagaimana kemampuan ini bisa menjadi anugerah dan bukan kutukan. Mungkin ada alasan di balik semua ini. Kamu tidak sendirian, kami selalu ada di sini untukmu."
Setelah menyelesaikan sarapan, Rolan bersiap untuk berangkat ke akademik. Meskipun masih ada rasa cemas yang mengganjal, dukungan dari orang tuanya memberikan kekuatan baru bagi Rolan. Dia tahu bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi misteri ini. Dengan tekad yang lebih kuat, Rolan berjanji untuk menghadapi semua ini dengan keberanian dan hati yang teguh.
Setibanya di akademik, suasana tampak seperti biasanya. Dia berjalan menuju ke kelas nya, rupanya dia datang terlalu cepat dari biasanya "Perasaan udah niat di telat-telatin kenapa masih kepagian coba, mau kemana dulu ini gue"
Rolan menghela nafas dan berniat memutar balik menuju kemana pun untuk menghabiskan waktu sedikitnya ini, karena dia tidak mau jadi orang pertama di kelasnya. Tapi saat berbalik badan, dia menabrak seseorang dan spontan meminta maaf.
Anehnya seseorang ini hanya diam saja dan melewati Rolan begitu saja lalu duduk yang kemungkinan itu tempat duduknya, Rolan dari jauh bisa melihat seseorang itu duduk paling belakang lalu membiarkannya dan pergi menuju ke taman untuk menenangkan pikirannya.
Sesampainya di taman, tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, Dia disamper oleh keempat kaka tingkat itu. Heli duduk disebelahnya dan diikuti oleh Jevan, Selen, dan Jovian.
"Lo kemaren kenapa? kenapa cepet banget pengen balik" Heli membuka suara...lebih ke penasaran soal kemaren sih apa yang dibilang Selen bener, Rolan dapat melihat sesuatu yang tidak biasa dilihat mata normal biasa.
Tentu saja Rolan sudah menebak bahwa kaka tingkat ini akan bertanya kembali soal keadaan nya semalem, tidak tahu kenapa Rolan belom bisa memberitahu ke mereka semua yang sesungguhnya tentang kemampuan spesialnya.. atau memeng menurutnya belom waktu nya saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mata Kematian [ SELESAI ]
HorrorRolan adalah seorang individu yang dilahirkan dengan kekuatan luar biasa yang melebihi batas manusia biasa. Sejak usia muda, dia menyadari bahwa dia memiliki kemampuan unik untuk berinteraksi dengan makhluk gaib dan melihat kejadian masa depan, teru...
![Mata Kematian [ SELESAI ]](https://img.wattpad.com/cover/369675669-64-k667317.jpg)