Mereka yang Tak Terlihat

247 23 1
                                        

Pada suatu hari di akademik, ketika Rolan sedang sibuk menyelesaikan tugasnya, tiba-tiba dia dipanggil oleh seorang perempuan yang belum pernah dia kenal sebelumnya. Perempuan itu dengan malu-malu mengakui bahwa dia telah lama menyimpan perasaan terhadap Rolan dan ingin menyatakan cintanya.

Rolan merasa terkejut dan tidak tahu harus berkata apa. Meskipun perempuan itu tampak baik, dia sadar bahwa dia tidak memiliki perasaan yang sama. Dengan lembut, Rolan menolaknya, mencoba menjelaskan bahwa dia tidak bisa membalas perasaannya.

Namun, perempuan itu tidak menerima penolakan itu dengan baik. Dia tetap memohon kepada Rolan untuk menerima hadiah kecil yang telah dia bawa sebagai tanda cintanya. Rolan merasa semakin tidak nyaman dengan situasi ini, tetapi akhirnya, demi mengakhiri kecanggungan, dia menerima hadiahnya.

Setelah memberikan hadiah itu, perempuan itu pergi dengan wajah yang sedih. Saat Rolan berbalik untuk kembali ke meja kerjanya, dia sadar bahwa keenam temannya telah menguping dan mengintainya sepanjang percakapan tersebut.

Rolan merasa sedikit malu, tapi juga bersyukur atas dukungan dan persahabatan yang mereka berikan. Dia tahu bahwa mereka selalu ada untuknya, baik dalam kebahagiaan maupun kesulitan. Dengan sedikit candaan dan tawa, mereka mengalihkan perhatian dari kejadian tersebut, membantu Rolan untuk kembali fokus pada tugasnya dengan pikiran yang jernih.

"Cewe secantik tadi aja, Lo nolak. Emang tipe cewek lo tuh kaya gimana sih" Tanya Sagaras. 

Rolan tersenyum mendengar komentar dari Sagaras. "Nggak gitu, Ras. Bukan soal secantik atau seberapa oke perempuannya," ujarnya sambil coba jelasin. "Gue cuma belum merasa klik aja, bukan cuma soal penampilan, tapi juga perasaan. Gue percaya kalau cinta itu dateng dengan sendirinya, dan gue nggak mau dipaksa-paksa."

Selen, yang duduk di sebelahnya, ketawa kecil. "Bener banget kata Rolan. Tiap orang punya selera masing-masing. Misalnya, gue nggak suka sama yang doyan goda-goda tanpa seriusan," ucapnya sambil nunjukin mata ke arah Heli yang duduk di meja seberang.

Heli, yang lagi sibuk main laptop, angkat kedua alisnya "dihh dihh kata siapa. Gue bukan ngegoda tapi gue cuma respon yang seharusnya aja. Ramah tamah dan harus friendly lah" 

Heli dan Selen terus berdebat, tanpa peduli dengan upaya Rolan untuk memediasi. Mereka terus saling menyerang dengan candaan yang semakin panas. Melihat situasi semakin memanas, Jevan mencoba ikut campur. "Guys, udahlah, kita kan lagi di Akademik. Nggak baik kalau ada masalah di sini," pintanya dengan suara yang tenang.

Namun, usahanya tampaknya sia-sia. Heli dan Selen masih saja asyik saling berbalas kata-kata tanpa henti. Jevan mulai merasa frustasi. "Hei, kalian berdua! Berhenti! Udah cukup!" teriaknya kesal.

Tapi Heli dan Selen masih belum terpengaruh. Mereka terus melanjutkan debat mereka, seakan tidak mendengar Jevan sama sekali.

Melihat hal itu, Jovian yang sudah mulai lelah menghadapi kedua sahabatnya yang keras kepala, mengambil tindakan ekstrim. Dia mengambil sepotong roti dari tasnya dan menancapkannya ke kedua mulut Heli dan Selen yang sedang asyik berbicara.

"Aduh, makan roti dulu aja deh, biar nggak ada yang berantem," kata Jovian  dengan nada santai, sambil tersenyum.

Heli dan Selen kaget dengan tindakan Jovian. Mereka saling bertatapan, lalu akhirnya tertawa bersama. Mereka menyadari bahwa mereka telah terlalu jauh dengan candaan mereka, dan tindakan Rolan berhasil membuat mereka tersadar.

"Yahh padahal gue suka keributan, kenapa malah dipisahin sih hehe" Celetuk Rolan. 

Melihat reaksi teman-temannya mungkin akan membalas tindakannya. Jadi, dia hanya menyengir dan mencoba berpura-pura tidak bersalah.

"Hehe gue bercanda woi lah. Serius banget, efek kebanyakan dikasih tugas jadi pada emosian semua nih" Rolan hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum. Dia tahu dia hampir saja mendapat masalah karena tingkah konyolnya itu.

Setelah istirahat di kantin untuk mengerjakan tugas, sore harinya seperti biasa, Jorell dan Sagaras pulang duluan, meninggalkan Rolan kembali ke latihan. Saat tiba di gynasium tempat mereka latihan basket, latihan berjalan lancar.

Tiba-tiba, Pelatih mereka menyela latihan. "Rolan, datang ke sini sebentar," panggilnya.

Rolan pergi mendekati pelatih, tidak tahu apa yang akan diucapkannya. Namun, dengan senyum lebar, pelatih memberitahunya bahwa dia telah dipilih sebagai bagian dari tim inti basket akademik mereka untuk acara tanding olahraga yang diadakan dua hari lagi, di mana mereka akan menjadi tuan rumah.

Rolan merasa campur aduk antara terkejut dan bahagia. Dia tidak pernah berpikir bahwa dia akan menjadi bagian dari tim inti. Ini adalah kesempatan besar untuk membuktikan kemampuannya.

Setelah pengumuman itu, mereka mulai berlatih lebih keras dan lebih fokus. Mereka semua bertekad untuk memberikan yang terbaik dalam acara tersebut dan membawa pulang kemenangan untuk akademik mereka sebagai tuan rumah. Latihan mereka menjadi lebih intens, tapi semangat mereka tidak pernah padam. Mereka siap untuk menghadapi tantangan dengan penuh semangat dan keberanian.

Ketika latihan hampir selesai, Rolan mengambil momen untuk beristirahat. Dia melihat ke arah tribun penonton dan tiba-tiba matanya tertuju pada sosok berwajah pucat yang duduk di salah satu kursi. Dia mengerjapkan mata, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

"Rolan, lo bengong aja di situ! jangan keseringan ini tempat juga cukup rawan" seru Heli yang tiba-tiba muncul di sampingnya, menyadarkannya dari lamunan.

Rolan menoleh sejenak ke arah Heli, lalu kembali melihat ke tribun untuk memastikan sosok itu masih ada atau tidak. Namun, sosok pucat itu sudah menghilang. Tidak ada jejak siapa pun di sana.

Rolan merasakan bulu kuduknya berdiri. Kepanikannya meningkat, menyadari bahwa dia mungkin baru saja melihat makhluk gaib. Dia khawatir kemampuan ini bisa diketahui oleh sosok-sosok semacam itu, yang bisa berakibat buruk baginya.

"Heli, gue izin pulang duluan ya," kata Rolan buru-buru. Tanpa menunggu jawaban, dia segera bergegas keluar dari gymnasium.

Tubuhnya masih merinding hingga sampai di rumah. Di dalam hatinya, dia berharap kejadian itu hanya khayalan dan tidak ada konsekuensi yang lebih serius dari yang dia bayangkan. Meski begitu, dia tetap merasa waspada dan berjanji pada dirinya sendiri untuk lebih berhati-hati ke depannya.

Trio kating ini pun bersamaan menemui Heli berniat bertanya apa yang terjadi dengan Rolan, Heli terdiam sejenak lalu "Gue juga gatau, dia abis liat tribun penonton. Udah gue peringatin tapi setelah itu dia liat kesana lagi terus udah deh cabut bocahnya"

"Apa dia bisa melihat yang ga biasa diliat sama mata manusia normal?" celetuk Selen, Jovian dan Jevan menjadi ikut merinding tetapi tertutup dengan wajah cool nya 

Pelatih pun mendatangkan mereka untuk memberikan semangat untuk acara olahraga nanti, Tim mereka sudah juara umum 3 kali berturut-turut maka dari itu pelatihnya optimis bahwa tim akademik mereka akan memenangkannya kembali.

Setelah  berbincang-bincang, semua tim basket serta pelatih pun bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing karena langit semakin gelap menunjukkan jam setengah 8 malam. Pelatih, seseorang yang terakhir mengunci pintu Gymnasium, sesaat itu beliau mendengar suara dentuman membuatnya berhenti sebentar memastikan apa dia salah dengar atau tidak

Merasa semuanya sudah aman, Pelatih benar-benar mengunci gedung itu lalu meninggalkan Akademik yang gerbang sekolah sudah ditunggu oleh pak Satpam Akademik. 

Setelah tiba di rumah, Rolan masih kepikiran dengan sosok berwajah pucat yang dilihatnya di gymnasium. Pikiran tentang makhluk gaib itu terus menghantuinya, membuatnya merasa tidak nyaman. Dia naik ke lantai atas dan membuka pintu kamarnya, berharap menemukan sedikit ketenangan di sana.

Rolan duduk di tepi ranjang, merenungkan semuanya. Meski tubuhnya masih merinding, dia tahu harus tetap waspada dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dengan perasaan campur aduk, dia mencoba menenangkan diri dan bertekad untuk menghadapi semua ini dengan kepala dingin.

Mata Kematian [ SELESAI ]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang