Sasuke tidak menginginkan banyak hal dari gadis itu!
Ia hanya... hanya ingin dua anak...
Sasuke menggosok pelipisnya berharap itu akan mengurangi rasa sakitnya—tidak, bukan rasa sakit karena diabaikan Hyuuga melainkan karena omong kosong yang dilontarkan oleh Dobe. "–Sasuke, mungkin kau harus meninggalkannya sendirian?"
Cih, omong kosong.
Ia mendengus dan si pirang menghela napas. Sedikit yang si bodoh itu tahu, Sasuke sudah punya rencana yang siap dijalankan dan rencana itu bernama 'Mengalahkan Hyuuga sampai Hyuuga masuk ke dalam gua.'
"Dobe," Sasuke perlahan meletakkan cangkir di bibirnya. Mata Naruto mengerjap-ngerjap menatap temannya. "Siapa nama Hyuuga itu?"
Suara kursi yang menggebrak lantai memecah keheningan yang terjadi. "Apa?" Naruto berteriak. "Kau menguntitnya tanpa mengetahui namanya!"
Meskipun ia TIDAK 'menguntit' dan ia hanya 'mengikutinya' Sasuke mengangguk. Apa masalahnya? Bukan seperti ia perlu mengetahui namanya agar gadis itu bisa memberinya keturunan. Wajah Naruto terlihat memancarkan kemarahan. "Aku tidak akan memberitahumu!"
Mata hitamnya berputar dengan dingin saat temannya bergegas keluar. Sasuke menghembuskan napas sambil melihat kertas tagihan. "Meninggalkan aku dengan tagihannya," katanya lagi pada dirinya sendiri.
Ia berdiri tanpa menghiraukan pelayan yang meneriakinya untuk membayar. Satu kedipan matanya mengirim tagihan itu ke meja sang Hokage. Saat itu juga ide untuk menakut-nakuti Hyuuga muncul di benaknya.
.
.
.
Hinata duduk di hutan saat chakra yang tidak asing mendekatinya. Sebelum ia bisa lari, pria paling menyeramkan di seluruh Konoha—mungkin seluruh dunia Shinobi—menatapnya.
"Hyuuga," sapa pria itu. Hinata mengedipkan matanya beberapa kali. Ia telah menekan chakra-nya dengan menggunakan hampir seluruh kekuatannya dan ia juga telah mengganti parfumnya dengan parfum Sakura.
Namun di sinilah pria itu berada...
"Apa kau m-menguntitku?" tanya Hinata. Memikirkannya saja sudah membuatnya merinding.
Sasuke menggeram dalam hati, AKU CUMA MENGIKUTI! AKU TIDAK MENGUNTIT!
Ketika Sasuke tidak menjawab, Hinata segera berdiri dan mengernyit. "A-apa yang kau inginkan?" Ia tidak mengatakan 'tinggalkan aku sendiri' karena Hinata berharap itu sudah tersirat dalam pertanyaannya.
Sharingan menyala menatap Hinata. "Pertama, namamu," tuntut Sasuke lalu dalam hitungan detik Kekkei Genkai milik Hinata berkobar membalas tatapannya. Sasuke hampir merasakan Byakugan Hinata menantang Sharingan-nya. Sasuke tersenyum kecil. Lihatlah gadis itu, membuktikan dirinya sebagai ibu dari anak-anaknya.
Hinata mungkin akan memberitahu Sasuke—kemungkinan besar tidak—jika pria itu tidak aneh dan tidak mencoba untuk memasukkannya ke dalam Genjutsu. Ia menyipitkan matanya pada pria itu sebelum meninggalkan Uchiha dalam kepulan asap.
Sasuke jatuh telentang dan menatap Matahari yang perlahan tenggelam. Seandainya saja ia benar-benar aseksual.
Sasuke memejamkan matanya. "Seandainya saja," gumamnya. Tidak, mungkin saja Hyuuga hanya merasa jijik dengan ide untuk membuat anak! Iya 'kan, uh... Hitomi? Hikari? Ah persetan, apa Hyuuga tidak tahu kalau ada pilihan lain selain hubungan intim!?
Sasuke duduk dengan sebuah harapan baru. Naruto pasti akan bangga padanya. "Aku akan punya anak dengan Hyuuga," ia mengepalkan tangannya. "Itu adalah jalan ninjaku."
Apa itu penggunaan kata yang tepat? Tidak penting. Ia telah memiliki bagian kedua dari tujuan hidupnya yang harus dicapai!
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Taking A Hint
FanfictionDisclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto Story by Kia-B on Ffn Translated by Nejitachi
