"K-kita tidak..." Hinata memainkan kedua telunjuknya—kebiasaan yang sudah tidak dilakukannya selama bertahun-tahun—saat ia menggeser berat badan pada salah satu kakinya. "ano... pacaran."
Sasuke menyilangkan kedua lengannya. "Ya. Kita pacaran."
"K-kita... tidak pacaran." Hinata membantah.
Alis gelap Uchiha Sasuke terangkat. "Apa yang tak kau pahami?"
Hinata mengepalkan tinjunya. "Kau," bisiknya kasar pada Sasuke. "Aku tidak... menyukaimu!" Sejujurnya, ia seperti sedang berbicara pada tembok. Hinata gusar. "Aku tidak ingin bersamamu."
Sasuke mengusap dagunya dengan serius sebelum melangkah mendekati gadis itu. "Kenapa?"
Hinata mengerjap saat melihat Sasuke mendekat ke arahnya. "K-kenapa?" ulang Hinata. Sasuke mengangguk. "K-kau menguntitku."
Sasuke mengertakkan gigi. Mengikuti! Itu bahkan bukan tindakan menguntit! Ia kembali menyilangkan kedua lengannya.
"D-dan kau jahat," Hinata mengangkat tangannya dan mulai menghitung. "Egois, s-suka memaksa, mesum dan... dan..." ia terhenti saat Uchiha itu pada dasarnya membayangi ruang pribadinya. "...dan..." Hinata meletakkan tangan di dadanya.
Pipinya memerah. "K-kau tidak menghargai ruang pribadiku," pungkas Hinata.
"Aku tidak menguntitmu," Sasuke meraih dagu Hinata. "Aku memang egois dan suka memaksa, tapi aku tidak mesum," koreksi Sasuke. Ia bisa merasakan panasnya pipi Hinata di bawah tangannya. "Aku tidak menghargai banyak hal dan ruang pribadimu bukan pengecualian."
Hinata mencengkeram pergelangan tangan Sasuke. "Tapi–"
"Tapi aku bersedia berkompromi," potongnya. "Aku akan menunggu di gerbang bersamamu sampai timmu tiba, hm?"
"H-hai." Hinata berbisik. "T-tapi aku tidak meminta kau melakukannya!"
Sasuke menarik tangannya dari dagu gadis itu. "Kau tidak perlu memintanya." Ia menyilangkan kedua lengannya. Hinata kehilangan kata-kata saat ini, tapi tidak masalah karena Kiba, Akamaru dan Shino sudah mendekati gerbang.
Sasuke mengangkat tangannya dan menepuk kepala Hinata. "Kita bicara lagi nanti," dengan itu ia berjalan pergi dan melewati Tim Delapan dalam diam.
"Sial, apa-apaan itu tadi?" Kiba menggaruk pipinya. Hinata mengangkat bahu sebelum merapikan tasnya. "Baiklah, ayo berangkat, teman-teman!"
.
.
.
Hinata adalah orang yang tidak bisa tidur nyenyak dan bahkan lebih paranoid ketika mereka harus mendirikan kemah di luar. Tidak aneh jika ia terbangun di tengah malam.
Tapi chakra yang selalu ada di luar tendanya...
Hinata melihat garis besar tubuh sosok itu dengan Byakugan-nya dan memutuskan lebih baik menghadapinya di tempat terbuka daripada di tendanya. Meraih jaketnya, Hinata membuka ritsleting tenda dan di sana sosok itu bersandar pada pohon terdekat.
Mata Hinata melirik ke arah tenda yang lain. Apa Kiba dan Shino tidak merasakannya atau hanya mengabaikannya? Sosok itu berjalan mendekatinya secara perlahan, menghilang di antara bayang-bayang saat bergerak. "Aku tidak bisa menahan diri," akunya.
"K-kenapa? Maksudku..." Hinata menggosok matanya karena kelelahan.
"Aku melupakan ini," sosok itu memegang dagu Hinata lagi dan menempelkan bibirnya ke pipi putih gadis itu.
Hinata menarik diri dengan cepat. "H-hentikan," ia menyeka wajahnya. "K-kau tidak bisa begitu saja memaksa orang lain melakukan hal itu."
Alis sosok itu menukik karena kesal. "Begitu ya," gerutunya sebelum meletakkan tangannya di pundak Hinata.
Hinata mengerjap menatap orang aneh itu. "Ano... U-Uchiha-san?"
"Sasuke," kata sosok itu padanya.
Hinata menutupi wajahnya. "A-apa..." Pewaris Hyuuga itu terhenti saat bibir Sasuke menyentuh pipinya. Membeku, suara Hinata pecah, "...apa yang kau lakukan?"
Sasuke menyeringai. "Berkompromi," katanya langsung di telinga Hinata.
"O-oh..." hanya itu yang bisa terlintas di kepalanya. Hinata benar-benar ingin mendorong Sasuke pergi tapi ia terjebak. Sangat terjebak. Pikirannya melakukan hal yang tidak sesuai dengan instruksi tubuhnya.
Sasuke menangkup pipinya. "Aku tidak memaksamu, kan?"
"Aku..." Sesuatu pasti masuk ke matanya karena Hinata tidak bisa secara fisik menjaga matanya tetap terbuka saat pria itu semakin mendekatinya.
"Hinata, bangun!"
Tersentak bangun, kepala Hinata berbenturan dengan kepala Kiba.
Keras.
Hinata memegangi dahinya dan berguling. "K-Kiba-kun!" pekiknya.
"Ada apa?!" Kiba mendarat di atas wajahnya. "Kau mimpi apa?"
Rona merah di wajah rekan satu tim mereka memberi Shino gambaran yang cukup jelas tentang siapa yang ada di dalam mimpi Hinata.
.
.
.
Ketika Tim Delapan tiba di gerbang, mereka, atau hanya Hinata, disambut oleh pemandangan Uchiha yang bosan dan yang mengejutkan semua orang, Hinata langsung berlari pulang begitu menginjakkan kaki di Konoha.
Sasuke mengerutkan keningnya pada kedua pria dan seekor anjing itu. "Apa yang kalian lakukan padanya?"
Shino mengerjapkan matanya dan terus berjalan, namun Kiba menggeram pada Uchiha yang sedang marah. "Kami tidak melakukan apa-apa! Dia baik-baik saja sampai dia melihat wajah bodohmu!" tunjuknya.
"Bodoh," gumam Sasuke.
Kiba gusar. "Dan kenapa itu penting? Terlebih lagi, kenapa kau menunggu kami?"
Sasuke memasukkan tangannya ke dalam saku. "Aku tidak akan menunggumu sekalipun itu di neraka," ia berbalik dari si pengendali anjing itu. "Dan Hinata adalah pacarku."
Suara Kiba yang jatuh tersungkur membuat hari Sasuke menyenangkan.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Taking A Hint
FanfictionDisclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto Story by Kia-B on Ffn Translated by Nejitachi
