Ketika masih kecil, Hinata pernah diceritakan kisah tentang seorang damsel yang terjatuh dan pangeran menawan yang menyelamatkannya pada saat yang tepat.
Yah, dirinya bukanlah seorang damsel dan Sasuke jelas bukan tipe pangeran.
Lelaki itu hanya berdiri di atasnya dengan tatapan apatis. "Kau jatuh."
Hinata hanya menatapnya. Mungkin Sasuke bermaksud membuat salah satu dari sedikit orang baik di Konoha ini tidak menyukainya. Oh, dan cinta? Sasuke ingin ia jatuh cinta padanya? Hinata bahkan tidak mengenalnya, apalagi ingin mengenalnya. Sasuke telah secara terang-terangan menguji emosinya dan itu berhasil. Namun, saat-saat ini adalah saat-saat yang aneh di mana Hinata mengingat Neji.
Neji pasti akan memarahinya karena bersikap begitu rentan di hadapan seorang Uchiha. Hinata mendorong rasa panas di belakang matanya ketika sebuah lengan bergerak di bawah lutut dan lehernya. Sebelum dapat menyadari apa yang sedang terjadi, ia telah berada di dalam rumahnya.
Lelaki Uchiha itu menjatuhkannya di atas sofa begitu saja. "Kau bisa bicara?" tanya Sasuke. Alisnya berkerut karena kesal.
Hinata mengangguk. "H-Hai," ia melihat Sasuke melalui poni tebalnya. Sasuke mengangguk singkat sebelum duduk di sampingnya. "U-Uch–"
"Sasuke," koreksi Sasuke. "Aku mengerti solusiku terlihat berat sebelah. Tapi jika kau mengijinkanku untuk menyelesaikan seluruh kalimatku, kau bisa saja terhindar dari tanah."
Hinata melirik ke arah Sasuke dengan mata menyipit. "Aku t-tidak peduli."
Sasuke tidak terlihat terganggu. "Di kejadian-kejadian berikutnya saat kau jatuh cinta padaku, aku akan berusaha menyukaimu."
Seluruh kalimat itu membuat wajah Hinata menjadi masam. Bagaimana bisa adil, jika ia mempertimbangkannya, kalau ia harus mencintainya sementara Sasuke hanya harus menyukainya?
Sasuke menoleh padanya dengan sangat serius. "Hinata, mulai hari ini kau adalah pacarku."
Mata Hinata membelalak. "T-tidak!" Ia mengatupkan kedua tangannya. "Sasuke-san, aku benar-benar... benar-benar tidak menyukaimu!"
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau akan belajar untuk menyukaiku," yang lebih mengerikan lagi, Sasuke menempelkan pipinya pada bibir Hinata yang bergetar. "Sudah resmi. Sampai jumpa." Dengan itu ia berdiri, melambaikan tangan malas dan pergi.
Hinata menatap ke arah pintu dan mendekatkan tangan ke bibirnya. Apa-apaan itu tadi? Tidak. Serius! Apa Sasuke benar-benar berpikir ciuman– Tidak! Sasuke tak boleh berpikir bahwa bibir yang menempel pada kulit berarti hubungan sepihak mereka sudah resmi?
Tidak. Ini Uchiha Sasuke, bukan anak berumur lima tahun. Mengambil lengan jaketnya, Hinata mulai menyeka bibirnya dengan kasar dari DNA Uchiha yang tertinggal. Mengeluarkan erangan frustasi, Hyuuga merebahkan dirinya ke tempat tidur dan wajahnya tertanam keras di atas bantal.
Kenapa ia tidak langsung men-Juuken-nya saja tahun lalu ketika mereka tidak saling bicara, dan betapa indahnya saat-saat itu...
Tunggu, itu pertanyaan yang bagus. Tidak ada yang ingin ia nikmati... sekarang, besok... atau selamanya. Tidur nyenyak di malam hari akan membuatnya lebih sehat... dan waras.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Taking A Hint
FanfictionDisclaimer: Naruto by Masashi Kishimoto Story by Kia-B on Ffn Translated by Nejitachi
