Mata biru

4.8K 526 18
                                        



*****

Cahaya remang dari pantulan cahaya bulan tepat diatas langit nemorosa mulai nampak. Malam telah datang menjemput.

Awan gelap sedikit menghiasi langit tanpa bintang malam ini.

Iris sebiru lautan itu akhirnya nampak ketika sang pemilik mulai mengerjapkan matanya.

Setelah tidur seharian, akhirnya renjun mulai terusik dari tidurnya. Ia membawa tubuhnya yang terasa lemah untuk bangun dengan pelan.

Mata teduh namun terlihat kosong itu menatap sekitarnya yang nampak asing dimatanya. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia tertidur disini.

"Jeno"

Satu nama yang tiba-tiba hinggap dalam ingatannya ia panggil secara spontan. Ia mengingat nama itu.

"Jeno" panggil renjun pelan, ia tak tahu ini dimana dan ada dalam otaknya pertama kali adalah jeno. Yang ia ingat hanyalah jeno.

Menyingkap selimut yang menutupi kaki mungilnya, turun dari ranjang besar itu dengan perlahan, kakinya terasa perih.

Renjun menunduk, melihat kebawa, kakinya tenggelam oleh perban berwarna putih tulang yang membalut hampir seluruh permukaan kakinya. Ia tak ingat mengapa ia bisa mendapatkan luka ini.

Kedua tangannya juga sama, terbalut perban tipis yang menampakkan rona merah, itu darahnya yang masih agak basah.

Renjun berjalan pelan setelah berhasil keluar dari kamar, menyusuri lorong panjang yang renjun tak tau ini dimana, begitu banyak lentera dan penerang yang berjejer disetiap dinding batu besar.

Kakinya dingin menapak lantai keramik kuno berwarna mahogany. Meski berbalut perban, namun renjun masih bisa merasakan seberapa dingin lantai itu menusuk kakinya.

Matanya bergerak gelisah mencari seseorang yang ia sebut namanya. Udara semakin terasa dingin, lorong panjang semakin terlihat gelapnya. Sebenarnya ini dimana?

Ia hanya mengenakan kemeja kebesaran dengan celana yang begitu pendek, ia takut tapi ia juga tak mau berdiam diri sendirian didalam kamar yang ia tak tahu kamar siapa.

"Jeno~" panggilan itu kembali terdengar di tengah keheningan malam dan kesunyian lorong istana.

"Jeno dimana!" Suaranya mulai bergetar dengan keras.

"Jeno! Renjun takut hiks...Jeno!" Matanya memburam karena air mata, renjun asing akan tempat ini dan jeno menghilang.

"Hei"

"Aaa!" Tepukan dan suara dibelakangnya membuat renjun reflek berteriak, dengan cepat ia menghindar saat melihat orang asing kini melihat kearahnya. Renjun begitu ketakutan.

"Tenang...jangan takut. Aku bukan orang jahat, kau mencari jeno?" Tanya jaemin.

Ternyata yang menemukan renjun adalah jaemin, tadi ia memang ingin kekamar jeno untuk melihat apakah pemuda itu sudah bangun atau tidak, dan ternyata dia sudah bangun dan mungkin mencari keberadaan jeno.

Jaemin terlalu bersemangat menghampiri saat melihat siluet yang tak asing baginya, ia hanya terlalu senang dan ingin berkenalan dengan mate adik iparnya.

Tapi mungkin ia salah langkah sehingga membuat pemuda yang lebih mungil darinya sampai ketakutan.

Jaemin tidak tahan, bagaimana tubuh mungil itu hanya terbalut kemeja besar yang pasti itu milik si bodoh jeno, dan lagi dia pastilah kedinginan.

Jaemin memperhatikan dengan lekat, mata itu begitu cantik, berwarna biru dengan binar bintang kecil di dalamnya.

Jaemin terkekeh kecil, wajah menangis itu kenapa terlihat sangat lucu, pipinya gemuk sedikit merona mungkin karena cuaca yang dingin.

Wolf / NoRenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang