Takdir Yang Terputus

3.7K 419 62
                                        



Ruangan bernuansa klasik yang remang karena lentera itu hanya ditemani senyap yang terasa begitu menyesakkan. Tak ada satu katapun yang berani renjun keluarkan disaat jeno bahkan tak berbalik melihatnya.

Jeno berdiri, menghadap tirai yang membentang luas. Memperhatikan bagaimana indahnya gambar dirinya bersama dengan sang permaisuri yang selama ini begitu ia cintai.

"Jeno--"

"Mengapa kau melakukannya renjun"

Belum juga renjun berbicara namun jeno langsung menyelanya.

"Katakan dengan jujur renjun, apa itu benar?" Jeno bertanya dengan serius.

Renjun menggeleng lemah, mengapa jeno percaya akan hal itu "Aku tidak melakukan apapun kepada karina" renjun berani bersumpah, ia tak melakukannya.

"Tapi pelayan itu mengatakannya--"

"Kau mempercayai perkataannya? aku adalah istrimu, bukan baru sehari kau mengenalku jeno, aku bahkan tak menyentuh minuman karina"

Jeno berbalik, matanya menyimpan segala bentuk emosi yang terpendam, antara marah, kecewa namun juga enggan percaya.

"Aku tidak akan percaya jika tak melihat keadaan karina yang saat ini seperti berada di ambang kematian"

"Aku tidak pernah sekalipun melakukan hal sekeji itu jeno, untuk apa aku melakukannya--"

"Karena kau merasa cemburu!"

Langkah renjun terhenti saat ingin menghampiri jeno, teriakan nyaring itu membuatnya tersentak.

Renjun memandang dengan wajah sembab juga luka. Apa jeno tak percaya kepadanya?

Meskipun ia mengakui bahwa ia merasa cemburu, namun tak sekalipun terbesit dalam benaknya bahwa ia akan menghilangkan nyawa seseorang. Ia tak segila itu.

"Aku tidak melakukannya, untuk apa aku harus repot membunuh wanita itu" renjun mulai terbawa arus. Ia tak suka jika tatapan jeno terlihat menuduhnya. Ia tidak akan sekotor itu.

"Tapi karina sekarat--"

"Lalu aku harus apa~ hiks...Aku harus mengakui kesalahan yang sama sekali bukan aku yang melakukannya?!" Renjun menggeleng. Ia tak bisa.

Jeno menarik nafas dengan kasar, matanya berubah memerah. Alphanya merasa terhina aat renjun berteriak di depannya.

"Jangan berteriak di depanku--"

"Aku tidak membunuh jalang itu!!--"

Plak.....

Renjun terdiam, nafasnya tercekat dengan tubuh menegang. Tangannya terangkat untuk memegang pipinya yang terasa perih dan kebas.

Jeno baru saja menamparnya demi wanita itu?

Jeno menunjuk wajah basah yang kini menatapnya dengan luka.

"Jangan pernah mengotori nama kekasihku dengan mulutmu, hari ini kau benar-benar melampaui batasmu permaisuri"

Dengan semua ucapan yang keluar dari mulut jeno, dengan itu pula renjun telah terjatuh begitu keras menghantam kenyataan pahit.

Ia di bentak bahkan di lukai hanya karena ia berusaha membela diri dan melampiaskan amarahnya.

"J-jeno--" bahkan suaranya tak bisa keluar dengan benar saat jeno menariknya dengan kasar.

Jeno menarik renjun agar mendekati satu benda yang selama ini begitu renjun jaga. Menunjuknya dengan pedang yang ia bawa.

"Kau lihat gambar itu?" Jeno menunjuk tirai besar yang terdapat gambarnya dengan permaisurinya.

Wolf / NoRenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang