penguasa celestia

3.4K 386 16
                                        

Masih pada perihal yang sama, renjun sebisa mungkin menghindari jeno ketika bertemu, kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya begitu ketakutan ketika melihat sang alpha

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Masih pada perihal yang sama, renjun sebisa mungkin menghindari jeno ketika bertemu, kejadian beberapa hari yang lalu membuatnya begitu ketakutan ketika melihat sang alpha.

Renjun baru saja selesai membersihkan diri, dibantu oleh seungmin juga beberapa pelayan yang setia menemaninya. Memakaikan piyama satin transparan berwarna merah muda. Seungmin tersenyum, meski hanya terbalut pakaian tidur,  tapi permaisuri renjun masih terlihat cantik.

"Sudah selesai" ucap seungmin. Ia merapikan tempat tidur renjun kemudian menyalakan lilin aroma terapi. Kebiasaan renjun setiap ingin menjemput mimpi maka aroma terapi haruslah di nyalakan.

Tiba-tiba pintu kamar renjun terbuka, membuat semua pelayan juga renjun menatap pada pintu kamar.

Disana, jeno yang berdiri dengan tatapan datar.

Para pelayan juga seungmin sontak membungkuk hormat ketika melihat yang mulia jeno datang ke paviliun milik permaisuri.

"Aku ingin berdua dengan permaisuri, kalian boleh keluar" ucapan dari tuan jeno langsung diangguki oleh para pelayan juga seungmin, mereka pamit untuk keluar.

Kini hanya tersisa mereka berdua, menyisahkan ruang yang sesak juga sunyi bagi renjun. Kecanggungan itu seakan mendominasi disaat untuk pertama kalinya jeno kembali menginjakkan kaki pada paviliun miliknya.

jeno berjalan melewati renjun, mengambil tempat pada sisi tempat tidur. Tatapannya mengarah pada sang permaisuri yang kini menatapnya pula. Jeno memberi isyarat agar renjun mendekat, agar ikut berbaring didekatnya.

Meski takut, renjun tetap menuju tempat tidur dimana jeno kini melepas jubahnya, dan hanya menyisahkan pakaian tidurnya saja.

Renjun berbaring dengan nafas yang memberat, jantungnya berdetak dengan kuat.

Jeno menghela nafas ketika melihat renjun menjaga jarak dan berbaring membelakanginya.

Jeno dengan pelan menarik renjun kedalam dekapannya. Tubuh mungil itu tersentak kecil.

Renjun ketakutan saat merasakan jeno memeluknya. Ia masih takut dengan jeno.

Tak ada suara yang mengisi ruang mereka, hanya ada lilin sebagai penerang di paviliun mawar itu.

Jujur saja jeno begitu merindukan renjun, merindukan suara permaisurinya, merindukan tingkah dan senyum itu.

"Aku merindukanmu" ucap jeno.

Renjun memejamkan matanya, kata rindu itu seperti menusuk dadanya hingga terasa nyeri.

Ia hanya mampu memejamkan mata ketika pelukan jeno terasa semakin erat melingkupi tubuhnya. Jika boleh jujur, iapun juga sama rindunya. Bahkan jauh lebih merindukan jeno.

"Aku telah berbuat kasar kemarin, membuat jarak kita semakin terbentang, aku telah membuatmu takut kepadaku, maafkan aku"

Renjun meremat bajunya tanpa sadar.

Wolf / NoRenTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang