Watch Together

27.4K 1.9K 40
                                        

Tak terasa kini sudah jam lima sore dan Rio masih di tongkrongan VOXID.

Dia planga-plongo ketika pipinya dicubiti dan dimainkan oleh sekumpulan cowok yang mengaku sebagai teman sekaligus anak buahnya sejak satu jam yang lalu.

Atlas sudah mencoba untuk menghentikan mereka, tapi Eval dan Rhino telah bersekongkol menghalang-halanginya. Alasannya? Karena mereka berdua termasuk pihak yang ikut mencubiti pipinya.

"Emang boleh segemes ini, Boss?" Ucap salah satunya.

"Emang boleh, emang boleh, jelas boleh lah bjir!" tanggap Eval dengan suara cemprengnya.

"Maaf, udahan nyubitnya, ya? Sakit," ucap Rio dengan senyuman paksanya, yang tetap terlihat lucu.

"Wah, gue makan gula sekarung kayaknya kalah manis sama si Boss," ucap Eval heboh.

Yang lain bersorak menyetujuinya kecuali Atlas, Azri, Irfan, dan Nasrul. Bukan karena mereka tidak setuju bahwa Rio itu manis, tetapi karena Atlas, Azri, dan Irfan bukanlah tipe cowok yang heboh dan alay, sedangkan untuk Nasrul adalah karena ia sedang sakit gigi. Jika tidak dalam keadaan sakit gigi ia akan menjadi sekutu Eval dalam hal berisik dan mengganggu ketenangan.

Akhirnya mereka pun berhenti mencubiti pipi Rio yang sudah memerah.

"Agak bosen, nih. Mending nobar horor gak sih gaes?" tanya Satya selaku member termuda VOXID.

Di tongkrongan VOXID memang ada proyektor yang sering mereka gunakan untuk nobar film. Mereka setuju dengan ide Satya untuk menonton film horor, mumpung rame dan camilan sedang tersedia melimpah karena sudah di restock siang tadi.

Sebagian mereka ada yang mulai menyiapkan seperangkat alat nobar, ada mengambil camilan di etalase, dan ada pula yang menyiapkan bantal serta selimut, kebetulan cuaca sedang dingin, sedangkan motif utama adanya selimut adalah guna menutupi wajah untuk yang merasa takut atau terkena jumpscare.

Tongkrongan itu memiliki ruangan yang luas, terutama ruang utama yang sedang mereka gunakan untuk nobar ini, selain itu ruangannya juga bersih dan nyaman, terkesan seperti rumah.

Anggota VOXID yang saat ini berkumpul ada 50 orang. Mereka duduk di atas karpet berbulu yang tebal dan duduk agak merapat dengan menjadi 5 baris yang masing-masing baris berisi 10 orang.

Rio, Eval, Rhino, dan Satya berada di baris paling depan. Sedangkan Atlas, Azri, Nasrul, dan Irfan berada di paling belakang.

Eval sudah melapisi dirinya dengan selimut yang paling tebal dan duduk lebih merapat pada Rio yang berada di posisi tengah antara dia dan Rhino. Sebenarnya dia lumayan takut nonton film horor dan gampang kaget dengan jumpscare.

"Eh, Boss, lo gak takut film horor kan?" tanya Eval memastikan.

"Tidak," jawab Rio.

Dia memang tidak takut film horor di kehidupan pertamanya, dan di kehidupan kedua ini tetap akan sama saja.

Film pun di putar. Suasana yang gelap karena lampu dimatikan serta hawa yang dingin semakin memberikan sensasi tersendiri dalam nobar horor kali ini.

Di pertengahan film mulai ramai dengan teriakan mereka dan jumpscare yang sering muncul dengan backsound yang membuat merinding.

Rio fokus menonton dengan ekspresi seakan dia sedang menonton kartun.

Eval lebih sering menutupi wajahnya dan berteriak sambil sesekali secara refleks meremas tangan Rio karena takut, bahkan matanya sudah berkaca-kaca seperti ingin menangis.

Jujur, Rio agak kasihan melihatnya.

"AAAA!!"

"ANJIR! ANJIR! SETANNYA GAK SOPAN MAIN MUNCUL AJA!!"

"BERISIK VAL!!"

"BODO AMAT!!"

"HUAAA BUNDAAA!!"

Nyaris semuanya ribut dan ketakutan kecuali Rio, Atlas, Azri, Nasrul, Irfan, Satya dan beberapa anggota lainnya.

Sekian menit berlalu film mulai memasuki adegan yang hening dengan slow action yang menegangkan. Eval mengintip dari celah selimut sambil menggenggamnya erat.

Dan sekali lagi mereka terkena jumpscare hingga berbarengan menutupi seluruh tubuh dengan selimut diiringi teriakan membahana mereka yang didominasi suara Eval.

BRAKK!!

"WOI ANJ-"

"APAAN TUH?!"

"SETAANNN!!"

Suasa makin tidak kondusif dengan mereka yang bergelung selimut sambil bergerak-gerak acak, saling menendang dan memukul satu sama lain.

Atlas menghela nafas ketika suasana nobar ini justru terlihat seperti tawuran orang gila. Ia dan anggota VOXID yang 'waras' serentak menoleh ke arah pintu yang dibuka kasar dan melihat Zilar serta Kendrick di ambang pintu.

Zilar melongo melihat kekacauan yang tengah terjadi. Tapi tiba-tiba ia menyeringai licik sambil mengendap-endap mendekati Eval yang masih teriak-teriak. Ia mengisyaratkan Rio agar diam dan denga polosnya Rio hanya menurut.

Zilar tertawa jahat dalam hatinya dan dengan perlahan menyentuh bahu Eval dan menekannya hingga membuat Eval semakin menggila karena mengira itu adalah hantu. Secara refleks pula ia menendang bebas yang ternyata tepat menendang di kaki Zilar sekuat tenaga hingga membuatnya terhuyung dan jatuh seketika.

"Weh bego, main tendang-tendang aja!" teriaknya.

"Setan goblok! Tolol! Pergi sana bajingan! Jangan deketin gueee!!"

"DIEM SEMUA!!" teriak Irfan setelah menyalakan lampu, dan dia sudah muak dengan keributan itu.

Mendengar teriakan tegas Irfan membuat mereka serentak diam dan menyingkap selimut yang melilit tubuh mereka.

Irfan lalu mematikan proyektornya juga.

Sekarang suasana sudah tenang dan sedikit sunyi.

Kendrick mendekati Rio dan menariknya berdiri sambil berkata, "Pulang."

Rio mengangguk dan menoleh sebentar kepada yang lainnya sambil berkata, "Rio pulang dulu, ya. Eval, maafin Kak Zilar yang udah usilin kamu tadi."

Eval menelan ludah dan wajahnya sudah merah serta berantakan dan berkeringat. Ia belum sepenuhnya konek dengan keadaan karena masih tremor.

Rio melambaikan tangannya dan keluar dengan digandeng oleh Kendrick keluar dari sana. Zilar berdiri dan memandang ke arah Eval sambil tersenyum mengejek, "Takut banget, ya, dek? Wkwkwk."

Eval melotot dan melempar Zilar dengan toples plastik kecil, "Awas lo, gue bales sampe masuk UGD biar kapok lo, bangsat!"

Zilar menjulurkan lidahnya mengejek lalu keluar menyusul kedua saudaranya.

Dalam perjalanan pulang Rio tertidur di dalam mobil.

"Bang, mending bawa balik ke apartemen gue aja. Gue lagi males liat muka Daddy, biar dedek Riri bisa istirahat tenang juga," usul Zilar.

"Hm," balas Kendrick dengan deheman singkat.

"Buset, dingin amat, wir." Sindir Zilar yang tidak mendapat balasan apapun dari Kendrick.

GHALI (HOLD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang