"Hoamm~" Lino menguap sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
Sekarang baru jam 7 malam, tetapi Lino sudah merasa sangat mengantuk sehingga tanpa sadar dia tertidur.
Sementara itu Ghali masih sibuk di dapur, memasak makan malam. Walau di kantor dia adalah boss besar, tapi di rumah dia adalah seorang bapak rumah tangga, anggap saja begitu.
Ketika makanannya sudah hampir siap disajikan, Ghali berteriak memanggil Lino untuk makan malam. Sudah tiga kali dia berteriak namun tidak mendapat respons apapun, jadi dia pergi untuk melihatnya.
Sampai di ruang tengah dia melihat Lino yang tertidur dengan posisi duduk bersandar di sofa. Pemuda itu menggelengkan kepalanya dan terpaksa membangunkannya agar tidak melewatkan makan malam.
"Lino, bangun!"
"Em."
"Makan malam," ucap Ghali sambil mengguncang bahu Lino.
Mata Lino perlahan terbuka dan berkedip-kedip.
"Huh? Paman udah selesai masaknya?"
"Sudah," balas Ghali sambil mengangguk.
Lino menguap sekali lagi lalu mengikuti Ghali ke dapur.
Karena hanya ada dua orang, Ghali membuat makan malam dengan porsi sedang. Keduanya makan dalam diam dan Lino langsung pergi ke kamar setelah selesai makan.
Ghali tidak pergi ke kamarnya, lagipula ini belum memasuki jam tidurnya, maka dari itu dia duduk di ruang tengah untuk menonton televisi.
Ding! Dong!
Bunyi bel yang datang membuat dahi Ghali mengkerut. Pikirnya, siapa yang datang malam-malam begini?
Ketika dia membuka pintu, ternyata yang datang adalah Dirga. Pria itu datang dengan pakaian kasual.
"Boss, maaf menganggu malam-malam. Ada hal yang ingin saya bicarakan."
"Masuk dulu, ayo."
Keduanya masuk dan duduk berhadapan di sofa ruang tamu.
"Aku akan membuatkan minuman dulu, kamu ingin minum apa?"
"Ah, Boss, tidak perlu repot-repot."
"Dirga, saat diluar pekerjaan tidak perlu perlu bersikap formal, panggil saja aku dengan namaku."
"Maaf, saya sudah terbiasa."
"Oke, oke, senyamanmu sajalah."
Setelah itu Ghali pergi ke dapur untuk mengambil minuman, sementara Dirga duduk sambil mengotak-atik ponsel pintarnya.
Ghali kembali dengan dua gelas teh hangat. Dia memberikan satu gelas untuk Dirga, sisanya untuk dirinya sendiri.
"Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Boss, sepertinya perusahaan tambang milik Arya melakukan korupsi."
"Kenapa kamu berpikiran begitu?" tanya Ghali heran.
Wajah Dirga semakin serius. "Boss, kita menginvestasikan saham cukup besar di sana. Seandainya dugaan saya ini benar, kita akan mengalami banyak kerugian."
Ghali menghela nafas. Kenapa dunia ekonomi begitu rumit?
"Kita adakan rapat lusa, aku rasa aku akan memutuskan kerja sama ini. Sepertinya belum terlambat. Apakah ada pihak selain kita yang mengetahui ini?"
Dirga menggeleng. "Boss, saya baru menyelidikinya tadi siang karena merasa ada yang janggal dengan laporan keuangannya, dan inilah yang saya temukan."
Punggung Ghali menyandar pada sofa. Kira-kira kapan dia bisa pensiun? Eh, tapi nanti siapa yang akan meneruskan perusahaannya?
Mata Dirga begerak memperhatikan Ghali kemudian berkata, "Boss, sepertinya Anda butuh liburan."
Ghali meluruskan punggungnya dan senyuman lebar menghiasi wajahnya. "Itu ide yang bagus! Kenapa aku tidak memikirkannya."
"Em," gumam singkat Dirga sambil meminum tehnya.
"Ngomong-ngomong, kapan kamu akan menikah?"
"Uhuk!"
Dirga tersedak ketika mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Ghali. Sedangkan oknum yang menjadi tersangka justru menertawakannya.
"Hei, aku hanya bertanya dengan santai."
"B-bukan begitu! Saya, saya..."
"Tidak perlu menjawabnya jika kamu tidak merasa nyaman."
Bibir Dirga terkatup. Menikah? Gebetan saja dia tidak punya.
"Maaf kalau saya lancang, tapi Anda sendiri kapan akan menikah? Tidak perlu dijawab jika Anda tidak nyaman." Tanya Dirga dengan kalimat akhir mengutip ucapan Ghali.
Satu alis Ghali terangkat. Sejauh ini, dia belum pernah jatuh cinta atau merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis. Satu-satunya wanita di dunia ini yang dia cintai adalah Abel, ibunya.
"Entahlah, aku tidak tahu. Oh, lalu bagaimana dengan kabar adikmu?"
"Keadaannya semakin membaik, mungkin jika ada waktu luang saya akan menjenguknya."
"Seharusnya kamu meminta cuti kepadaku, kenapa harus menunggu waktu luang yang mungkin sulit kamu dapatkan."
Dirga tertegun. Dia tahu Ghali orang yang baik, tetapi Dirga juga tipe orang yang tidak enakan dan menjaga profesinalitasnya dalam bekerja.
"Itu tidak perlu," jawab Dirga. "Libur tahun baru nanti saya bisa pergi kesana."
"Baiklah, baiklah, aku akan ikut denganmu. Aku juga sudah lama tidak melihatnya."
Senyuman tipis terpatri di wajah Dirga.
Karena penyakit tuberkulosis yang diderita adiknya cukup serius Dirga membuat keputusan untuk membiarkan adiknya menjalani perawatan di Singapura. Ia selalu sibuk bekerja untuk membiayai pengobatan sang adik dan untuk kebutuhan hidup sehari-hari, jadi ia jarang punya waktu untuk menjenguknya. Dalam dua minggu ia hanya bisa mengunjunginya sebanyak 2 atau 3 kali saja.
"Jika adikmu sembuh mungkin kamu bisa menjodohkannya dengan Lino. Dia mungkin orang yang menyusahkan dan menyebalkan, tapi aku menjamin dia dapat menjaga adikmu."
"Boss, dia baru kelas sepuluh SMA," ucap Dirga masam.
Ghali tertawa dan berkata, "Maksudku, di masa depan nanti. Kupastikan Lino tidak akan memiliki pacar sama sekali sebelum bertemu dengan Kinan dan aku akan menjaganya agar tidak menjadi pemuda yang salah arah."
"Boss, Anda seperti seorang ayah bagi Lino ya."
"Ayah..."
Dia tiba-tiba teringat dengan almarhum ayahnya. Ayahnya adalah sosok pekerja keras yang jarang punya waktu di rumah, hal yang membuat hubungan Ghali dan ayahnya tidak begitu dekat, justru seperti orang asing walau Ghali masih menyayangi ayahnya.
"Sepertinya sudah semakin larut, saya pamit pulang dulu," pamit Dirga.
"Baiklah, hati-hati."
Ghali mengantarnya sampai depan gerbang rumah. Setelah kepergian Dirga ponsel milik Ghali berdering.
Saat melihat nama si penelepon, raut wajah Ghali berubah dan dia langsung menekan button hijau untuk mengangkat panggilan.
"Apakah ada informasi?"
"..."
"Hmm, temui aku besok sore di kantor."
"..."
Setelah itu panggilan ditutup.
•
•
•
"Keep your friends close, but your enemies closer." - Michael Corleone
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Novela JuvenilGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
