Lino

5.5K 388 9
                                        

Atmosfer di ruang kerja Ghali terasa mencekam bagi seorang remaja berseragam SMA yang duduk berhadapan dengan si pemilik ruangan. Ghali sebaliknya, terlihat tenang di permukaan, tetapi entah apa yang ia rasakan di dalam.

"Paman..." Lino membuka mulutnya, tetapi kembali terdiam seakan bingung ingin berbicara apa.

"Hm?" Ghali menanggapi dengan 'hm' dan mengangkat sebelah alisnya.

"Maaf."

Ghali berdiri, mengambil cermin kecil dari rak lalu menyerahkannya kepada Lino, "Lihat wajahmu."

Walau agak bingung tapi Lino tetap menurut. Saat dia berkaca tampaklah wajahnya yang bonyok.

"Bagaimana menurutmu? Apakah itu bagus?"

"Paman, gue—"

"Lino, sudah berapa kali Paman katakan padamu untuk tidak melakukan hal-hal yang membahayakan diri? Kamu baru masuk SMA dan sudah terlibat tawuran sampai bonyok begini."

Lino terkekeh canggung. Memang dasar sikapnya yang enteng atau dia tahu Ghali tidak akan marah besar padanya, jadi dia membuat alasan seadanya bahwa dia tidak sengaja terlibat.

"Mana ada nggak sengaja terlibat tapi ditangan kamu ada tongkat baseball. Yakin itu bukan senjata?"

Alasan Lino tertolak.

"Oke, oke, gue salah. Lagian gue juga baik-baik aja ini, cuma muka bonyok doang juga entar sembuh, Paman kagak perlu khawatir."

"Kamu ini—"

"Ini yang terakhir deh, maafin gue, oke? Nanti gue cariin janda— eh, cewek cantik maksudnya!"

Ghali menghela napas. Dia memaklumi kenakalan Lino yang sudah-sudah, tetapi dia tidak mudah untuk mentolerir kenakalan yang melibatkan keselamatan nyawanya.

"Sekali lagi Paman tahu kamu terlibat hal-hal yang membahayakan nyawamu, Paman akan memaksamu untuk sekolah di luar negeri bersama Gilden."

Mata Lino melebar dan wajahnya menunjukkan protes. "Mana sudi gue satu sekolahan sama si jamet klepon itu, amit-amit!"

Ghali menyeringai kesal.

Gilden Fascoz adalah anak dari rekan kerja Ghali yang berteman baik dengannya. Alasan kenapa Lino menyebutnya 'jamet klepon' adalah karena Gilden sangat menyukai klepon dan mengecat rambutnya dengan warna hijau klepon. Selain itu, sikap Gilden yang aktif, berisik, dan usil seringkali membuat Lino enggan berdekatan dengan radius kurang dari satu meter darinya.

"Lagipula sudah dua tahun kalian tidak bertemu," ucap Ghali.

"Dih, seumur hidup kagak pernah ketemu lagi juga malah bersyukur banget gue. Ngomong-ngomong, ini gue udah dimaafin kan, Paman?"

"Asal kamu tidak mengulanginya."

Dalam hatinya Lino bersorak gembira. Dia sudah menduga itu sebelumnya, dan benar saja, Ghali yang lemah lembut seperti itu mana mungkin akan memarahinya seperti ibu tiri dalam drama.

"Paman, gue laper. Ayok makan di kantin, gue yang bayarin."

Ghali melirik jam tangannya, sebentar lagi memang memasuki jam makan siang, jadi dia tidak menolak ajakan Lino.

Di dalam lift yang mereka masuki untuk turun ke lantai dasar ada 5 orang lain di dalam. Saat melihat Ghali mereka menganggukkan kepala dan tersenyum sopan yang dibalas Ghali dengan hal yang sama.

Seorang karyawati yang masih muda dengan seragam kantor ketat dan dandanan menor berdiri di sebelah Ghali dan meliriknya dengan tatapan minat. Ghali mungkin tidak menyadari karena sedang melihat ponselnya, tetapi Lino melihatnya dengan jelas.

GHALI (HOLD)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang