Zilar masih belum kembali dari kencannya dengan Lisa. Rio duduk sendirian di taman dan melamun, entah kenapa Kendrick seperti menjauhinya, sekarang pun dia tidak tahu dimana lelaki itu berada.
"Huh..." dia menghela napas.
Sementara di sisi lain bangunan sebelah Timur sepasang mata tengah menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dibilang hangat. Kendrick sudah mendapatkan apa yang dia mau, seluk beluk kehidupan Ghali yang kini menempati raga Rio.
Dari awal dia sudah menerima Ghali tanpa keberatan, bodohnya dia juga tidak tahu kenapa. Mungkin karena kebencian mendalamnya pada Rio?
Tapi sekarang dia merasa bimbang. Seperti ada yang mengganjal hatinya dan tidak akan terasa lega jika belum ditemukan pencerahannya.
Waktu terus berjalan tetapi Rio masih berada di tempatnya sejak dua jam yang lalu. Pikirannya masih berkelana ke mana-mana.
"Dedek, ngapain duduk di sini, mana sambil ngelamun."
"Kak Zilar? Sejak kapan di sini?"
Zilar tersenyum masam. "Dari tadi loh, kamu dipanggil nggak nyaut-nyaut. Ngelamunin apa sih?"
Pemuda itu duduk di sebelah Rio dan mengusap rambutnya.
Rio menggeleng.
"Oh iya, kamu masih mau sekolah? Kalo iya sekarang kita bicarain sama Bang Kendrick," ucap Zilar.
Ah, Rio baru ingat.
"Tapi dari tadi Rio nggak liat Kak Kendrick."
"Bang Kendrick mah jarang keluar rumah, paling di bangunan itu," jawab Zilar sambil menunjuk ke arah bangun di sebelah Timur.
Setelahnya Zilar membawa Rio untuk masuk ke rumah. Dia mungkin harus menelepon Kendrick, karena dia tidak berani asal pergi ke bangunan sakral itu.
Hampir sore ketika Zilar masih belum mendapatkan pesan balasan dari Kendrick yang dikirimnya tadi. Dia agak gelisah dan ingin pergi secara langsung ke bangunan Timur.
"Rio, kamu tunggu sebentar biar Abang panggil Bang Kendrick dulu, oke?"
"Iya."
Firasat Rio tidak enak. Semakin dia yakin jika Kendrick menghindarinya, dia sudah merasakan itu sejak dia kembali dari apartemen Zilar kemarin.
Apakah pemuda itu sudah mulai berubah pikiran? Dia sebenarnya tidak bisa benar-benar menerima Ghali, kan?
"Kenapa bisa seperti ini. Ghali pengen kembali seperti dulu," gumamnya.
"Tuan Muda, saya membuat pudding untuk Anda," ucap seorang maid sambil meletakkan sepiring pudding di hadapan Rio.
"Eh, makasih," ucap Rio dengan pipi memerah.
Maid itu tersenyum sekilas lalu pergi.
Rio mengambil sendok dan mulai mencicip rasa pudding itu. Manis.
Saat dia sudah makan beberapa sendok, ia merasakan tenggorokannya tercekat dan pernafasannya tidak stabil, perutnya juga mual dan kepalanya berkunang-kunang.
Dia mencengkram pinggiran sofa dan memejamkan matanya, mencoba menekan rasa sakit yang menyerangnya.
Pada akhirnya Rio kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur di lantai. Kesadarannya hilang.
"Rio Abang—"
Mata Zilar membulat melihat Rio yang sudah tergeletak di lantai. Dia bergegas maju dan mengguncangnya dengan panik.
"Rio! Rio!"
Tubuh itu agak dingin di tangannya. Ketika Zilar memeriksa pernafasannya, nafas itu sudah tidak ada lagi. Tangannya begerak cepat memeriksa denyut nadi Rio dan itu juga sudah tidak berdenyut lagi.
Tubuh Zilar gemetar.
"Rio..."
Rio-nya sudah tidak bernyawa.
End.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Roman pour AdolescentsGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
