Akhirnya tibalah hari dimana Ghali akan melakukan pertemuan kerja dengan Kendrick. Dia bersama Dirga datang 15 menit lebih awal dari jam temu yang telah disepakati.
Suara ketukan di pintu menandakan adanya seseorang yang datang dan meminta izin untuk masuk. Dirga dengan cekatan berdiri untuk membukakan pintu.
Kendrick datang bersama asistennya. Mereka mengangguk sekilas pada Dirga dan berjalan menuju sofa yang sudah ada Ghali di sana. Ghali mengamati wajah Kendrick, tidak banyak yang berubah, hanya saja auranya jauh lebih dingin daripada sebelumnya.
Mereka berjabat tangan lalu duduk berhadap-hadapan untuk memulai rapat. Namun, Ghali dari waktu ke waktu terus memperhatikan Kendrick yang tampak acuh tak acuh dan hanya menjawab sekenannya saja, membiarkan asistennya yang lebih banyak berbicara.
Kendrick sebenarnya menyadari itu, tetapi dia tidak terlalu menganggapnya serius.
"Jadi bagaimana? Apakah Tuan Kendrick merasa puas dengan pengajuan kerja sama yang kami tawarkan ini? Jika ada poin-poin yang kurang memuaskan, kita bisa mendiskusikannya lagi."
"Tidak buruk," Kendrick menjawab singkat. Jika orang lain yang tidak mengenalnya mungkin akan langsung tersinggung mendengar respons seperti itu. Tetapi Dirga sama sekali tidak mempermasalahkannya karena ini bukan pertama kalinya, sementara Ghali sudah cukup mengenal sifat Kendrick di masa lalu, jadi dia tidak terkejut.
"Baiklah, jadi kita akan benar-benar sepakat dalam kerja sama ini. Tuan Dirga, Tuan Ghali, semoga kita bisa menjadi partner kerja yang baik."
Gelombang keterkejutan tampak di mata Kendrick setelah asistennya selesai berbicara. Ghali dengan jelas melihat itu tetapi dia hanya tersenyum singkat saat Kendrick menatap kepadanya secara sengaja. Wajah itu tampak acuh tak acuh, tetapi matanya jelas berkata lain.
Setelah dirasa cukup, Kendrick tidak membuang banyak waktu lagi di sana dan pamit pergi. Sebelum menutup pintu ruangan, dia sekali lagi melihat pada Ghali yang juga sedang melihat ke arahnya. Dia akhirnya memutuskan kontak mata itu dan menutup pintu.
"Boss, saya merasa Anda terus memperhatikan Tuan Kendrick. Apakah sebelumnya kalian saling kenal?"
"Mungkin," jawab Ghali dengan ambigu.
Dirga tidak puas dengan jawaban itu, tetapi dia tidak mempertanyakan lebih lanjut. Lagipula, dia harus tahu batasan terhadap urusan atasannya.
"Radit, siapa nama lengkap boss tadi?" tanya Kendrick saat dalam perjalanan pulang.
Radit mengerutkan keningnya. "Anda belum tahu?"
Ekspresi Kendrick berubah gelap. "Kau tidak memberitahuku dan kami tidak berkenalan tadi."
Radit menyengir. Dokumen penawaran kerja sama yang pernah diajukan oleh Dirga diurus olehnya, Kendrick hanya mendapat informasi garis besarnya secara lisan dan Radit tidak menyebut nama Ghali sebagai CEO-nya.
"Namanya Ghali Sandika."
Kendrick tidak mengatakan apa-apa lagi.
Mungkin hanya kebetulan nama yang mirip, sudahlah.
• • •
"Gue? Jadi duta sabun lain? Nggak dulu, sabun aroma sitrus masih jadi pemenangnya."
"Gue? Jadi duta fakboi? Nggak dulu deh, gue cowok paling setia di SMA ini."
"Bacot bener kalian berdua," ucap Rayan sambil memutar matanya.
"Uluh, uluhh, Rara—"
Plak!
Satu tabokan maut pun mendarat di bahu lebar Yoga dengan iringan pelototan ganas dari Rayan. Lino tertawa sambil menambah penderitaan Yoga dengan menendang kakinya.
Awal mula panggilan "Rara" adalah karena pentas seni drama tiga bulan yang lalu dimana Rayan memerankan tokoh gadis antagonis bernama Rara.
Sampai sekarang panggilan "Rara" masih menjadi ikonik di mata siswa-siswi sekolahnya sehingga Rayan muak mendengar nama itu.
"Neng Rara uy, marah dong!"
"Lino, gue izin telepon paman lo."
"Eh, jangan cuy! Bercanda doang gue."
"Cih!"
Ketiga cowok absurd yang sedang duduk di depan kelas itu menjadi pusat perhatian beberapa siswi-siswi yang lewat. Secara ketiganya cakep dan berduit, walau rada-rada.
"Ah, pengen pacaran," ucap Yoga sambil memasang tampang melas.
"Alah, ganteng doang tapi nembak cewek kagak berani," cibir Lino yang diangguki Rayan.
"Oh makasih pujiannya, gue emang ganteng."
"Kampret!"
Lagi asyik-asyiknya ngobrol, tiba-tiba terdengar suara kepala sekolah, Pak Bondan, yang cemprengnya sudah tidak menjadi rahasia umum lagi.
Ketiga sontak melihat ke arah sumber suara. Beberapa mater dari tempat mereka duduk, Pak Bondan sedang berjalan dengan seorang wanita berwajah datar tetapi terlihat cantik nan elegan. Karena suara Pak Bondan yang gede, jadi terdengar jelas ucapannya yang sedang menjelaskan seluk beluk sekolah pada wanita itu.
"Tamu atau donatur kali," tebak Yogi.
Mereka masih menatap kedua orang itu sehingga jaraknya semakin dekat. Karena mereka sudah mendapat "black label" dari Pak Bondan, jadi si kepsek dengan cepat melewati tempat mereka duduk seakan ketiganya makhluk ghaib yang tak kasat mata.
Tidak peduli dengan sikap Pak Bondan, ketiganya justru sedikit terpana dengan wanita asing itu.
"Buset auranya Sugar Mommy banget,"
"Yog, eling, Yog! Eh tapi, emang auranya keren banget itu tante-tante."
"Gak se-tante itu juga woi, kakak itu mah."
Sekarang ketiganya bergosip seperti ibu-ibu yang bertemu di tukang sayur.
• • •
Ghali hari ini pulang lebih awal dari kantornya. Karena sebentar lagi adalah jam pulang sekolah Lino, jadi dia memutuskan untuk menjemput keponakannya itu.
"Paman, tumben jemput gue."
"Paman pulang awal," jawab Ghali sekenannya.
"Ohhh,"
Tiba-tiba mata Ghali menangkap siluet seorang wanita yang tidak begitu asing. Hanya sebentar karena wanita itu kini sudah masuk ke dalam mobil.
"Paman, lo ngeliat apaan?" kepo Lino sambil menolehkan kepalanya ke belakang.
"Bukan apa-apa," jawab Ghali. "Ayo pulang."
Lino mengangguk dan keduanya masuk ke dalam mobil. Setelah mobil milik Ghali pergi, mobil abu-abu yang dimasuki wanita tadi juga meninggalkan SMA itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Teen FictionGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
