"Kak Zi, mereka kenapa berkelahi?" tanya Rio sewaktu perjalanan ke apartemen Zilar.
"Masalah bapak sama anak sulung, dah biarin ae, yang penting kita selamat," jawab Zilar santai.
"Itu pipi Kak Zi jadi merah dua-duanya, sakit banget gak?"
"Sakit banget, aduhh. Rio kalo nggak mau ngerasain sakitnya berarti gak boleh gelud sampe tonjok-tonjokan kayak mereka tadi oke? Nanti bukan cuma pipi merah, tapi bisa aja gigi rontok sama tulang rahang bergeser!"
Zilar terlihat seperti perpaduan emak dan bapak yang sedang menasehati anak semata wayangnya yang amat polos.
Rio hanya manggut-manggut mendengarnya. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Kendrick karena bisanya pemuda itu terlihat sangat tenang, berbeda dengan apa yang dia lihat tadi.
Sekian menit perjalanan mereka pun sampai di apartemen milik Zilar. Keduanya turun dari mobil dan Zilar menggandeng tangan sang adik untuk masuk ke dalam bersama.
"Sementara kita di sini dulu aja ya, nanti kalo masalah Daddy sama Bang Kendrick udah selesai kita bisa balik ke sana lagi," ucap Zilar.
"Um okay."
Rio memang sangat penurut.
•••
Lauren memasuki kamar Kendrick yang gelap karena seluruh jendela ditutup oleh gorden. Dia menyalakan lampu dan melihat sang kakak duduk di lantai dengan beberapa barang yang sudah rusak, kemungkinan karena di banting oleh Kendrick.
"Zeta, kenapa kau muncul lagi?"
Zeta? Siapa dia?
Dia adalah kepribadian lain milik Kendrick.
Sosok dengan temperamen yang buruk, mudah marah, keras kepala, tidak punya belas kasih, dan semaunya sendiri. Rasanya sudah lama sekali dia tidak muncul, tapi entah karena apa tiba-tiba dia muncul lagi.
Zeta yang sedang mengambil alih raga Kendrick menyunggingkan bibirnya dan menjawab tanpa melihat Lauren. "Bajingan tua itu, berani sekali dia mengatakan hal yang buruk tentang Rio. Dia pikir, dia yang paling benar? Hahaha."
Lauren terdiam. Jadi kemunculan Zeta yang tiba-tiba ini karena Rio? Fakta ini sedikit aneh baginya.
"Memang apa yang Daddy katakan tentang dia?"
Cukup lama Zeta tidak menjawab pertanyaan Lauren. Dia meremas kuat kain sprei yang ada di lantai. "Dia bilang Rio anak jalang, dia bilang Rio manisku hanyalah berakting untuk menarik simpatik. Sialan, wanita itu memang jalang, tapi aku tidak mentolerir Henric menyandingkan Rio dengan wanita itu. Oh, pria tua itu juga sangat keras kepala, sudah kubilang jika itu bukan Rio, tetapi Ghali. Rio sudah..."
Ucapan panjang Zeta terhenti di sana. Kendrick membenci Rio, tapi Zeta adalah sisi lain yang tidak sejalan dengan Kendrick. Di sudut hatinya Rio yang asli masih memiliki tempat tersendiri.
Zeta terbentuk dari rasa frustasi, kebencian, kemarahan, dan kekecewaan yang Kendrick rasakan. Dia sudah menjadi bagian dari hidup Kendrick sejak pemuda itu berusia 15 tahun.
Setelah itu tidak terdengar suara apapun lagi dari Zeta. Tubuhnya meluruh di atas lantai, dia pingsan. Jika hal ini terjadi maka ini adalah tanda akan adanya peralihan antara Zeta dan Kendrick.
Lauren mendekati tubuh itu dan menyingkap rambut tebal Kendrick. Wajah itu terlihat tenang dan polos jika sedang tidak sadarkan diri.
"Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan, tapi kejadian itu terlalu konyol dan tidak logis," gumamnya.
Antara Zeta dan Kendrick memiliki semacam komunikasi untuk saling setuju atau menolak, Lauran tidak tahu. Namun jika dilihat dari banyak sisi, Zeta jauh lebih jujur dan seakan dia adalah bentuk dari penolakan Kendrick terhadap sesuatu hal yang nyatanya bertentangan.
Zeta seakan mengeluarkan semua penyangkalan Kendrick dan menunjukkan kebenarannya.
•••
Rio sedang duduk di atas sofa sambil menonton kartun. Di pangkuannya ada setoples biskuit keju yang diberikan oleh Zilar tadi. Zilar sendiri sedang fokus membalas pesan dari pacarnya, Lisa.
Ketika rasa bosan mulai melandanya, Rio melirik pada Zilar dan menarik lengan bajunya, tentu hal itu langsung menarik perhatian Zilar dan dia langsung mematikan ponselnya.
"Kenapa? Dedek gemes pasti bosen ya karena Abang kacangin? Maafin, ya?"
Rio tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. "Nggak, Kak. Itu... Rio pengen sekolah lagi."
"Sekolah?"
Rio mengangguk. Dia tiba-tiba kepikiran dengan ini dan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakannya pada Zilar. Rio merasa bosan setiap saat di rumah hanya makan, tidur, menonton televisi, atau bermain game, sangat monoton.
"Gue sih ga masalah, tapi tergantung Bang Kendrick juga. Kalo dibolehin sama abang tertua, nanti gue cariin sekolah yang bagus dan berkualitas, khusus buat Dek Rio," ujar Zilar sambil mengedipkan sebelah matanya.
Tetapi Rio justru menggelengkan kepalanya dan berkata, "Rio mau di sekolah lama, yang ada Atlas sama yang lainnnya juga."
"Eh?"
Zilar menggaruk belakang lehernya bingung. Jika Rio kembali ke sekolah lama, otomatis para curut itu akan semakin mengeksploitasi Rio. Mungkin saja sepulang sekolah Rio tidak langsung pulang tapi justru diculik oleh mereka atau bisa saja Rio diajak menjadi berandalan dan...
Cukup, Zilar tidak bisa membayangkannya lagi.
Namun, jika di sekolah yang baru itu artinya tidak ada orang yang Rio kenal. Itu jelas lebih rumit dan mengkhawatirkan. Lagipula, para curut itu juga sepertinya akan menjaga Rio dengan baik, apalagi dengan sifat Rio yang sekarang.
Baiklah, Zilar akan mempertimbangkannya.
"Oke, tapi nanti bilang dulu sama Bang Kendrick boleh apa enggak, ya?"
"Um! T-tapi kalo misal Kak Kendrick gak ngasih izin, Kak Zi mau kan bantuin Rio buat bujukin dia? Hehe."
Jika ekspresinya seimut ini, bagaimana Zilar bisa menolak? Untuk menggelengkan kepalanya saja dia merasa tidak mampu, lebih tepatnya tidak tega.
Jadi dia hanya bisa berkata, "Baiklah."
•••
"Jadi, si kecil nakal itu sudah berubah?" tanya seorang pemuda dengan pakaian formal yang terlihat mahal serta penampilannya yang rapi juga tampan.
Dia duduk di atas kursi kerjanya dengan menghadap jendela besar yang memperlihatkan pemandangan New York City.
"Iya, Tuan," jawab seseorang yang berdiri di belakangannya. "Menurut info yang telah teman saya dapatkan dari sana, semua itu benar."
Pemuda itu tersenyum miring, sesaat kemudian wajahnya menjadi datar kembali.
"Atur kepulanganku ke Indonesia untuk seminggu kedepan, laksanakan sekarang!"
"Dimengerti, Tuan."
Setelah menerima perintah dari sang atasan, orang itu segera pergi untuk mengerjakan tugas yang telah didapatnya.
"Aku tidak sabar untuk melihatmu lagi," gumamnya.
Dia berdiri dari duduknya dan menatap sebuah foto besar yang tertempel di dinding ruangannya. Foto itu adalah foto seorang remaja berwajah dingin dengan coretan silang berwarna merah.
"You will often receive surprises from me, poor little boy."
Dibandingkan pangeran dalam negeri dongeng, wajah tampan itu justru seperti mimpi buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Teen FictionGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
