Ghali di antar ke sebuah kamar mewah di lantai dua. Setelah mengantarkan si Tuan Muda, maid itu langsung kembali ke lantai bawah, ke dapur.
Ghali duduk di pinggiran kasur, menangis.
Kenapa ia harus mengalami hal seperti ini? Dia tak mau hidup dengan menjalani hidup orang lain. Dia ingin hidup bersama bundanya hingga Tuhan yang memisahkan mereka melalui maut.
"Bunda, Ghali mau Bunda..."
Pintu kamar tiba-tiba terbuka membuat Ghali terkejut dari yang awalnya menunduk langsung mendongak. Ia melihat seorang pemuda asing berdiri di daun pintu dengan tatapan datar namun tajam.
Refleks keterkejutan Ghali selalu membuat tubuhnya bergetar. Dirinya kembali dalam ketakutan terhadap pemuda asing itu.
"U-uh."
Pemuda itu mendekatinya, membuat Ghali langsung naik ke kasur dan beringsut mundur. Pemuda itu berhenti melangkah dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.
'What happened?'
Pemuda itu melanjutkan langkahnya membuat Ghali sedikit panik. Ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan terisak pelan di dalamnya.
Wajah datar pemuda itu seketika berubah. Dia tersenyum. Bukan, bukan senyuman yang manis, tapi senyuman yang mengerikan.
Dia langsung menarik selimut yang Ghali pakai untuk melindungi diri, membuatnya tersentak dan bertatapan langsung dengan mata tajam pemuda itu. Tatapannya sangat tidak biasa untuk Ghali, dia tak menyukainya.
Wajah yang kini memerah dengan lelehan air mata itu hanya bisa menunduk cepat dan memejamkan matanya.
Si pemuda asing menarik dagu Ghali agak kasar, memaksanya mendongak dan membuka mata, lalu menyelami netra coklat yang sayu itu.
Cengkramannya di dagu si mungil agak kuat, membuat si empunya merasa kesakitan.
"S-sakit..."
Deg!
Aneh. Rasanya sangat aneh.
Adrenalinnya terpacu, darahnya berdesir sedemikian rupa, nafasnya memburu tapi dia tetap berusaha tenang dalam keterdiaman yang dingin.
Suara lirih yang begitu lembut, penuh ketakutan dan kepasrahan yang entah kenapa terdengar begitu indah di telinganya bagai petikan harpa.
Dia melepaskan cengkraman pada dagu si mungil. Membuat Ghali langsung beringsut ke sudut kasur dan kembali menenggelamkan tubuhnya dalam selimut tebal tadi.
Malam yang dingin ini justru terasa panas bagi pemuda asing itu. Tak disadari olehnya jika pipinya telah memerah dan tangannya bergetar karena menahan suatu gejolak emosi yang ingin meledak ke permukaan.
Didengarnya isak tangis dari balik selimut tebal bermotif roket itu.
Dia tak melakukan apapun lagi dan langsung keluar dari kamar yang Ghali tempati.
Setelah mendengar suara pintu tertutup, Ghali langsung keluar dari selimut. Matanya sembab, rasanya ia ingin menangis keras-keras.
"Bunda, Ghali mau sama Bunda, sama Hanni juga. Ghali nggak mau kayak gini hiks..."
Di lingkup kompleks tempat tinggalnya saja Ghali jarang berinteraksi dengan anak-anak seumurannya. Apalagi ini dia dihadapan dengan lingkungan dan orang-orang asing. Bagaimana Ghali bisa tenang?
Setelah kedatangan pemuda tadi, ketakutan dan kekhawatiran Ghali berkali lipat lebih besar.
Di ruangan lain, pemuda asing tadi kini tengah meminum segelas martini. Gejolak emosinya yang asing tadi entah kenapa membuat sekujur tubuhnya terasa lemas dan dadanya sesak.
Ia tak pernah mengalami hal ini.
Wajah datar dan penuh kebencian anak itulah yang sering dia lihat. Tapi apa sekarang ini? Setelah nyaris 2 minggu di rumah sakit anak itu kembali ke sini dengan keadaan yang berbeda.
Dia bukan orang bodoh yang tak bisa membedakan tipuan dan sesuatu yang asli, termasuk dalam seseorang bersikap. Meski tak sepenuhnya apa yang dia kira benar, tapi untuk kali ini ia seratus persen yakin itu adalah sesuatu yang murni. Bukan drama murahan yang akan dilakakukan oleh seorang Jerio Killian Damaston.
"Adikku yang manis, apa ini waktunya bagimu jatuh ke dalam kendali kami? Itu akan sangat menyenangkan." Gumamnya.
Dia adalah Kendrick Verth Damaston, kakak tertua Jerio Killian Damaston.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Ficção AdolescenteGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
