Jam 5 sore di kantor, Ghali duduk di sofa sambil membaca selembar kertas dengan kening berkerut. Seorang pria dengan setelan formal duduk di depannya dalam diam tetapi memperhatikan Ghali dengan seksama.
"Ini, bagaimana kamu bisa mendapatkan kesimpulan seperti ini?" tanya Ghali dengan ekspresi linglung.
"Maid yang telah mati itu sebenarnya memiliki seorang anak gadis yang disembunyikan di desa terpencil. Saya menemukan namanya di dokumen pencatatan sipil milik maid itu dan kemudian saya mengirim seseorang ke sana. Untuk selengkapnya bisa Anda lihat pada laporan yang telah saya berikan."
Ghali menatap kertas HVS di tangannya dan selembar kertas usang di atas meja dengan tidak berdaya. Ini tidak benar, tetapi agen yang ia sewa ini tidak mungkin berbohong ataupun asal membuat laporan.
"Tuan Ghali, tersangka utama dalam kasus ini adalah Atlas Manggala. Dari penyelidikan saya, dia juga pernah terseret kasus serupa berupa pembunuhan berencana, tetapi entah karena apa kasus itu tiba-tiba ditutup dan hilang begitu saja."
Nafas Ghali berubah berat dan otot lehernya menonjol menandakan dia sedang menahan amarahnya.
"Baiklah, kamu bisa pergi sekarang. Aku akan menghubungimu lagi nanti."
Tanpa menunggu pengulangan, pria itu langsung pamit pergi.
"Atlas, tidak mungkin itu kamu..."
Di atas kertas usang itu tertulis sebaris kalimat yang ditulis dengan singkat dan jelas.
'Anakku selamat tinggal dan berbahagialah kedepannya, ibu harus memenuhi tugas dari Tuan Atlas.'
Saat masih menempati raga Rio, dia merasa Atlas orang yang tidak begitu berbahaya meski sikapnya acuh tak acuh. Dia dapat merasakan rasa aman pada pemuda itu ketika didekatnya.
"Boss, apakah Anda di dalam?"
Suara Dirga dari balik pintu membuat Ghali tersadar dan buru-buru menyimpan laporan dari agennya tadi. Kemudian dia bersikap seolah-olah tidak ada sesuatu hal buruk yang terjadi.
"Masuk saja!"
Setelah mendapat respons Dirga pun membuka pintu dan masuk. Kali ini dia tidak membawa setumpuk berkas, melainkan dua cup ramen instan yang sudah matang.
"Ini untuk Anda," dia menyerahkah salah satu cup itu kepada Ghali.
"Ah, ya, terima kasih."
Ghali tersenyum tipis tetapi Dirga merasa ada yang janggal dalam senyumnya. Menyandari bahwa dia tidak dapat terlalu ikut campur urusan pribadi si boss, jadi dia memilih untuk tetap bungkam.
Keduanya makan dalam diam, tetapi suasananya berbeda dari biasanya.
"Oh, Boss, tadi saya mendapat telepon dari asisten Tuan Kendrick, dia mengundang Anda untuk makan malam bersama di rumahnya."
Atensi Ghali langsung terarah pada wajah Dirga.
"Makan malam bersama?"
Dirga mengangguk meyakinkan. "Dia juga mengundang saya, jadi saya akan tetap menemani Anda untuk pergi ke sana."
Meski suasana hatinya buruk, tapi mengingat bahwa di sana pasti anda Abel membuat mood Ghali sedikit naik. Ini kesempatan bagus yang tidak bisa ia lewatkan. Melupakan sejenak kekecewaannya pada Atlas, Ghali langsung menyetujui undangan itu.
Karena hari ini cukup senggang, keduanya bisa cukup bersantai setelah menghabiskan ramen.
Dirga memainkan ponselnya, sesekali tersenyum sendiri dan telinganya agak memerah membuat Ghali yang sedari tadi memperhatikannya merasa curiga.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Teen FictionGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
