Damaston, VOXID, And Thread Of Destiny

38.2K 2.6K 63
                                        


Pagi ini suasana ruang makan diselimuti hawa gelap dari Lauren. Dia makan dalam diam tetapi matanya awas sekali memperhatikan Rio membuat si empunya takut dan terus-terusan menunduk.

"Jangan menatapnya seperti itu!" Tegur Kendrick yang peka dengan situasi.

Lauren tak menanggapi. Wajahnya yang tadi menunjukkan emosi kemarahan berganti menjadi wajah datar tanpa ekspresi yang menunjukkan ketidakpedulian dan ketidaksukaannya.

Kendrick menghela nafas dalam. Dia menyuruh Rio segera menghabiskan sarapannya lalu pergi duluan ke ruang tengah untuk menonton televisi.

Rio menuruti ucapan Kendrick, segera menghabiskan makanannya dan pergi ke ruang tengah setelahnya. Ia menonton kartun sendirian, sedangkan Kendrick masih di ruang makan bersama Lauren.

"Percaya atau tidak percaya tapi aku sudah jujur padamu, sekarang terserah kau mau berpikiran bagaimana, yang jelas jangan membuatnya takut." Peringat Kendrick lalu berdiri dari duduknya untuk menyusul sang adik bungsu ke ruang tengah.

Lauren mendengus kasar. Orang yang mengedepankan logika sepertinya jelas tak bisa terima dengan hal aneh seperti ini. Reinkarnasi atau transmigrasi adalah hal konyol yang lahir dari imajinasi seorang pengarang.

Ucapan Kendrick kemarin malam berakhir perdebatan panas antara keduanya hingga 3 jam. Lauren terus-terusan menyangkal ucapan Kendrick yang tak masuk akal. Bahkan Lauren berteriak mengatakan jika Kendrick sudah gila.

Sebagaimana daddy dan keempat kakaknya, Lauren juga tak menyukai Rio. Ada fakta kelam dibalik alasan itu, tapi hal itu telah lama dikubur bersama kematian wanita yang telah melahirkan mereka.

Kendrick menarik Rio yang tadinya duduk di karpet agar pindah ke atas pangkuannya. Sejujurnya Rio malu jika terus diperlakukan seperti ini, ayolah, dia sudah 18 tahun, ingat? Walau sifatnya mungkin sedikit berbanding terbalik dengan usianya.

"Mau jalan-jalan?" Tawar Kendrick menatap wajah Rio dari samping dengan jarak yang begitu dekat.

Rio refleks menoleh hingga ujung hidung keduanya bergesekan menimbulkan senyuman aneh khas Kendrick dan wajah memerah Rio sendiri.

"Boleh?" Tanyanya ragu.

"Boleh," jawab Kendrick. "Asal selalu bersamaku, kau boleh melakukannya."

Rio sedikit tersenyum membuat jiwa 'aneh' Kendrick memberontak bagai iblis yang ingin keluar dari jerat sarangnya.

Keduanya lalu bersiap-siap untuk pergi jalan-jalan. Kendrick akan membawanya ke pantai.

Tak mereka sadari Lauren yang dari sudut lain yang mengamati mereka dengan intens.

•••

Atlas, Rhino, dan Eval tengah membolos di tongkrongan VOXID. Alasannya bukan karena mereka tak suka mata pelajarannya atau karena gurunya menyebalkan, melainkan mereka merasakan kekosongan lantaran Rio tak bersama mereka.

Belum sampai seminggu mereka tak bertemu, tapi rasanya sudah bertahun-tahun lamanya. Eval yang biasanya cerewet dengan suara cemprengnya pun mendadak jadi anak kalem yang agak murung.

Anggota-anggota VOXID juga merasa demikian. Biasanya Rio akan ada di sana dengan teriakan marahnya jika ada kesalahan dari mereka atau sesuatu yang membuatnya marah. Kini suasana di tongkrongan terasa sepi dan suram.

Walau galak dan keras tapi mereka semua menyayangi Rio sebagaimana saudara sendiri. Ketika salah satu dari mereka disakiti orang lain maka Rio adalah orang yang pertama kali bertindak untuk membela.

Tentang 'amnesia' Rio juga telah terdengar ke seluruh telinga anggota VOXID, tapi mereka belum bertemu lagi dengan boss mereka itu setelah kesadarannya.

"Kangen si Boss," lirih Eval.

Rhino menepuk punggung sahabatnya itu lalu menatap pada Atlas yang tengah merokok.

"Kita gak bakal bisa bawa dia keluar, kita yang harus kesana kalo mau ketemu." Celetuk Rhino.

"Hem." Balas Atlas dengan deheman.

"Nanti kita kesana." Lanjutnya.

•••

Zilar menguap, terlihat sekali dirinya masih mengantuk. Semalam setelah pulang berkencan dengan Lisa dia tak langsung pulang ke rumah utama, tapi pulang ke apartemen miliknya yang jaraknya lebih dekat dengan rumah Lisa.

Baru saja dia berdiri berniat untuk mandi, tiba-tiba ponselnya berdering. Nama yang tertera di atas layar membuat ia cepat-cepat mengangkatnya.

"Ya, Halo, Daddy?"

"....."

"Daddy pulang hari ini?"

"....."

"Oke, oke, hati-hati Daddy tua, wkwk."

Zilar langsung memutuskan sambungan teleponnya terlebih dahulu.

Dialah yang paling santai dalam menghadapi sang daddy. Berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, mereka jika berhadapan ibaratnya es batu bertemu es lilin.

Dia melanjutkan niatnya yang sempat tertunda, yaitu mandi.

•••

Seorang cewek berwajah manis dengan rambut pendek terlihat murung dan pucat. Dia duduk sambil memeluk kedua kakinya yang ditekuk.

"Ini bukan salahmu, jangan terus-terusan seperti ini, nanti kau bisa sakit, oke?"

Dia menoleh ke arah seorang cewek yang lebih tua darinya, yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Wajah cantiknya yang bermahkotakan rambut panjang kecoklatan membuat dirinya terlihat berkali lipat lebih cantik.

"Ini salah gue, Kak. Gue kangen Ghali..."

Cewek berambut panjang itu bersimpuh memeluk yang lebih muda. Suaranya yang lembut terus membisikkan kata-kata penenang.

"Lebih baik kamu doakan Ghali, jangan menangisinya. Dia tak akan menyukaimu dalam kondisi seperti ini. Jadilah Hanni yang sebagimana biasanya, ya?"

"Gue nggak bisa, Kak Lisa..."

Lisa tersenyum tipis dan memeluk adik sepupu dari pihak ibunya itu.

Mereka tinggal di kota yang berbeda. Dia terkejut ketika Hanni tiba-tiba datang ke rumahnya dengan diantar oleh kedua orangtuanya Hanni.

Mereka bilang Hanni ingin menenangkan diri di tempat lain setelah kejadian yang mana merenggut nyawa sahabat tersayangnya, Ghali.

Orang tua Lisa menyetujui untuk merawat keponakan mereka sementara waktu di sini. Bagaimanapun Hanni pasti terguncang hebat karena kejadian itu.

GHALI (HOLD)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang