Sudah hampir seminggu ini Ghali lembur di kantor. Wajah lesu dengan lingkaran mata hitam khas orang kurang tidur terlihat jelas di wajah tampannya.
Dirga yang duduk di sudut ruangan tidak bisa menahan rasa kasihan sekaligus takjubnya. Meski sering lembur tetapi boss-nya itu tidak pernah mengeluh, dia bahkan tidak pernah terlihat marah-marah kepada siapapun.
Sejauh yang Dirga tahu, Ghali memiliki sikap yang tenang dan tutur kata yang halus namun tegas. Fisiknya yang memukau adalah poin plus yang menjadi daya tarik mata.
Fitur wajah Ghali memiliki ketampanan feminin yang nyaman untuk dipandang dengan tubuh berotot yang tidak berlebihan. Mata triple eyelids dan gigi taringnya juga menjadi daya tarik tersendiri. Tentu saja dia juga kaya, wanita mana yang tidak tergoda?
Hanya saja, menurut Dirga hidup si boss terlalu monoton dan kesepian.
Terlalu asyik melamun, Dirga tidak menyadari bahwa Ghali sudah memanggilnya sebanyak tiga kali. Karena melihat Dirga yang sepertinya sangat tenggelam dalam lamunan, Ghali pun terpaksa menghampirinya.
"Dirga."
Baru saat itulah Dirga tersadar saat Ghali memanggilnya lagi dengan tepukan ringan di bahu.
"Eh? Ada apa, Boss?"
Ghali tersenyum kecil. "Jangan terlalu banyak melamun, lihat kertas di depanmu."
Saat Dirga melihat kertas di depannya, dia tidak bisa menahan malu. Kertas yang harusnya dia tandatangani malah justru berakhir dengan coretan-coretan abstrak, tetapi untungnya itu hanya kertas fotocopy-an.
"Maaf, maaf, saya akan fotocopy ulang nanti."
"Tidak masalah."
"Err, Boss, sepertinya Anda butuh istirahat hari ini. Anda bisa sakit jika terlalu memaksakan diri."
Dirga jelas bisa melihat kantuk di wajah kuyu boss-nya itu.
Ghali meregangkan tubuhnya dan tertawa singkat. "Ya, sepertinya kamu benar. Sedikit lagi pekerjaanku akan selesai, kau bisa pulang duluan."
Sekarang sudah hampir jam sepuluh malam.
"Saya akan menunggu Anda selesai."
"Oke," jawab Ghali dengan nada agak bersalah. "Jika mengantuk kamu bisa tidur dulu di kamar cadangan."
Ruangan kerja milik Ghali memang memiliki kamar tidur di dalam, tidak terlalu besar, tetapi setidaknya bisa untuk tidur jika tidak sempat untuk pulang.
"Anda tidak perlu khawatir."
Setelah itu keduanya kembali pada kesibukan masing-masing.
Satu jam kemudian berlalu, Dirga masih menunduk untuk membaca dokumen-dokumen yang diterimanya siang tadi. Merasa ruangan lebih sepi, mau tak mau Dirga mengangkat kepalanya dan melihat ke meja Ghali.
Kepala pemuda itu terkulai di atas meja, tertidur.
Helaan napas berat terdengar dari Dirga.
"Anda memang terlalu memaksakan diri," gumamnya.
Dia menghampiri meja Ghali. Melihat laptop yang masih menyala dia pun mematikannya. Karena dirinya belum merasakan kantuk, dia pun berinisiatif mengantar Ghali pulang.
Dia menopang tubuh yang sedikit lebih besar darinya untuk turun ke lantai bawah menggunakan lift.
Mobil yang tersisa di parkiran adalah mobilnya dan mobil milik Ghali.
"Pak Yan, saya titip mobil Boss, jangan lupa kunci pintu masuk kantor," ucap Dirga pada satpam yang sudah cukup akrab dengannya.
"Aman, Tuan Dirga."
Dirga memasukkan Ghali ke kursi penumpang. Melepas jas-nya sebagai selimut untuk si boss walau hanya menutupi bagian atasnya.
Butuh waktu 30 menit berkendara dengan kecepatan rata-rata dari kantor ke rumah Ghali.
Karena Ghali yang memiliki kebiasaan lembur, satpam yang bekerja di rumahnya pun akan tertidur pada jam 12 malam. Jika lewat jam dua belas Ghali belum juga pulang, itu berarti dia menginap di kantor, dan si satpam tidak perlu menunggunya lagi.
Setelah menekan klakson, pintu gerbang rumah mewah itu terbuka. Dirga kembali menopang tubuh Ghali untuk membawanya masuk ke rumah.
Sebagai orang kepercayaan Ghali, dia berhubungan baik dengan boss-nya itu. Keseluruhannya seluk-beluk rumah Ghali sudah dihafalnya, sehingga dia tidak kesusahan untuk menemukan kamar Ghali.
Selesai dengan urusannya membawa si boss pulang, Dirga juga langsung kembali ke rumahnya sendiri.
Keesokan pahinya ketika Ghali terbangun, dia menyadari bahwa dirinya saat ini berada di kamarnya sendiri.
"Pasti lagi-lagi aku merepotkannya."
Nyatanya kejadian seperti ini bukan hanya sekali atau dua kali. Mungkin Ghali harus menambahkan gajinya pada Dirga, karena salain cekatan dan bisa diandalkan, asistennya itu juga sangat baik padanya.
Kebetulan tepat saat Ghali sudah tidak bisa menahan kantuknya kemarin, itu bertepatan dengan selesainya pekerjaan yang dia garap, jadi dia memutuskan untuk sedikit memperpanjang tidurnya.
Entah dia bermimpi atau apa, tetapi alisnya sedikit berkerut dengan mata yang tetap terpejam.
"Bunda..." igaunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Teen FictionGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
