Hari ini rumah Ghali kedatangan tamu 'spesial' yang sialnya justru menghancurkan mood Lino. Pemuda itu duduk lesehan di sudut ruangan sambil menggerutu, ngambek.
Ghali yang melihatnya hanya bisa menahan sabar. Dia tersenyum pada sosok berambut hijau yang duduk berhadapan dengannya sambil dengan santai melahap bola-bola klepon.
"Kamu beneran mau pindah sekolah ke sini?"
Gilden—si tamu special—mendongak dan cepat-cepat mengangguk. "Daddy bilang tidak masalah, lagipula di sini lebih banyak klepon daripada di Finland."
Dialah si 'jamet klepon' yang sering disebut-sebut oleh Lino. Entitas menyebalkan yang sering membuatnya naik darah.
Lihat saja tingkah tidak sopannya itu, bukannya membujuk Lino agar tidak ngambek, dia justru asyik memakan klepon yang Ghali suguhkan seakan dirinya tak terlihat ada di sana.
"Oh iya, Uncle, kira-kira sekolah mana yang cocok?"
Ghali melirik Lino yang membalasnya dengan pelototan ganas disertai gelengan kepala. Jelas sekali bahwa pamannya itu akan merekomendasikan sekolah yang ditempatinya, itu tidak bisa dibiarkan!
"Paman rasa sekolah yang ditempati Lino akan cocok, kalian juga berteman, kan? Jadi jika kamu butuh sesuatu, kamu memiliki seseorang yang kamu kenal."
"Hmm, sounds good, Uncle tolong besok bantu aku untuk mengurusnya."
Ghali mengangguk santai. Sementara di pojokan sana wajah Lino sudah merah padam menahan kesal.
Gilden baru berdiri ketika klepon di meja sudah habis, tersenyum sekilas pada Ghali kemudian menghampiri Lino di pojokan.
"Ngapain lo?"
Gilden tersenyum lebar seperti pedofil dan mengangkat dagu Lino. "Kita akan satu sekolahan, hehe."
Lino merinding, secara refleks menghempaskan tangan Gilden dan mengusap dagunya seakan menghilangkan kotoran dari sana.
Dengan santainya si jamet klepon itu malah tertawa. Dia menarik tangan Lino untuk berdiri meski yang ditarik enggan, sehingga terjadilah adegan tarik-menarik.
Merasa bahwa Gilden tidak akan menyerah begitu saja, akhirnya Lino terpaksa mengeluarkan jurus terakhir.
"AKHH!"
Gilden memekik ketika merasakan benda keras mengapit tangannya, itu adalah gigi Lino. Dia digigit olehnya.
"Aaaaa! Uncle, Lino jadi kanibal!"
"Goblok! Musnah lo!"
"No, no! Diri ini belum puas menikmati cita rasa klepon."
Ghali terlalu malas untuk melerai, jadilah dia pergi meninggalkan ruang tamu.
Keesokan paginya, sesuai janji, Ghali membantu Gilden untuk mendaftar di sekolah yang sama dengan Lino. Sedangkan Lino yang masih ngambek sudah lebih dulu berangkat ke sekolah bersama Yogi dan Rayan.
Selesai dengan urusan di sekolah dia melaju ke kantor.
"Boss, selamat pagi," sapa beberapa karyawan yang dibalas dengan senyuman disertai anggukan sopan oleh Ghali.
Saat membuka pintu ruang kerjanya, Ghali terkejut, begitu juga dengan dua orang berbeda kelamin yang ada di dalam, posisi mereka agak ambigu.
Dirga membulatkan matanya kemudian cepat-cepat men ladorong seorang wanita yang ada di atas tubuhnya dan berdiri. "Boss, ini tidak seperti yang Anda lihat! Ini... Ini..."
Entah kenapa Dirga merasa ingin menangis. Apakah Ghali akan berpikiran buruk tentangnya? Berpikiran betapa tidak sopannya dia karena melakukan hal "tidak senonoh" di ruangan boss-nya? Apakah dirinya akan segera didepak dari pekerjaannya? Apakah—
KAMU SEDANG MEMBACA
GHALI (HOLD)
Ficção AdolescenteGhali pemalu dan kurang interaksi dengan dunia luar. Dia anak tunggal dan hanya hidup bersama bundanya, karena ayahnya telah tiada. Nasib malang menimpa Ghali yang berniat menolong sahabatnya justru merenggut nyawanya. ~ Jerio Killian Damaston, put...
