Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"JANGAN ADA YANG BERGERAK!" teriak salah satu polisi begitu akad selesai diucapkan.
Jevaro menoleh kaget. "Sayang, ini kenapa tiba-tiba ada polisi?"
Tapi yang membuatnya membeku bukanlah para petugas yang mengepung, melainkan sosok Ginara-wanita yang baru saja ia nikahi-berdiri dengan pistol terarah padanya.
"Anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan," ucap Ginara dengan suara tegas.
Jevaro mematung. "Maksud kamu apa?"
"Pak, silakan," kata Ginara sambil memberi isyarat pada polisi untuk menangkap Jevaro.
Tanpa perlawanan, Jevaro ditangkap. Wajahnya penuh kebingungan. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa Ginara memegang pistol? Kenapa dia bisa memerintah polisi? Siapa sebenarnya Ginara?
Lambat laun, semuanya terasa seperti hantaman keras. Jevaro sadar-dia dijebak. Perempuan yang ia cintai, yang baru saja ia nikahi, bukanlah seperti yang ia kira.
Ia mencoba berbalik, ingin menghampiri Ginara, tapi dicegah oleh polisi.
"Pak... saya minta izin bicara sebentar sama Ginara. Saya enggak akan kabur."
Setelah beberapa detik pertimbangan, polisi mengizinkannya.
Jevaro melangkah pelan ke arah Ginara. Tatapan kecewa dan terluka jelas terpancar dari matanya. Ginara hanya berdiri diam, menahan gelisah di balik raut tenangnya.
"Gue kecewa sama lo," katanya pelan tapi tegas. Lalu ia tersenyum tipis, getir. "Selamat, ya."
Setelah itu, ia membalikkan badan dan berjalan kembali ke arah polisi yang menunggunya.
"Maaf..." bisik Ginara nyaris tak terdengar. Hanya angin dan dirinya sendiri yang tahu beratnya kata itu.