FIND JEVARO'S REASON

153 15 0
                                        

Suasana dapur café saat itu masih tenang, dengan bunyi denting gelas yang ditata ke rak atas oleh Riko

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suasana dapur café saat itu masih tenang, dengan bunyi denting gelas yang ditata ke rak atas oleh Riko. Sambil menyusun, ia masih terkekeh pelan, sisa dari tawa mereka sebelumnya. Ia menoleh ke arah Ginara, lalu berbisik dengan nada menggoda.

"Gi, lo sadar nggak sih... kalau Pak Jevaro tuh punya senyum yang bisa dibilang limited edition?"

Ginara menyender santai ke dinding, sambil menyilangkan sapu tangan di bahunya.
"Limited edition apaan, Rik. Itu mah senyum yang kalo lo lihat langsung bikin lo pengin tobat."

Riko kembali tertawa kecil.
"Iya! Senyumnya tuh kayak... muncul seminggu sekali, itupun kalau lagi ada diskon kopi."

Ginara terkekeh. "Gue curiga dia latihan senyum di depan kaca sebelum berangkat. Kayak, 'oke, hari ini gue senyum sekali aja. Satu cukup.'"

Belum sempat Riko menimpali, suara pintu geser terdengar dari arah lorong belakang. Tubuh mereka sontak menegang. Dengan langkah tenang dan tanpa suara, sosok Pak Jevaro muncul di ambang pintu dapur.

Tanpa banyak bicara, ia membuka lemari stok sambil melirik mereka sekilas.
"Riko, cek sirup vanila," ucapnya singkat. "Dan Ginara, bantu di bar sore ini. Pelanggan tetap minta kamu yang buatkan minumannya."

Keduanya serempak menjawab, terlalu cepat dan terlalu semangat,
"Siap, Pak!"

Ekspresi Pak Jevaro tak berubah. Ia hanya menatap mereka beberapa detik lebih lama dari biasanya-hening yang cukup untuk membuat jantung mereka berpacu-sebelum akhirnya berbalik dan melangkah keluar.

Begitu pintu tertutup, Riko langsung menjatuhkan diri ke kursi kecil di sudut dapur sambil menghembuskan napas panjang.
"Ya Allah, tadi gue kira hidup gue tamat."

Ginara meletakkan tangan di dadanya, seolah menenangkan diri.
"Gue udah siap ngaku dosa semuanya tadi. Beneran siap tobat."

Mereka saling menatap, lalu tertawa pelan, kali ini dengan nada lega meski masih terbayang trauma.

"Kalau dia denger kita ngegosipin senyumnya, fix kita jadi espresso selamanya," ujar Ginara lirih.

"Lo jadi espresso, gue jadi sedotan," balas Riko cepat.

Dan di tengah rutinitas serta tekanan misi besar yang diam-diam mereka jalani, momen kecil itu menjadi oase. Sebuah tawa ringan yang menyelip di antara bayang-bayang ketegangan.

----

Di sisi lain Naufal duduk termenung di sudut kamar, menatap kosong ke arah foto kakaknya yang sudah tiada. Rasa sakit itu masih segar, tapi yang lebih membekas adalah rasa bimbang dan amarah yang tak pernah bisa ia ungkapkan, terutama tentang Jevaro.

Selama ini, Naufal memendam sesuatu yang tak bisa dia ceritakan pada siapa pun-bukan cuma soal dendam atas kematian kakaknya, tapi juga rasa kecewa yang dalam. Jevaro bukan hanya pelaku di mata hukum, tapi di dalam hati Naufal, dia adalah sumber segala kekacauan yang menghancurkan keluarganya.

Kadang Naufal merasa terjebak antara ingin membalas dan takut kehilangan dirinya sendiri dalam api dendam itu. Ada rahasia yang belum bisa dia ungkap, mungkin karena takut keluarga semakin terluka atau karena dia sendiri belum siap menghadapi kenyataan itu.

Dengan suara serak, ia berbisik, "Ariel... gue bakal cari jawaban buat lo. Tapi gue juga harus cari kedamaian buat diri gue sendiri." Meski begitu, bayang-bayang Jevaro terus menghantui, mengingatkan Naufal bahwa perjalanan ini belum akan selesai, dan luka di hatinya belum bisa sembuh dengan mudah.

Naufal menghela napas panjang, menatap langit-langit kamar yang mulai gelap. Di dalam hatinya, ia tahu ini bukan sekadar soal membalas dendam. Ada sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang membuatnya sulit bergerak maju.

Dia teringat percakapan terakhirnya dengan kakaknya, yang tak pernah sempat selesai. Kakaknya pernah berbisik, "Naufal, hati-hati dengan Jevaro... dia bukan cuma musuh biasa." Waktu itu Naufal belum mengerti maksudnya, tapi sekarang kata-kata itu menghantui setiap langkahnya.

Rasa bersalah juga menghampiri. Kenapa dia tidak bisa melindungi kakaknya? Kenapa dia merasa gagal? Semua pertanyaan itu berkecamuk tanpa jawaban.

Naufal tahu, untuk bisa menuntaskan semuanya, dia harus berani membuka luka lama itu. Mungkin saatnya bicara pada keluarganya, berbagi beban yang selama ini dia tanggung sendiri. Karena hanya dengan begitu, dia bisa menemukan kekuatan yang sebenarnya.

Dia berdiri, menatap foto kakaknya sekali lagi dengan tekad baru. "Aku akan bongkar semua ini, bukan hanya untuk keadilan, tapi juga untuk kau, kak. Supaya kau tenang di sana, dan aku bisa hidup tanpa bayang-bayangmu terus membebani."

Tapi dalam hatinya, Naufal sadar-Jevaro bukan lawan yang mudah. Dan perjalanan mencari kebenaran itu akan membawa lebih banyak badai.

Naufal menarik napas berat, pikirannya kembali ke akar masalah yang selama ini tersembunyi-semua bermula dari ayahnya. Ayahnya dan Jevaro pernah memiliki hubungan yang rumit, penuh ketegangan dan rahasia yang tak pernah terungkap ke siapa pun.

Ada perselisihan lama antara mereka yang membuat situasi semakin panas. Naufal tahu, kematian kakaknya bukan hanya soal Jevaro semata, tapi juga akibat dari konflik yang berakar pada masalah ayahnya dengan Jevaro. Namun, keluarganya selalu diam, menghindari bicara soal itu karena takut membuka luka lama yang bisa menghancurkan semuanya.

Hal itulah yang membuat Naufal merasa terjebak. Ia ingin mengungkap semuanya, tapi juga takut jika kenyataan itu menghancurkan keluarganya lebih dalam lagi. Di antara rasa marah dan bingung, Naufal tahu satu hal-untuk menuntaskan masalah ini, dia harus menghadapi masa lalu ayahnya, menggali kebenaran yang selama ini tersembunyi di balik dinding diam keluarga mereka.

Naufal duduk di depan meja kayu usang, matanya menatap kosong ke arah foto lama ayahnya dan Jevaro yang pernah terpajang di ruang keluarga. Foto itu dulu biasa saja, tapi kini seolah menyimpan rahasia kelam yang belum terungkap.

Dia ingat betul, bagaimana ayahnya selalu terlihat tegang setiap kali membahas Jevaro. Ada ketegangan yang tak pernah ia mengerti saat kecil-perasaan yang sulit dijelaskan, seperti ada sesuatu yang disembunyikan dari keluarganya.

"Nggak mungkin semuanya cuman soal uang atau bisnis biasa," pikir Naufal. "Harus ada alasan lain, alasan yang selama ini bikin ayah dan Jevaro berkonflik sampai akhirnya membawa bencana untuk kakak."

Naufal tahu, untuk mencari keadilan bagi kakaknya, dia harus menggali lebih dalam masa lalu ayahnya. Tapi hal itu juga berarti membuka luka lama yang mungkin akan merobek hubungan keluarganya.

Dengan tekad yang mulai tumbuh, Naufal berbisik pelan, "gue harus tahu apa yang sebenarnya terjadi antara ayah dan Jevaro. Supaya gue bisa hentikan semuanya, dan biarkan Ariel tenang."

Namun di balik tekad itu, ada ketakutan yang tak kalah besar-takut kebenaran yang ia cari justru menghancurkan segalanya yang masih tersisa.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang