NICE TRY GI

156 17 2
                                        

Matahari mulai tenggelam ketika Ginara membersihkan bar dan merapikan gelas-gelas kopi yang baru selesai dicuci

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Matahari mulai tenggelam ketika Ginara membersihkan bar dan merapikan gelas-gelas kopi yang baru selesai dicuci. Suasana kafe mulai sepi. Beberapa pelanggan sudah pulang, tinggal suara musik pelan yang menyusup di antara sela-sela percakapan ringan staf.

Jevaro masih duduk di pojok, memutar cangkir espresso dengan jari telunjuknya. Sesekali ia melirik Ginara, tapi cepat-cepat kembali menunduk. Bukan karena tak ingin terlihat, tapi karena ia terlalu ingin tahu—dan itu bahaya.

Ginara yang menyadari tatapan itu pura-pura sibuk dengan tumpukan serbet bersih. Tapi pikirannya tidak tenang. Ia tahu, Jevaro tidak sebodoh yang selama ini ia tunjukkan. Dan sejak kejadian kemarin—saat ia hampir pulang bersamanya—Ginara merasa garis antara sandiwara dan kenyataan makin kabur.

Riko keluar membawa kardus kosong, memberi kesempatan Ginara dan Jevaro sendiri di ruang utama. Hening sesaat.

“Pagi-pagi udah kerja keras. Nggak istirahat dulu?” suara Jevaro pelan, hampir seperti gumaman.

Ginara tersenyum tipis. “Kalau diam, kepala saya makin ribut, Bos.”

Jevaro menatapnya. Dalam. Lalu berkata, “Kamu pernah kehilangan seseorang, ya?”

Ginara menahan napas. Pertanyaan itu seperti tamparan—karena datang terlalu tepat, terlalu cepat.

“Saya rasa semua orang pernah kehilangan,” jawabnya pelan.

Jevaro hanya mengangguk. Tak lagi menggoda, tak lagi memancing. Tatapannya berubah. Seolah… mengerti. Atau pura-pura mengerti?

Malam itu berakhir tanpa kejadian besar. Tapi keduanya tahu: itu bukan malam yang biasa.

Mereka adalah dua manusia yang saling mencurigai—tapi juga perlahan saling melihat sisi rapuh satu sama lain. Dan itu, bagi Ginara, adalah bahaya paling nyata yang pernah ia hadapi.

--

Malam itu, angin mulai bertiup lembut, membawa aroma kopi dari dalam kafe yang sudah hampir tutup. Ginara berdiri di trotoar depan, berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Sesekali ia melirik ke arah pintu kafe, memastikan Jevaro masih di dalam. Strateginya malam ini sederhana: minta tumpangan pulang. Bukan hal besar, tapi cukup untuk mempererat jarak yang selama ini dijaga.

Begitu lampu dalam kafe mulai diredupkan, Jevaro muncul sambil mengancingkan jaketnya. Wajahnya tenang seperti biasa, tapi matanya langsung menangkap Ginara yang masih berdiri di luar. Ia mengernyit sedikit, lalu menghampiri.

“Belum pulang?” tanyanya.

Ginara mengangkat wajah, menampilkan ekspresi canggung yang ia latih sejak tadi. “Iya… saya udah coba order ojek dari tadi, tapi zonk terus. Sinyalnya jelek banget. Kayaknya banyak yang cancel.”

Jevaro mengangguk, tangannya dimasukkan ke saku. “Yaudah, ikut saya aja. Saya juga mau langsung balik.”

Di dalam hati, Ginara berteriak kecil. Yes, berhasil. Aktingnya cukup meyakinkan. Ia bersiap untuk menanggapi santai agar tidak terlihat terlalu antusias.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang