A TWIST OF FATE

196 23 10
                                        

Kamar itu gelap, hanya diterangi lampu temaram dari sudut meja

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Kamar itu gelap, hanya diterangi lampu temaram dari sudut meja. Jevaro duduk di tepi ranjang, punggungnya membungkuk sedikit, siku bertumpu pada lutut. Sebatang rokok menyala di tangan, tapi tak ia hisap. Asapnya mengambang pelan, seperti pikirannya malam itu-berkabut, berat, dan penuh tanda tanya.

Di depannya, layar ponsel masih menyala. Foto Ginara di antara staf kafe terpampang jelas. Tertawa kecil, ekspresi polos-dan sekarang ia tahu semua itu palsu. Tapi entah kenapa, rasa marah itu tidak datang sekuat yang ia kira.

"Dia bohongin gue. Nggak cuma soal kerjaan... tapi semuanya," gumamnya pelan.

Tangannya mengepal. Seharusnya dia marah. Seharusnya dia benci. Tapi kenyataannya... dia bingung. Karena satu hal yang paling mengganggunya bukan soal identitas Ginara sebagai polisi, tapi...

Kenapa perasaan ini nggak ikut palsu juga?

Jevaro berdiri, mondar-mandir di kamar yang sunyi. Ia menatap cermin. Bayangannya sendiri menatap balik, dingin. Ia tahu, Ginara bukan perempuan biasa. Tapi jauh sebelum dia tahu siapa Ginara sebenarnya, ada satu momen kecil yang selalu membayang di kepalanya-seorang anak perempuan, dulu, waktu dia masih remaja... yang tanpa alasan, menyelamatkan dia dari situasi yang bisa saja membunuhnya. Gadis kecil itu hanya muncul sekali, lalu hilang.

Dan sekarang, ia yakin. Itu Ginara.

"Lo penipu... tapi juga nyelametin gue dua kali," bisiknya lirih.

Jevaro duduk lagi. Kali ini, matanya menatap kosong ke langit-langit.

"Mau gue tangkep? Mau gue lepas? Atau..."

Ia menggertakkan rahang. "Atau gue biarin semua ini jalan sesuai arus?"

Tapi arus itu sekarang berisi dilema: antara menyelesaikan misi balas dendam lamanya... atau membayar utang hidup-yang, entah kenapa, terasa lebih penting daripada segalanya.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya... Jevaro nggak bisa tidur sama sekali.

---

Langit mendung sejak pagi. Aroma kopi pagi ini lebih pahit dari biasanya, atau mungkin suasana hatinya yang sedang tak stabil. Ginara datang lebih awal, menyibukkan diri di bar, memastikan stok rapi, alat bersih, dan wajahnya siap menampilkan senyum.

Tapi ketika pintu belakang terbuka, dan langkah kaki Jevaro terdengar masuk, seluruh tubuhnya menegang.

"Pagi," sapa Jevaro, datar.

"Pagi," balas Ginara cepat, tanpa menatap.

Dia berjalan ke arah meja bar, menaruh tasnya, lalu membuka kulkas minuman. Gerakannya seperti biasa, tapi Ginara bisa merasakan: ada sesuatu yang berubah. Tidak ada obrolan iseng, tidak ada lelucon sarkas yang biasa Jevaro lempar setiap pagi. Bahkan pandangannya... kosong.

"Gimana semalam? Aman pulangnya?" tanya Jevaro tiba-tiba.

Ginara menoleh, kaget. "Hah? Oh... iya. Aman kok."

CriminalCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang