START

345 22 3
                                        

Ginara baru saja tiba di apartemennya setelah menjalankan misi pertamanya: memasang kamera tersembunyi di rumah Jevaro

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ginara baru saja tiba di apartemennya setelah menjalankan misi pertamanya: memasang kamera tersembunyi di rumah Jevaro. Pekerjaan itu berjalan lancar, tapi pikirannya masih dipenuhi strategi—bagaimana caranya mendekati pria buronan itu dan membuatnya percaya.

“Ngantuk banget gue…” gumamnya sambil melempar tubuh ke kasur.

Malam ini, dia memutuskan untuk mengabaikan semuanya. Sementara. Otaknya butuh istirahat dari misi-misi rumit yang mulai menguras tenaga dan emosi.


Suara ketukan keras mengganggu tidur nyenyaknya. Bukan sekali dua kali, tapi berulang-ulang—berisik dan tanpa ampun.

“Mimpi gue belum selesai, elah…” gumam Ginara kesal, masih setengah sadar.

“ASSALAMUALAIKUM, GII! BUKA Nggak PINTU LOOO!!”

Teriakan itu tak asing. Dengan mata sebal dan langkah berat, Ginara berjalan ke arah pintu. Dia tahu persis siapa itu: Juan—saudaranya sendiri, lengkap dengan seragam polisi dan volume suara yang selalu over.

Begitu membuka pintu, Ginara langsung nyerocos tanpa basa-basi.

“Ngapain lo pagi-pagi ke sini? Ganggu tidur gue aja. Tau nggak mimpi gue belum kelar? Mana ngetok pintunya kayak mau jebol! Mau ngapain sih? Mau rusak pintu gue?”

Juan mengangkat alis, malas meladenin omelan Ginara. “Lo baru buka pintu langsung nyerocos. Mana sempat gue ngomong?”

Ginara melipat tangan, menatap Juan datar. Mood-nya seketika hancur begitu lihat wajah menyebalkan itu.

“Cepet, mau apa lo?”

“Aku tuh niat baik, Gi. Mau nganter mobil buat lo. Tapi ngeliat lo nyolot begini, yaudah deh… mending gue jual aja, bisa beli LEGO satu set.”

Ginara tetap memasang ekspresi datarnya. Ancaman receh Juan nggak ngaruh.

“Yaudah pergi aja. Gue bisa beli mobil sendiri, gak butuh bantuan lo.”

“Yaelah baperan amat. Nih, kuncinya. Mobil udah di bawah. Gue cabut dulu, mau ke kantor.”

Juan melempar kunci ke Ginara lalu pergi begitu saja. Ginara mendesah, memutar bola mata, lalu menutup pintu.

Dia kembali ke dalam, mandi, dan mulai menyiapkan sarapan. Hari baru dimulai, dan misi baru menunggu. Tapi untuk sekarang, kopi dan telur orak-arik jadi prioritas.

------

Di sinilah Ginara sekarang—di kantor polisi, tempat masyarakat mengadukan kekejaman, meminta keadilan, dan menaruh harapan pada hukum. Tapi hari ini, dia bukan di sini untuk menerima laporan, melainkan menyusun strategi.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang