Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit malam Jakarta mendung, menggantung seperti perasaan yang sejak sore menyesaki dada Ginara. Jalanan di luar apartemennya basah, hujan baru saja berhenti. Tapi di dalam dirinya, badai masih bergemuruh.
Pesan dari Jegar masih menyala di layar ponsel: "Target akan ditangkap malam ini. Lo gak perlu turun tangan. Tetap di posisimu. Jangan lakukan apa pun."
Ia menatap layar itu seperti menatap ultimatum yang tak bisa ditawar. Tapi bagaimana bisa dia hanya diam? Bagaimana bisa dia berpura-pura tak peduli, ketika orang yang akan mereka tangkap adalah pria yang—entah sejak kapan—mengisi celah dalam hatinya yang bahkan dia sendiri tak sadari sudah retak sejak lama?
Ginara menghembuskan napas panjang. Tangannya gemetar saat menaruh ponsel di meja. Di depan cermin, bayangannya tampak rapuh. Mata yang selama ini selalu tajam kini menyimpan tanya yang tak terucap.
“Lo berubah, Gin,” kata Jegar waktu itu. Dan dia benar.
Perlahan, ia membuka laci meja kecilnya. Di dalamnya tersimpan file investigasi tentang Jevaro—semuanya lengkap, dari awal pengintaian sampai daftar transaksi mencurigakan. Tapi di antara berkas-berkas itu, ada satu foto yang tak pernah dilaporkan ke pusat.
Sebuah foto candid. Jevaro duduk sendirian di pinggir danau, tangan menggenggam rokok yang tak dinyalakan, tatapan kosong ke permukaan air yang tenang.
Bukan wajah kriminal. Tapi wajah seseorang yang kehilangan sesuatu—atau seseorang.
Ginara menarik napas dalam, lalu merobek foto itu jadi dua, membuangnya ke tempat sampah. “Gue polisi. Bukan korban perasaan,” gumamnya.
Tapi perasaan... tak bisa diinterogasi.
Di tempat lain, Jevaro duduk di dalam mobilnya, parkir di sisi jalan kecil dekat toko roti tua yang sudah tutup. Tangannya di setir, mata memandang ke kejauhan.
Ia tahu ia sedang diburu. Ia bisa merasakannya. Tapi lebih dari itu, ia tahu… pengkhianatan itu sudah dekat.
Bukan dari musuh, tapi dari seseorang yang lebih berbahaya: orang yang ia percaya.
“Ginara…” bisiknya, nyaris tak terdengar.
Jevaro menarik ponsel dari saku jaketnya. Tak ada pesan. Ia ingin menulis sesuatu. Apa pun. Tapi ujung jarinya hanya bergetar di atas layar.
Kalau lo beneran pengkhianat… kenapa masih gue tunggu?
Ia memejamkan mata. Dalam kegelapan pikirannya, wajah ayahnya muncul—tersenyum, lalu berubah menjadi pendar merah darah yang mewarnai ruang kerja mereka. Suara ibunya yang menjerit. Teror itu kembali seperti hantu yang tak mau mati.
Dan sekarang, Ginara akan jadi hantu yang lain.
Ia menghidupkan mesin mobil, arahkan tujuannya satu: rumah Gunawan.
Sementara itu, Naufal duduk sendiri di lantai apartemen. Lampu temaram, tangannya menggenggam map tebal yang berisi catatan, foto, dan rekaman. Selama berbulan-bulan ia mengumpulkan semuanya. Tentang kakaknya. Tentang Jevaro. Dan yang paling penting… tentang ayahnya.
Gunawan.
Pria yang selama ini ia puja sebagai panutan, ternyata tak lebih dari monster berjas rapi. Bukti kejahatan yang ia temukan bukan hanya soal konflik lahan, tapi juga pencucian uang, pembunuhan berencana, dan koneksi politik kotor.
Dan sekarang… dia tahu ayahnya bersalah. Tapi apa itu cukup untuk membuatnya membenci pria yang telah membesarkannya?
Naufal menunduk. Di layar laptopnya, muncul folder rahasia dari USB yang diam-diam ia salin dari brankas ayahnya. Isinya mengerikan—peta lokasi pengiriman senjata ilegal, daftar nama pejabat yang disuap, hingga catatan pribadi Gunawan tentang rencana pembunuhan Pak Harun, ayah Jevaro.
Tangannya mengepal. Pilihannya hanya dua: diam, atau membongkar semuanya.
Ia membuka ponsel, membuka kontak: Ginara.
Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya mengetik: "Aku tahu semua. Kita harus bicara. Malam ini. Rahasia."
Jevaro berdiri di atap gedung tua yang menghadap langsung ke halaman belakang rumah Gunawan. Kamera malam terpasang di satu sisi, sementara alat penyadap ia tanamkan ke sambungan listrik minggu lalu.
Dari headset-nya, suara percakapan terdengar samar:
“Kita harus percepat rencana. Polisi udah mulai curiga. Dan si Jevaro kayaknya udah ngendus sesuatu.”
“Biar dia datang. Kalau dia muncul, pastikan dia gak keluar hidup-hidup.”
Jevaro mencatat setiap suara. Setiap kata. Ia tahu ini bukan waktunya menyerang. Tapi ia juga tahu: malam ini akan jadi malam terakhir bagi kebusukan keluarga Gunawan.
Namun sebelum ia bergerak, ponselnya bergetar. Pesan masuk.
Dari… Ginara.
Bukan kata-kata panjang. Hanya satu kalimat: "Kalau masih percaya, temui aku. Sekarang. Sendiri."
Kafe kecil di ujung kota itu sudah sepi saat Jevaro datang. Lampunya redup, hanya ada satu pelayan yang tertidur di kursi kasir.
Ginara duduk di sudut ruangan, hoodie hitam menutupi sebagian wajahnya. Ketika Jevaro masuk, mereka hanya saling menatap.
Diam. Dingin. Tapi penuh api.
“Apa ini jebakan?” tanya Jevaro tanpa duduk.
Ginara menatapnya, lalu menggeleng pelan. “Kalau iya, lo udah ditembak dari tadi.”
Jevaro duduk perlahan. Jarak antara mereka seperti jurang yang tak bisa diseberangi. Tapi tatapan mereka saling mencari, seperti dua jiwa yang tersesat di medan perang.
“Lo tahu semua, ya?” tanya Ginara.
Jevaro mengangguk. “Lo polisi.”
“Lo pembunuh,” balas Ginara datar.
Sunyi.
“Tapi lo juga bukan sekadar itu,” lanjut Ginara, pelan. “Gue tahu. Dan itu yang bikin semua ini kacau.”
“Gue bisa pergi malam ini juga,” kata Jevaro. “Gue bisa kabur. Tapi gue gak mau.”
Ginara menunduk. “Gue gak bisa ngelindungin lo kalau bukti lo terus gue abaikan.”
“Dan gue gak butuh lo lindungin,” gumam Jevaro.
Mereka saling tatap lagi. Kali ini bukan untuk saling tuduh, tapi untuk saling cari celah—untuk bisa percaya lagi, walau mustahil.
“Kalau gue kasih semua datanya ke lo,” kata Jevaro pelan, “Lo janji gak tangkep gue dulu?”
Ginara tak langsung jawab.
“Gue gak janji,” katanya akhirnya. “Tapi gue akan dengerin.”
Malam itu, mereka bertukar data. Rahasia dibuka. Dendam dipertontonkan. Tapi satu hal tetap tidak terjawab:
Setelah semua ini… apakah mereka masih bisa menyebut satu sama lain sebagai sekutu?
Dari kejauhan, Naufal memperhatikan. Ia berdiri di sisi lain jalan, mengenakan topi dan masker, menyamar.
Ia melihat Ginara dan Jevaro di dalam kafe. Mereka berbicara. Lama.
Dan di matanya—bukan dendam yang terlihat, tapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang belum bisa ia pahami.
Naufal menunduk, tangan di saku. Di dalamnya, ada flashdisk berisi bukti kehancuran keluarganya sendiri.
Ia tahu... ini baru permulaan. Jalan yang mereka pilih bukan lagi soal siapa yang salah, tapi siapa yang berani bertanggung jawab atas kebenaran yang terlanjur berlumuran darah.
HOLAAAAA 🤩🤩, KALO ADA TYPO MOHON MFFF BNETT, JANGAN LUPA VOTE DAN FOLLOW AKUNN AKU YAAA BUBBB 😘