INVISIBLE LINE

123 13 4
                                        

Langit malam masih kelabu ketika Ginara duduk sendiri di halte seberang apartemen

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Langit malam masih kelabu ketika Ginara duduk sendiri di halte seberang apartemen. Rambutnya setengah basah oleh gerimis yang turun tak menentu, dan matanya tak lepas dari layar ponsel yang diam. Tak ada pesan baru. Tak ada kabar. Tapi dadanya terus berdegup tak karuan.

Sudah tiga hari sejak kejadian di kafe-sejak Rama muncul dan menatapnya seolah tahu segalanya. Sejak Jevaro berubah diam, menjauh, dan lebih banyak menghabiskan waktu sendirian di ruang belakang. Kafe masih buka seperti biasa, pelanggan tetap masih datang, tapi suasana di dalamnya terasa... aneh. Terlalu sunyi, terlalu penuh kehati-hatian.

Dan Ginara bisa merasakannya: ada sesuatu yang bergerak di balik layar.

Ponselnya tiba-tiba bergetar. Notifikasi dari pengirim tak dikenal.

[Nomor tidak dikenal] 20.47 Kamu sudah terlalu dekat. Keluar sebelum semuanya terbakar.

Ginara langsung berdiri. Matanya menelusuri sekitar, mencari siapa pun yang mencurigakan. Tapi jalanan kosong. Hanya suara hujan dan lampu kendaraan yang lewat sesekali.

Nafasnya memburu. Jari-jarinya gemetar saat mengetik.

[Ginara] 20.48 Siapa kamu?

Tak ada balasan. Tapi perutnya terasa seperti diikat. Dia tahu, pesan itu bukan ancaman kosong. Itu... peringatan.

Ia kembali ke apartemen dengan langkah cepat, membuka laptop dan langsung membuka folder rahasia. Semua file penyelidikan Jevaro ada di sana. Tapi matanya kini tertuju pada satu rekaman lama-rekaman suara dari satu interogasi yang dulu sempat diabaikannya.

Suara seorang narapidana, samar tapi jelas:

"Kalau kau dekati Jevaro terlalu dalam, kau nggak cuma akan terjebak dalam hidupnya. Kau akan ikut jatuh. Karena dia punya satu kemampuan yang orang lain nggak sadar: dia tahu kapan seseorang bohong... bahkan sebelum mereka buka mulut."

Ginara menutup laptopnya dengan cepat. Nafasnya tak stabil. Tangannya mencengkeram ujung meja.

Di sisi lain kota, Jevaro berdiri di balkon apartemennya. Rokok di tangannya menyala pelan, tapi tak disentuh. Pandangannya kosong menatap kota yang basah.

Rendra muncul dari dalam, membawa sebotol bir dan ekspresi gelisah.

"Lo yakin kita nggak perlu pindah lokasi? Rama udah keliatan. Anak buahnya juga udah mulai gerak."

Jevaro diam. Lalu perlahan berkata, "Mereka bukan target gue."

Rendra menatapnya tak percaya. "Terus siapa?"

Jevaro tak menjawab langsung. Ia menatap ke arah langit gelap, lalu bergumam, "Orang yang ngebunuh adik gue. Yang ninggalin gue waktu itu. Orang itu... masih hidup. Dan sekarang, dia lebih dekat dari yang kita kira."

Rendra menegang. "Lo yakin? Siapa?"

Jevaro hanya menatap kosong. Tapi di hatinya, satu nama mulai muncul. Dan itu membuat pikirannya semakin buntu.

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang