Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Lampu neon berkelip lemah di sudut ruangan pengap itu. Jevaro berdiri membelakangi jendela kecil yang tertutup tirai lusuh. Hujan mengetuk kaca seperti detak waktu yang tak sabar. Di hadapannya, di atas meja berlapis debu, terpampang beberapa berkas foto lama. Wajah Rama terlihat di salah satunya-dalam balutan jas mahal, tersenyum penuh percaya diri. Namun bukan itu yang membuat Jevaro menahan napas.
Melainkan sosok lain, berdiri satu langkah di belakang Rama. Aldo, komisaris yang dulu menghilang tanpa jejak, kini terlihat akrab dalam satu bingkai.
"Aldo...?" desis Jevaro, suaranya hampir tak terdengar.
Ginara yang baru masuk ke ruangan itu ikut membeku melihat gambar itu. "Itu... bukan kebetulan," gumamnya, mengambil satu foto lain yang menunjukkan transaksi gelap-sebuah flashdisk berpindah tangan di parkiran gelap. Tanggalnya menunjukkan dua tahun lalu. "Ini semua sebelum aku masuk ke tim investigasi pusat..."
Jevaro menatapnya. "Dia menyamar?"
Ginara menggeleng. "Bukan. Aku rasa dia berpihak."
Diam. Yang terdengar hanya hujan dan desahan napas mereka sendiri.
Sudah berbulan-bulan mereka menyelidiki Rama. Tapi baru malam ini mereka melihat bagaimana dalamnya akar pengkhianatan itu tumbuh. Rama tidak hanya menguasai pasar gelap senjata dan narkoba lintas provinsi. Ia juga memiliki pengaruh di dalam tubuh kepolisian. Nama-nama dalam foto itu membuat darah mereka dingin: kepala intel daerah, mantan penyidik kasus ayah Jevaro, dan satu lagi-Wakil Direktur Penindakan.
"Dia menciptakan benteng," gumam Ginara. "Bukan cuma uang. Tapi perlindungan. Sistem."
Jevaro duduk, menekuk jarinya, dan menatap lantai. "Itu sebabnya dia tak pernah bisa disentuh. Bahkan ketika kita tahu di mana dia berada."
Ginara mengangguk pelan. "Misi malam ini bukan cuma soal menangkapnya. Tapi memutus rantai ini. Sekali dan untuk selamanya."
Jevaro bangkit lagi. "Kita butuh lebih dari bukti. Kita butuh... satu pengkhianat yang balik arah."
Ginara tahu siapa yang dimaksud. Dan ia tak yakin itu mungkin.
---
Beberapa jam kemudian. Di tengah guyuran hujan dan kilat yang menyambar langit kota, Ginara dan Jevaro berdiri di dalam mobil hitam tua yang terparkir di luar sebuah gedung tua di kawasan pelabuhan. Di dalam gedung itulah, Rama dikabarkan akan bertemu seseorang. Tapi kali ini, dia tidak membawa banyak pengawal.
Ginara memandang Jevaro, diam sejenak sebelum berbicara.
"Kalau ini gagal..."
"Gak akan gagal," potong Jevaro pelan. "Karena lo di sini."
Untuk sesaat, hujan di luar tidak terasa terlalu dingin. Mata Ginara melembut. Ada sesuatu dalam nada suara Jevaro yang tidak sama seperti biasanya. Bukan sekadar percaya diri, tapi... takut kehilangan.