Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Langit malam terasa jauh lebih gelap dari biasanya. Awan menggulung seperti pertanda badai, meski tak setetes pun hujan turun. Di dalam markas rahasia milik tim Jevaro, udara dipenuhi ketegangan yang tak kasat mata. Semua orang bekerja dalam diam, hanya denting keyboard dan suara gesekan kertas yang terdengar sesekali.
Ginara duduk di sudut ruangan, matanya terpaku pada laporan intelijen terbaru. Jevaro berdiri di belakangnya, diam mengamati tanpa bicara. Mereka belum benar-benar bicara sejak kejadian di malam penggerebekan. Bukan karena mereka bertengkar, tetapi karena kenyataan terlalu rumit untuk diurai dalam kata-kata.
"Ada yang mencurigakan dari laporan ini," gumam Ginara pelan, menunjuk pada foto seorang pria yang wajahnya tampak familiar.
Jevaro mencondongkan tubuhnya ke depan. "Itu Raka. Anak buah Rama yang sempat menghilang dua tahun lalu."
"Kenapa dia muncul lagi sekarang? Dan kenapa di lokasi yang sama dengan tempat pengepul senjata ilegal itu?"
Jevaro mengangguk pelan. "Mungkin Rama sedang merencanakan sesuatu yang lebih besar. Kita belum tahu semua kartunya."
Ginara mendesah. Kepalanya terasa berat, bukan hanya karena data dan misi—tetapi karena semua emosi yang ia tahan. Rasa takut kehilangan, rasa bersalah atas keputusan-keputusan masa lalu, dan perasaan pada Jevaro yang terus tumbuh meski ia tahu hubungan itu mungkin tak punya masa depan.
"Aku... mimpi lagi tadi malam," kata Ginara lirih, nyaris tak terdengar.
Jevaro menatapnya. "Tentang apa?"
"Mayat. Banyak mayat. Dan kamu berdiri di tengah-tengah mereka. Berdarah. Tapi kamu tersenyum."
Jevaro tak menjawab. Ia tahu Ginara mulai kesulitan membedakan antara naluri dan mimpi buruk. Ia sendiri mulai merasa seperti berada di dua dunia yang berbeda: satu dunia di mana ia bisa mencintai Ginara, dan dunia lain di mana ia harus bertahan sebagai pemimpin pasukan bayangan.
"Kalau mimpi itu adalah pertanda, kita harus lebih hati-hati," ucap Ginara sambil bangkit dari kursinya.
"Atau justru harus lebih cepat," balas Jevaro. "Kalau Rama sedang membangun kekuatannya lagi, kita gak bisa cuma menunggu sampai semuanya terlambat."
---
Di tempat lain, Rama sedang duduk di sebuah ruang tamu mewah, menyesap anggur merah sambil membaca laporan dari orang-orangnya. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tajam seperti pisau.
"Raka sudah dihubungi?" tanyanya.
"Sudah. Dia akan tiba di pelabuhan tua malam ini," jawab salah satu anak buahnya.
Rama mengangguk pelan. "Bagus. Kita harus pastikan mereka tidak menyentuh kargo yang akan datang."
Anak buahnya ragu sejenak, lalu bertanya, "Kalau mereka tahu, apa kita masih lanjut?"