BREWING SECRETS

116 11 0
                                        

Pagi itu, suasana kafe belum ramai

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pagi itu, suasana kafe belum ramai. Hanya terdengar bunyi mesin grinder dan denting gelas yang dibersihkan Ginara di bar. Matahari baru saja naik, menyinari sudut-sudut kayu kafe yang hangat.

Jevaro berdiri tak jauh dari tempat Ginara bekerja. Ia tampak sibuk, namun diam-diam mengamati setiap gerakan barista barunya itu.

“Kalau kamu terus konsisten kerja kayak gini, bisa saya ajarin langsung menu spesial yang nggak semua staf tahu,” ucap Jevaro, suaranya tenang namun penuh arti.

Ginara menoleh, tersenyum sopan. “Terima kasih. Saya akan berusaha Pak.”

Tawaran itu jelas bukan hal sepele. Berdasarkan data tim investigasinya, menu spesial yang dimaksud adalah kode transaksi yang sering digunakan untuk menyamarkan komunikasi ilegal antar jejaring kriminal yang dipimpin Jevaro.

Di balik senyum profesionalnya, Ginara mencatat detail itu dalam ingatannya.

Tak berselang lama, pelanggan pertama mulai datang. Ginara dengan cekatan melayani, memperhatikan suasana, dan mencuri waktu untuk memantau pola interaksi Jevaro dengan tamu-tamunya. Beberapa dari mereka tampak terlalu formal untuk sekadar ngopi pagi.

Sekitar pukul sepuluh, Jevaro menghampiri Ginara yang sedang mengisi ulang stok biji kopi.

“Lo cukup cermat,” katanya tanpa basa-basi. “Gue suka orang yang kerja pakai otak, bukan cuma tangan.”

Ginara menahan napas sejenak sebelum menanggapi, “Kerja cermat juga buat lindungin tempat ini, kan? Kalau pelanggan nyaman, kita aman.”

Jevaro tertawa singkat. “Pinter juga jawabannya.”

Di balik obrolan ringan itu, keduanya seperti sedang mengukur kekuatan masing-masing. Jevaro—pemimpin yang penuh rahasia, dan Ginara—penyusup yang menyimpan misi.

Di pojok ruangan, kamera kecil yang tersembunyi di lampu gantung terus merekam. Juan dan tim di markas memantau tanpa suara, mencatat setiap kata, gestur, dan potensi celah.

Hari baru dimulai. Tapi di balik secangkir kopi, rencana besar perlahan mulai diseduh.

Dengan senyum tipis yang masih mengendap di wajahnya, Ginara kembali ke balik bar, menyibukkan diri dengan menyusun gelas dan memastikan daftar stok pagi lengkap. Tapi pikirannya tak bisa berhenti berputar. Ucapan Jevaro barusan mengandung lebih dari sekadar pujian—ada nada ujian di dalamnya.

Tak lama, seorang pelanggan pria berbadan besar dengan jaket kulit hitam masuk dan langsung duduk di sudut ruangan. Ia tidak memesan apa pun. Hanya memberi anggukan pada Jevaro, yang membalas dengan lirikan singkat.

Ginara memperhatikan, pura-pura menyeduh kopi. Ia tahu betul, pelanggan itu bukan pelanggan biasa.

Beberapa menit kemudian, Jevaro menghampiri Ginara dan berkata, “Ambilin ‘menu hitam’ dari rak belakang. Kasih ke meja 7, ya.”

CriminalTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang