Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, Ginara menatap layar ponselnya cukup lama. Chat terakhir dari Jevaro masih tak berubah—hanya balasan singkat dua hari lalu. Setelah itu, diam.
Dara tadi pagi sempat nyeletuk kalau Jevaro gak masuk karena ada urusan keluarga di Jakarta. Tidak ada detail, tidak ada kejelasan. Tapi bagi Ginara, itu sudah cukup jadi tanda tanya besar.
Ia duduk di bangku kecil dapur kosannya, secangkir kopi yang sudah dingin menggigil di tangan. Matanya lelah, tapi pikirannya lebih lelah lagi.
“Pergi tanpa kabar…” gumamnya pelan.
Apakah Jevaro tahu? Atau… apakah Jevaro mulai curiga?
Tapi Ginara menepis pikiran itu. Sejak awal, misinya bukan soal tebak-tebakan. Ia harus tetap fokus. Dingin. Rasional. Itulah kenapa dia bisa bertahan selama ini.
Namun sejak bersama Jevaro… semuanya mulai buram. Batas antara akting dan kenyataan makin kabur. Cara Jevaro memandangnya, tanggapan singkatnya, sorot matanya yang seolah tahu lebih dari yang ia ucapkan—semua itu mengusik Ginara lebih dari yang ia mau akui.
Sambil membuka catatan laporan di laptop, Ginara menarik napas panjang. Tapi jari-jarinya tak kunjung mengetik. Otaknya justru memutar ulang momen semalam: ketika ia duduk berdua dengan Jevaro di motor, ketika angin malam membawa diam yang entah kenapa terasa nyaman.
"Kalau dia tahu... kenapa dia gak langsung bereaksi?" pikir Ginara.
Ponselnya berbunyi. Sebuah pesan dari Juan masuk: “Ada perkembangan. Kita harus ketemu malam ini. Rahasia.”
Ginara menatap pesan itu lama, lalu menutup laptop pelan.
Hari ini, ia harus menyingkirkan perasaan. Karena malam nanti… mungkin akan mengubah semuanya.
Malam itu, Ginara mengenakan hoodie hitam dan jeans gelap. Ia memilih tempat parkir agak jauh dari kafe kecil tempat ia dan Juan sepakat bertemu. Tempat itu tidak terlalu ramai—hanya beberapa pengunjung yang duduk sambil sibuk dengan ponsel masing-masing. Aman.
Juan sudah duduk di sudut, topi diturunkan rendah, wajahnya tersembunyi bayangan. Ia mengangkat pandangan saat Ginara mendekat, lalu langsung ke inti.
"Dia tahu," kata Juan pelan, tanpa basa-basi.
Ginara langsung duduk, tubuhnya menegang. "Jevaro?"
Juan mengangguk pelan. "Kemungkinan besar. Dia nyari ke Jakarta bukan buat urusan keluarga. Dia ke kantor lama lo—bagian dokumentasi."
Ginara membeku. "Gila. Secepat itu?"
"Entah dia cuma curiga atau udah punya bukti. Tapi jelas dia lagi nyari jawaban. Dan itu bahaya, Gin."
Ginara menggigit bibirnya. Ada sesuatu yang menggelitik di dadanya—bukan rasa takut, tapi semacam kecewa. Bukan karena misinya terancam, tapi karena Jevaro... ternyata lebih dalam dari yang ia sangka.