Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Keesokan harinya, pagi menyelinap pelan di sela-sela tirai kamar Jevaro. Ia berdiri di depan jendela, menatap jalanan yang mulai sibuk dengan aktivitas warga. Tapi pikirannya masih melayang, terjebak di antara ingatan dan perasaan yang tak pernah ia akui.
Pesan dari Ginara yang belum sempat dibalas masih terpampang di layar ponsel. Ia tahu, di balik kata-kata singkat itu, ada banyak hal yang tak terucapkan. Ada harapan, ada kepercayaan—dan mungkin, ada rasa yang sulit dia sendiri pahami.
Jevaro menggenggam ponsel itu erat, seolah mencoba menyerap keberanian yang tak pernah ia miliki dulu.
Sementara itu, di tempat lain, Ginara sedang bersiap-siap menuju kafe. Ia menatap dirinya di cermin, menarik napas dalam. Pikirannya berputar-putar tentang Jevaro—tentang kebaikan yang tersembunyi di balik sisi gelap pria itu, dan dilema yang mereka berdua hadapi.
Dengan langkah mantap, ia mengunci pintu apartemennya dan melangkah keluar. Di hatinya, meski penuh ketidakpastian, ada tekad kuat yang membara.
Hari ini, permainan mereka belum selesai. Namun, kedekatan yang tak terduga mulai merajut benang-benang baru—benang yang bisa mengubah segalanya, entah menjadi penyelamat atau kehancuran.
Dan di antara tumpukan bayang dan cahaya itu, mereka berdiri—dua jiwa yang terikat dalam kisah yang belum usai.
Pagi itu, Jevaro memutuskan untuk tidak mengabari Ginara sama sekali. Ia tahu, ada urusan mendesak dengan ibunya di Jakarta yang tak bisa ditunda, dan merasa cukup berat untuk menjelaskan alasan sebenarnya.
Sementara itu, di kafe, Ginara sudah menunggu seperti biasa. Namun, Jevaro tak kunjung muncul. Rasa penasaran mulai mengganjal, tapi ia tetap menunggu dengan sabar.
Tak lama, Dara, rekan kerja Ginara, menghampiri sambil membawa secangkir kopi. “Eh, kamu tau gak? Jevaro tadi pagi buru-buru pergi ke Jakarta, katanya ada urusan keluarga yang penting. Tapi dia nggak bilang sama kamu,” katanya santai.
Ginara terdiam sejenak, lalu menatap Dara dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Tanpa pesan atau kabar, Jevaro pergi begitu saja.
Meski begitu, dalam hati Ginara ada sesuatu yang lain—campuran antara kecewa dan pengertian. Ia tahu urusan keluarga Jevaro pasti berat. Namun, hatinya juga tak bisa lepas dari pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu.
Di balik semua rahasia dan tipu daya, hubungan mereka tetap terjalin oleh ikatan yang sulit diartikan, meski kata-kata dan waktu terkadang tak berpihak.
Jevaro menyetir dengan wajah datar, jalanan Jakarta di malam hari sepi, tapi pikirannya gaduh. Pesan dari Dara masih membekas: Naufal ingin bertemu, tapi Jevaro tak berniat menyerah atau meminta maaf.
Di sebuah kafe kecil yang sepi, Naufal sudah menunggu dengan tatapan penuh dendam.
Begitu Jevaro datang, Naufal langsung menatap dingin. “Lo pikir datang dan ngomong kayak gini bisa ngehapus semua yang udah lo lakuin?”