Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Naufal dewasa kini menjadi sosok yang penuh tekad dan kewaspadaan. Meski masa lalunya penuh luka dan kebencian yang tak terjelaskan, ia berusaha melangkah maju tanpa terperangkap oleh dendam yang diwariskan keluarganya.
Di balik ketenangannya, Naufal menyimpan rasa penasaran yang dalam tentang Jevaro—pria dingin yang pernah mencoba dijadikannya teman namun selalu menutup diri. Ia mulai mengumpulkan potongan-potongan informasi tentang Jevaro, mencari tahu siapa sebenarnya pria yang membunuh kakaknya dan menjadi musuh keluarganya.
Setiap petunjuk yang didapat menambah beban di pundaknya, tapi juga memperkuat tekadnya. Naufal sadar, untuk menuntaskan masa lalu dan mencari keadilan, ia harus memahami lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi di balik konflik berdarah itu.
Namun, di saat ia semakin mendekat pada kebenaran, bayangan masa lalu mulai menghantui, dan pertaruhan yang harus ia ambil bukan lagi sekadar soal dendam, tapi juga tentang masa depan yang ingin ia pilih.
---
Jevaro menarik napas panjang saat mobilnya melambat di depan rumah ibu di kawasan Jakarta yang sederhana tapi rapi. Hatinya campur aduk—antara beban masa lalu dan rasa tak nyaman yang selalu mengintai setiap kali ia menginjakkan kaki di sana.
Ibu Jevaro menyambutnya dengan senyum hangat, tapi sorot matanya menyimpan kekhawatiran. “Sudah lama kamu nggak pulang, Jek,” ucapnya pelan.
Jevaro hanya mengangguk, tidak banyak bicara. Ia tahu, kunjungan ini bukan sekadar bertemu ibu, tapi juga menghadapi bayang-bayang masa lalu yang belum selesai.
Di ruang tamu, suasana terasa sunyi. Jevaro duduk sambil melirik foto-foto lama keluarga—ada ayahnya yang dulu selalu jadi panutan, ada momen kecil bersama ibu, dan ada kenangan yang tak mudah dilupakan.
Meski dingin dan keras, Jevaro menyimpan luka yang dalam. Ia tahu perjalanan yang harus ia lalui belum selesai, dan kehadirannya di rumah ini adalah bagian dari babak baru yang penuh risiko dan pertarungan batin.
Ia menatap ke luar jendela, berharap menemukan jawaban yang selama ini sulit dicari. Dalam hati, ia berjanji—apapun yang terjadi, ia tak akan menyerah pada masa lalu yang kelam itu.
Malam itu, mereka duduk dalam diam yang menenangkan. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Jevaro membiarkan dirinya diam di rumah, bukan sebagai buronan atau pria penuh dendam, tapi sebagai anak yang masih berusaha memahami arti pulang.
Jevaro menatap langit-langit kamar lamanya. Atap yang masih sama, cat dinding yang mulai pudar, dan poster sepak bola yang tak pernah ia copot sejak SMA. Banyak hal berubah dalam hidupnya, tapi satu yang tak pernah pudar: amarah itu.
Namun berbeda dengan yang lain, Gunawan—ayah Naufal—tidak dibalas dengan peluru atau darah.
Bukan karena Jevaro tak mampu. Tapi karena ia memilih cara lain.
"Aku bisa aja ngebunuh dia waktu itu," gumam Jevaro lirih sambil menyandarkan diri di kursi. "Tinggal satu pelatuk. Tapi nggak akan ada bukti. Nggak akan ada keadilan."
Sejak membunuh Ariel, Jevaro tahu satu kesalahan: membiarkan amarah menguasainya hanya memberi pelampiasan sesaat, tapi tidak menyelesaikan apa pun. Dan Gunawan bukan hanya pembunuh ayahnya—ia adalah aktor intelektual di balik banyak kejahatan lain. Korupsi, pemerasan, penghilangan bukti, semuanya dilakukan dengan rapi.
Membunuh Gunawan berarti menghilangkan satu nyawa. Tapi membuktikan kejahatannya berarti menghancurkan semua yang ia bangun—membuatnya hancur secara hukum dan harga diri.
Itulah kenapa Jevaro menyusup, menggali dokumen, menanam kamera kecil di tempat-tempat tak terlihat, dan diam-diam memata-matai pergerakannya.
“Aku nggak butuh dia mati,” bisiknya pelan. “Aku butuh dia kalah.”
Dan untuk itu, ia butuh waktu. Sabar. Dan pengendalian diri.
Jevaro berdiri di depan jendela kamar, memandangi halaman belakang rumah ibunya yang kini dipenuhi rumput liar. Tangannya mengepal di sisi tubuh, wajahnya tenang namun sorot matanya menyimpan amarah yang tak kunjung padam.
Suara langkah kaki ibunya terdengar mendekat, tapi Jevaro tak berpaling. Ia masih terjebak dalam pikirannya—mengingat malam saat ia menemukan ayahnya tergeletak di ruang kerja, tubuh dingin dengan noda darah yang masih segar, dan di tangannya… dokumen tanah yang diserobot paksa.
Itu bukan sekadar pembunuhan. Itu pengkhianatan.
Gunawan dan Ariel datang sebagai "rekan bisnis". Ayah Jevaro yang seorang pengusaha properti jujur awalnya menolak terlibat dalam alih fungsi lahan ilegal yang mereka rancang. Tapi penolakannya justru mengancam rencana mereka. Ariel, yang kala itu masih muda dan ambisius, menjadi eksekutor diam-diam di balik kematian ayah Jevaro. Gunawan? Dia yang menghapus semua jejak.
Tak ada bukti, tak ada saksi. Hanya tangis sang ibu dan dendam yang tak pernah padam.
“Kalau aku bunuh Gunawan,” gumam Jevaro pada dirinya sendiri, “aku sama aja kayak mereka.”
Ia membuka laci meja tua dan menarik satu map kusam berisi catatan kecil, foto, rekaman transaksi gelap, dan salinan percakapan telepon. Sedikit demi sedikit, semua potongan mulai membentuk gambaran besar.
Ia menatapnya lekat-lekat. “Aku akan hancurin lo dari dalam, Gunawan. Tanpa darah, tapi habis.”
Untuk pertama kalinya, dendam Jevaro tidak lagi berwujud amarah membara. Ia menjelma menjadi rencana yang dingin, sabar, dan mematikan.
Dan di sisi lain, ada satu nama yang kini terus menghantui pikirannya: Ginara.
Karena di antara dendam dan luka masa lalu, muncul rasa yang belum pernah ia pahami.