Sashi segera bangkit begitu dia menerima pesan dari Dinda. Gadis itu pasti sudah melihat video yang tersebar. Entah dia menemukannya secara mandiri atau seseorang telah memberitahunya. Membayangkan bagaimana perasaan Dinda saat ini bikin perut Sashi seperti dipelintir. Rasa mualnya semakin menjadi tapi dia tidak bisa bersikap seperti pengecut. Dia harus menghadapi Dinda dengan membaca sederet pesan yang dikirim oleh gadis itu.
Dinda: Sash, tega ya?
Dinda: Gue selalu percaya sama lo
Dinda: Is this what I get in return?
Sashi: Lo di mana? Biar gue samperin
Read
Sashi: Din?
Blocked.
Sashi memejamkan mata. Kekecewaan Dinda terhadapnya adalah sesuatu yang wajar. Bahkan jika Dinda mendatanginya untuk melayangkan sumpah serapah dan sejumlah makian kasar, Sashi bisa mengerti. Itu adalah reaksi yang sangat wajar.
Sashi memang salah karena sudah menyukai Ibas. Perasaan itu dia pendam sendiri karena tidak ingin menyakiti Dinda. Tapi semalam Sashi mabuk dan segalanya terasa benar saat bibirnya menyentuh milik Ibas.
Dia brengsek, Sashi tau itu. Tapi Dinda perlu mendengar penjelasannya. Ibas juga harus turut menjelaskan apa yang terjadi. Makanya Sashi segera menghubungi cowok itu tanpa pikir panjang.
"Bas," Sashi terburu menyapa begitu panggilannya terhubung. "Semalamㅡ"
"Lo jelasin semuanya sama Dinda. Dia nggak mau ngomong sama gue!"
"Gue mabuk, Bas. I didn't think clearly."
"Not even my business. You were the one who started kissing me. Gue putus sama Dinda gara-gara lo."
"Ibasㅡ"
Tidak ada jawaban, sambungan mereka diputus secara sepihak oleh Ibas. Lucu sekali bagaimana Ibas hanya bisa menyalahkannya atas semua kekacauan ini. Karena seingat Sashi, rasa-rasanya Ibas tidak berusaha mendorongnya menjauh saat bibir mereka bertemu. Justru, cowok itu membalas setiap pergerakannya dengan kesadaran penuh.
Benar, Sashi ingat. Irdiansyah Bagaskara was totally sober last night. Laki-laki itu brengsek. Dia mengambil kesempatan di saat Sashi mabuk, dia menikmati ciuman itu dan sekarang dia malah cuci tangan dengan menitik beratkan seluruh kesalahan hanya pada Sashi.
Fuck.
Sashi tidak pernah merasa berada di titik serendah ini. Terbangun di pagi hari dalam keadaan dicecar habis-habisan oleh masyarakat bukan sesuatu yang dia inginkan. Semua ini terasa seperti mimpi buruk, tapi mereka terlalu nyata untuk disebut mimpi.
Skandal tentang penikungannya makin memanas di Twitter. Sashi digoreng habis-habisan oleh ribuan manusia. Cuitan template yang dibuat secara iseng oleh seseorang bahkan menjadi lapak untuk baku hantam hanya karena template tersebut terkesan membelanya.
kucinggarong Orang yang ngetawain dan ngejokes tentang masalah Sashi mungkin dia belum ketemu langsung. Sebaik dan sehumble itu dia sama orang baru, salah satunya ke gue yang awalnya gue fans sama dia malah bisa jadi temen. Semua yang udah ketemu dia pasti sependapat sama gue.
mintchoco kak??? Dia ciuman sama pacar sahabatnya loh
sehunthesheep ngebelain pelakor udah kayak bela agama. Gws.
cegildepok alah, tai. Muka songong begitu humble dari mananya?
chaeryz Dibayar pun gue gak mau temenan sama manusia problematik kayak dia
ㅡflawmingo Aslinya dia emang gak punya temen tauuu. Fun factnya temen-temen dia emang temen bayaran semua wkwk
ㅡchaeryz Loh, beneran?
ㅡflawmingo Bener kak. Aku kenal dia di real life. Si Sashi tuh suka traktir orang biar ditemenin. Aslinya mah anak-anak pada males temenan sama dia
ㅡchaeryz Jangan-jangan lo temen bayarannya juga ya? Najis banget @kucinggarong
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
General FictionSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
