Warning: 17+ (maybe?). No sex scene cuma omongannya Sashi aja yang gak difilter.
***
Kala berhasil menculik Sashi ke unitnya. Juga membuat gadis itu duduk manis di sofa. Sofanya nyaman, ngomong-ngomong. Lembut sekali sampai rasanya Sashi mengantuk dan ingin menumpang tidur. Ribut dengan Setta(n) dan Nami ternyata menguras banyak tenaga.
Sashi perlu rebahan setidaknya dua hari tanpa diganggu oleh siapa-siapa TAPI MANA MUNGKIN!!!
Lihat saja bagaimana Kala seperti sedang bersiap menyidangnya.
"Jangan ngeliatin gue begitu, nanti naksir beneran. Kan nggak lucu lo jilat ludah sendiri." Sashi menguap dengan mata yang sudah sayu. Semalam dia tidak begadang kok. Efek sofa empuknya Kala ini sangat luar biasa. Berapa ya dia membelinya?
"Cowok yang di parkiran tadi itu siapa?"
"Hng," Sashi berlagak berpikir. Dia malas mengingat Setta sebagai kakak laki-lakinya. Tidak berniat membuka diri dan menjual cerita sedih pada Kala juga.
"Sashi," panggil cowok itu tegas.
Dia membuat wajah Sashi jadi bertekuk. "Gue boleh tidur dulu nggak sih? Nanti kalo udah ada tenaga baru kita tanya jawab."
"Ini masih pagi."
"Iya, tapi gue ngantuk. Gimana dong?" Gadis itu merentangkan kedua tangan lantas mengusap punggung sofa yang didudukinya. "Empuk banget. Berapaan sih?"
Kala menarik napas. Entah dia yang kelewat serius atau Sashi yang memang terlalu santai, Kala tidak mengerti. Dia mengkhawatirkan gadis itu semalaman. Penyebabnya sudah pasti karena video podcast yang berisi merendahkan itu. Ditambah Sashi tidak bisa ditemui di unitnya, Kala semakin tidak bisa tidur nyenyak. Lalu pagi ini dia menemukan Sashi nyaris menjadi korban kekerasan, di situ rasanya semua emosi Kala tumpah ruah.
Seandainya dia tidak mengkhawatirkan Sashi yang mungkin saja trauma, Kala pasti sudah menghabisinya.
"Waktu kita ketemu di Janji Jiwa, pipi kamu memar. Itu ulah cowok yang di parkiran tadi?"
"Bukan." Itu cinderamata dari nyokap gue. Sashi menyambung dalam hati. "Kan udah dibilang, gue dapetin itu dari istrinya sugar daddy gue."
"Kamu bohong. Kita sama-sama tau itu," keluh Kala. "Please, be serious, Sashi."
Pipi gadis itu mengembung kecil dengan wajahnya yang cemberut. "Terakhir kali gue serius, gue hampir dijadiin simpenan. Males ah."
"I am sorry." Kala akhirnya berucap tulus, membuat Sashi mendongak untuk memandangnya. "For what you have been through. I am really sorry to hear that."
Sashi terdiam selama berdetik-detik. Bukan karena dia tersentuh, tapi karena dia tidak tau harus menanggapi bagaimana. Di tengah rasa kantuknya yang mulai pudarㅡsebab Kala memaksanya untuk terus-terusan berbicara, perutnya justru kriuk kriuk.
Sashi menunduk, mengusap buntalan lemak tipis yang meraung-raung minta diisi.
"Kamu belum makan?"
Dia mengangguk serupa anak kecil. "Tadi keburu diajak ribut sama orang."
"Mau makan apa? Pesen online aja ya?" Kala membuka ponselnya yang kemudian dicegah oleh Sashi.
"Punya Indomie kari ayam nggak? Kayaknya enak deh. Terus dikasih telor, dikasih rawit juga. Rawitnya dipotong kecil-kecil aja, telornya jangan setengah mateng."
"Kamu request kayak lagi di warung."
"Kalo ini warung, berarti boleh tambah es teh?"
"Nggak nyimpen es batu. Nggak ada kari ayam juga," sahut Kala. Sashi kecewa berat hingga bahunya terkulai. Padahal dia sudah mendamba-dambakan Indomie kari ayam ditambah telor dan rawit. Rasanya bahkan seperti sudah di ujung lidah. "Stok mie instan di dapur cuma ada mie goreng sama mie aceh. Kamu mau yang mana?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
Ficción GeneralSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
