3 | It's getting bigger

1.4K 205 78
                                        

Sashi bangun kesiangan. Mata kuliah yang seharusnya dia hadiri pagi ini sukses terlewat. Hidupnya semakin tidak berkualitas sejak dia tersandung masalah yang muncul akibat kebodohannya. Oh, terkutuklah dia dan kesombongannya yang berpikir bahwa dia bisa hidup dengan caranya sendiri. Sekarang lihat, dia terjerumus ke dasar jurang.

Apa ini karma karena dia gagal menjadi anak manis yang diinginkan orang tuanya? Sashi mulai mempertanyakan dirinya sendiri sembari menatap ke cermin. Pantulan dirinya di sana membuat dia muak. Bukan Sashi seperti ini yang dia inginkan.

Bukan. Bukan Sashi si anak bermasa depan suram. Bukan pula Sashi yang terpuruk. Sashi yang ingin dia lihat adalah Sashi yang hidup dengan baik.

"Sashi?! yei ke sini?" Bambi tidak bisa menahan keterkejutannya saat melihat Sashi mendatangi salon mereka. Baru lima menit yang lalu dia mengikuti gossip terbaru tentang Sashi yang beredar di internet, sekarang orang yang digosipi malah muncul di hadapannya.

"Mario mana?" Sashi melepas kacamatanya. Tidak peduli meski di sana ada tiga pelanggan lain yang mungkin mengenalinya.

"Si Bos ada tapi yeiㅡhaduh, sini deh." Bambi menarik Sashi ke sudut rungan. "Berani banget yei keliaran pas lagi digoreng begini! Emangnya yei nggak takut tiba-tiba dijambak orang yang nggak dikenal?"

"Gue punya dua tangan yang bisa dipake buat balik jambak."

"Heh, jangan!" Bambi memperingati dengan pelototan. Melihat Sashi hanya mengedikkan bahu, Bambi pun menghela napas. "Tapi emang bener, ya, yang di video itu lo? Kan sekarang lagi musim deepfake. Siapa tau yei difitnah."

"Kalo itu deepfake, gue nggak bakal ada di sini. Gue pasti lagi di kantor polisi buat bikin laporan."

"Bener juga." Bambi mengangguk sebelum tubuhnya dibikin merinding. "Yei kok jujur amat sih jadi orang? Bohong-bohong dikit kan bisa. Di sini banyak kuping loh, nek! Nanti yei makin digoreng," bisiknya gemas.

"Loh, kan emang udah pada tau semua?" Sashi menyampirkan kacamatanya di atas kepala, berjalan ringan menuju salah satu kursi salon yang kosong. "Gue mau sama lo aja deh hari ini. Lagi kosong, kan?"

Mata Bambi yang dihiasi bulu mata extension nan lentik refleks membulat. "Eike emang lagi jomblo tapi jangan kira eike mursida ya! Yei kan tau eike naksirnya sama lekong."

"Pede banget bebencongan satu ini." Sashi menyentak kepalanya. "Maksudnya, gue mau rambut gue diurus sama lo aja."

"Oh, kalo itu gampil." Bambi senyam-senyum. Jari-jarinya yang cantik menyisiri rambut panjang Sashi. "Mau diapain sih, Nek? Rambut yei masih cucok meong begindang. Kan baru dirapihin minggu kemarin?"

Sashi memandangi dirinya di depan cermin. Dia tau Bambi sedang menunggu jawabannya tapi dia sendiri tidak tau apa yang harus dia lakukan dengan rambutnya.

Keputusannya untuk datang ke salon muncul begitu saja. Sashi pikir, mengubah sedikit penampilannya mungkin bisa membuatnya merasa sedikit lebih baik.

"Nggak tau. Gue cuma ... pengen keliatan beda," cicitnya pelan.

"Blonde aja kalo gitu. Pasti cakep deh. Nanti kulit yei makin terang. Makin silau deh tuh orang-orang liat yei."

"Boleh."

"Oke. Serahkan semuanya pada Bambi!"

Sashi tidak bisa menahan senyumnya. Suara Bambi yang terlalu bersemangat begitu menggelitik perut. Mereka banyak mengobrol selama Bambi mengurusi rambutnya. Celotehannya lucu-lucu. Sashi yang mendengarnya merasa terhibur sekaligus rileks.

Monochrome to ColorsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang