"Yang tadi itu siapa? Kok dia bisa tau nama gue?" Sashi masih belum bisa meredakan rasa penasarannya. Bahkan setelah mobil Jaziel meninggalkan pesta Romeo, gadis bergaun merah tadi masih membayang dalam ingatannya.
"Wajar? Cuma segelintir orang yang nggak kenal sama lo."
"Nggak, Iyel. Dia itu ... beda." Sashi menyipitkan mata dengan kening mengerut. Mengulang kembali ingatannya tentang gadis itu. "Gue baru pertama kali ketemu dia tapi cara dia ngeliat gue gitu banget."
Tatapan matanya yang lembut namun mengintimidasi dan senyumnya yang terkesan meremehkan, Sashi tidak akan melupakan detail-detail itu.
"Lo beneran nggak tau dia?" Sashi dan rasa penasarannya masih terus berlanjut. "Gue yakin dia temannya Romeo."
"Iya, tapi bukan berarti gue kenal sama dia. Nggak semua teman Romeo adalah teman gue."
"Iya, sih." Sashi menyandarkan tubuhnya pada jok sebelum kesadaran menghantamnya dengan telak. "APA JANGAN-JANGAN DIA HATER GUE?!"
Demi Tuhan, seruan histeris itu nyaris membuat Jaziel terlonjak. Untung dia mampu menjaga dirinya tetap tenang.
"Bisa aja."
"Duh, untung deh gue nggak dijambak." Gadis itu bergidik. Ngeri sendiri membayangkan dirinya dilabrak oleh salah seorang pembencinya. "Romeo harusnya nyiapin sejumlah petugas keamanan."
"Just for the sake of you?"
"What do you mean just for the sake of me?" Sashi melirik dengan rautnya yang dibuat bersungut-sungut. "Right. Hal itu perlu dilakukan untuk menjaga keamanan gue. Bagaimanapun, gue ini seleb," ucapnya bergurau.
Jaziel melepas senyum kecil di tengah fokusnya yang sedang menyetir. "Seleb nanggung," ejeknya.
"Biarin. Yang penting seleb." Sashi mencondongkan tubuhnya untuk memilih-milih lagu. Begitu satu lagu yang masuk seleranya berputar, dia mengambil posisi untuk memejamkan matanya. Bukan untuk tidur, hanya mengistirahatkan sejenak dirinya yang lelah.
"Being a celebrity has never been easy. You, yourself, know how bad it is." Dengan perangainya yang buruk itu, Jaziel tidak yakin Sashi mampu bertahan. "Just leave them."
"I'd love to. Seandainya gue punya aliran dana yang nggak pernah putus."
"Ada gue. Apa yang lo khawatirkan?"
Sashi terkekeh. Matanya kembali terbuka untuk melirik Jaziel. "Jazz, kita ini cuma teman."
"Lo menginginkan kita lebih dari itu."
"Dulu," tekannya. "Sebelum gue sadar kalau kita nggak pernah ada di tempat yang sama."
"And who cares?"
"You do."
Jaziel meraup wajahnya gusar. "Gue nggak bermaksud begitu. Gue cuma berusaha jujur tentang situasi gue ke lo. Dan gue pikir lo bisa mengerti."
"Gue ngerti, kok. Lahir sebagai seorang Airlangga mengharuskan lo terikat dengan perempuan yang setara sama lo."
"Hanya untuk keperluan bisnis."
"Don't make yourself sound like a bastard, Jazzy. You are not and I don't want to see you become one." Sashi rasa dia berhak mendapat pujian untuk dirinya yang mampu bersikap tenang. "Daripada ngabisin waktu sama gue, kenapa lo nggak belajar buat mencintai perempuan yang bakal jadi tuangan lo nanti? Di umur lo yang sekarang, gue rasa orangtua lo udah pernah ngenalin lo sama dia?"
"Sash," Jaziel mencoba meraih wajah Sashi, namun gadis itu bergerak mundur. Tangannya yang sempat menggantung kini terkepal. "Lo tau gue nggak pernah bohong setiap kali gue bilang lo bisa memiliki gue sebanyak yang lo mau."
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
General FictionSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
