12 | Declaration

1K 165 29
                                        

"Mungkin jalannya bisa agak pelan sedikit? Gue bukan sapi yang kalo jalan mesti diseret-seret." Gerutuan Sashi untungnya masih didengar oleh Jaziel. Cowok itu memelankan langkah meski raut wajahnya masih kaku.

"Gue nggak pendek-pendek amat untuk ukuran cewek tapi jelas lo jauh lebih tinggi dari gue. Maksa gue buat ngikutin langkah kaki lo yang panjang dan cepat itu nggak ada bedanya sama nyeretㅡ" Sashi memejam dengan napas kasar saat ucapannya dipotong oleh Jaziel yang menyuruhnya masuk ke mobil. "I am telling you just in case lo nggak sadar udah nyeret-nyeret gue."

"Gue tau."

"Lalu apa?" desak Sashi.

"Next time biar gue gendong." Jaziel membalas tak acuh.

"Jazz!"

"Iyel," koreksinya. "It's Iyel. Not Jazzy." Jaziel menambah dengan tegas. Mobilnya melaju meninggalkan parkiran kampus tanpa memberitahu Sashi ke mana mereka akan pergi. Cowok itu sibuk mengetatkan rahang, menunjukkan amarah yang muncul dari rasa tidak sukanya terhadap Kala.

"Nggak penting. Lo sadar nggak yang tadi itu nggak sopan? Kita pergi gitu aja kayak nggak menghargai meㅡ"

"Did they treat you kindly?" Jaziel memotong. Raut wajahnya yang keras masih belum juga melunak. "I asked you. Did they treat you kindly?"

Kening Sashi mengerut. Tentu saja tidak semua teman Kala bersikap baik padanya. Nami menyebalkan, tapi Abe baik. Dan Kanatya, meski Sashi tidak bisa membaca isi kepalanya, setidaknya gadis itu jauh lebih tenang dibanding Nami.

"Lo nggak bisa jawab. Berarti memang benar mereka memperlakukan lo dengan buruk." Jaziel mendengus seolah itu adalah sesuatu yang sudah bisa dia duga.

"Mereka nggak seburuk itu." Sashi membantah dengan suaranya yang rendah.

"Nggak seburuk itu? Lo nggak kepikiran mereka justru seneng ngeliat lo pergi?" Jaziel menoleh pada Sashi. Melihat Sashi membela mereka terasa menggelikan untuknya. "Lagipula, sejak kapan seorang Sashi Kirana Arundati peduli sama sopan santun? This ain't like you."

Selama sesaat, Sashi kehilangan kata-katanya.

"Gue penasaran selama ini gue di mata lo gimana." Sashi tersenyum kecut. "Gue tau ada kalanya gue keliatan brengsek, nggak sopan, dan kasar, tapi kali ini gue cuma berusaha menghargai Kala dengan nggak membuat masalah di depan teman-temannya. Salah?"

"Salah. Seandainya lo ngelakuin itu cuma untuk menarik perhatian seseorang."

"Gue nggak serendah itu, Iyel." Sashi menggeleng pelan. Dia telah mendengar banyak kata-kata tidak mengenakkan hari ini. Jaziel seharusnya tidak perlu menambah parah lukanya yang bahkan belum mengering.

Sashi membuang pandangannya ke luar jendela. Napasnya terasa memberat, begitu juga dengan matanya yang mulai memanas. Menggigit bagian dalam bibirnya adalah satu-satunya usaha yang bisa dia lakukan untuk menahan air matanya agar tidak mendesak keluar.

Demi Tuhan, dia tidak memiliki motif apapun. Menawarkan bantuan untuk mengantar Ica ke sekolah tercetus begitu saja karena dia tidak punya kegiatan apa-apa setelah kelasnya dibatalkan.

Dan alasan kenapa dia tidak ingin membuat masalah padahal Nami terus-terusan menyindirnya adalah karena dia ingin menghargai Kala yang sudah berbaik hati mengajaknya bergabung dengan teman-temannya.

Hanya itu.

Dan memang hanya sesederhana itu.

Tapi kenapa dia justru dipandang sebelah mata?

Jaziel mendesah berat. Suaranya melunak setelah keheningan panjang di mobil. "Romeo ada acara nanti malam. Temenin gue ke pestanya."

Sashi tidak menjawab, namun dia menoleh bergantian pada Jaziel dan gedung dua tingkat bernuansa elegan di hadapannya. Dia tau gedung itu milik sebuah rumah mode. Forelsket, namanya.

Monochrome to ColorsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang