Kelas satu-satunya hari ini dibatalkan oleh dosen. Sashi yang tidak punya tujuan sekonyong-konyong pergi ke kantin untuk mencari Ica. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya dia membeli catokan portabel hanya karena Ica terus-terusan merengek ingin meniru rambut bergelombangnya.
"Rambut kamu cantik banget, kayak rambut princess. Aku juga mau punya rambut kayak princess. Bikinnya pake catokan ya, Kak Sashi? Aku pinjem boleh ya, Kak Sashi? Pleaseeeee."
Ica dan matanya yang bulat juga lucㅡhah! Lucu dari mana? Belum sampai lima menit, Sashi sudah senewen menghadapi anak itu.
"Ca, kepalanya mantep-mantep coba. Kalo kamu gerak-gerak terus, aku nggak jadi ya bikin rambut kamu kayak princess!"
"Iya, Kak Sashi. Aku diem kok."
Sashi menyisiri rambut anak itu sambil memutar bola matanya. "Jangan panggil Kak, panggil Sashi."
"Tapi, kan, kamu lebih tua?" Ica berbalik sambil mengerjap-ngerjap bingung. Kepalanya memiring sangking herannya. Dan Sashi merespon tingkahnya itu dengan bibir yang terlipat ke dalam.
"Aku nggak setua itu kali." Tangan Sashi bersedekap dengan mata menyipit. "Aku juga bukan kakak kamu. Pokoknya panggil Sashi."
"Jadi aku nggak boleh panggil Kak Sashi lagi ya?"
"Nggak boleh." Sashi menggeleng tegas. "Kita ini cuma teman."
"Oke, Sashi!" Ica yang lugu dan polos menurut dengan mudah. Anak itu patuh ketika Sashi menyuruhnya sedikit menyerong, meski ujung-ujungnya kepalanya terus saja bergerak dan membuat Sashi kesusahan menggulung rambut anak itu dengan catokan.
"Sashi, kamu tau nggak? Labubu ada bajunya juga loh! Ada yang dipakein topi sama pita. Cantik ya?"
"Cantik dari mana? Mirip gondoruwo begitu."
"Ihh, bukan boneka gondoruwo, Sashi!" Ica bersungut-sungut sambil memeluk kedua boneka Labubunya. Sashi sampai dibuat bertanya-tanya dari mana anak itu bisa bersikap seagresif ini?
Bukannya kemarin-kemarin dia hampir menangis gara-gara Sashi meledek bonekanya yang mirip setan itu?
"Tapi yang Berry ini beneran buat aku ya?" tanyanya mendadak manis.
"Iya, ambil. Buat apa juga aku boneka jelek begitu?" Selain tidak tau gunanya apa, Sashi juga tidak paham kenapa dia membelinya dari seorang reseller dengan harga lumayanㅡoke, baiklah. Biar Sashi membuat sedikit pengakuan. Dia memang membelinya untuk Ica gara-gara anak itu bilang Labubu pink lebih lucu. Tapi sumpah, kemarin-kemarin Sashi membelinya secara tidak sadar.
Ica pasti sudah menghipnotisnya!
"Yeay, makasih Sashi! Kamu baik banget seperti Ibu Peri!" seru anak itu.
Sashi nyaris terjungkal karena mendapat serangan tiba-tiba. Serangan berupa pelukan yang kelewat bersemangat. "Aku sayang banget sama Sashi!"
Jujur, gelayutan tangan Ica di sekitar lehernya bikin Sashi terasa seperti dicekik. Tapi entah kenapa, bibirnya secara perlahan justru menyunggingkan senyum. Sashi menepuk pelan punggung Ica yang memeluknya manja.
"Ica, ya ampun! Masih main? Udah mepet masuk sekolah loh ini." Mendengar teguran ibunya, Ica merenggangkan pelukannya di leher Sashi sambil cengengesan.
"Bunda, liat, rambut aku lagi dibikin kayak rambut princess," pamernya. "Cantik nggak aku, Bunda?"
Yang dipanggil Bunda cuma bisa geleng-geleng. "Kalo kamu diomelin sama Bu Evi, Bunda nggak ikut-ikutan ya."
"Nggak diomelin kok. Aku kan anak baik." Ica melepaskan dirinya dari Sashi. Anak yang sudah mengenakan seragam merah putihnya itu terlihat gamang memandangi Labubunya. "Sashi, aku boleh nggak bawa Labubunya ke sekolah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
General FictionSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
