7 | Everywhere I go

1K 171 43
                                        

Sashi ada di mana-mana.

Sejak pindah kemari, Kala merasa gadis itu ada di setiap tempat yang dia lewati. Pagi-pagi, Kala akan menjumpai Sashi di taman. Dibilang sendirian, tidak juga. Meskipun terlihat seperti seorang jobless, tapi Sashi terlihat menikmati kegiatannya yang bercengkrama dengan kucing. Kucing itu juga setia mendengarkannya. Mungkin karena Sashi membawakannya makanan enak makanya mereka cepat akrab.

Agak siangan, Kala melihatnya di salah satu restoran di lantai dasar. Lagi-lagi tidak sendirian, tapi kali ini temannya bukan hewan berkaki empat yang gemas dan lucu. Seseorang yang bersamanya adalah laki-laki entah siapa.

Lalu di lain hari yang begitu panas, Kala memergokinya sedang menikmati es krim di pondok-pondokan sekitar kolam renang bersama sekuriti yang biasa berkeliling di area apartemen mereka. Kala mengenal sekuriti itu jadi dia mengulas senyum sopan ketika sekuriti itu menegurnya.

"Mau berenang, Mas Kala?"

"Iya nih, Pak. Panas banget." Dia melirik Sashi namun gadis itu asik sendiri menjilati es krimnya dengan kaki yang bergoyang riang. Dress putih selutut dengan corak bunga daisy juga jepit stroberi di sisi kiri rambutnya bikin dia terlihat manis.

Kala ingin memujinya tapi semua kata itu dia telan bulat-bulat. Memuji Sashi sama seperti memberinya sebuah harapan. Kala menghela napas. Langkahnya kembali terajut menuju kolam.

Cuaca hari ini betulan panas. Padahal sekarang sudah masuk musim penghujan. Kala melepas kaos yang dipakainya. Rasa gerah itu menuntutnya untuk segera menceburkan diri ke dalam kolam. Sambil menikmati es krim, Sashi memperhatikannya.

"Mbak tau sama Mas yang barusan?"

Sashi menoleh. "Maksudnya Kala?"

"Iya, Mas Kala. Berapa hari yang lalu dia sempet minta tolong ke saya buat sesekali ngeliatin Mbak Sashi. Dia khawatir liat Mbak keseringan ngobrol sama orang asing. Takut Mbak Sashi ketemu orang jahat katanya."

"Dia bilang begitu?" Sashi agak kaget sedikit. Cowok itu kenapa tsundere sekali? Kalau peduli kan tinggal bilang peduli. Apa susahnya?

Segala menyuruh Sashi menjauh padahal diam-diam menaruh rasa khawatir.

"Iya, Mbak. Tapi saya bilang aja, Mbak Sashi emang begitu. Kalau makan harus ada temennya. Iya kan, Mbak?"

Sashi mengiyakan dengan anggukan. Dia pernah berapa kali mentraktir Pak Didi dan pegawai resepsionis. Makanya Pak Didi bisa hapal dengan kebiasaannya. "Terus dia bilang apa lagi, Pak?"

"Itu aja, Mbak. Saya tetep dimintai tolong buat sesekali ngeliatin Mbak. Kalau ada apa-apa bilang ke dia katanya."

"Dasar aneh." Sashi tanpa sadar mengutuk.

Pak Didi tertawa. "Naksir kali, Mbak."

"Kala alergi sama saya, Pak," balasnya dongkol. Dia masih ingat berapa hari yang lalu cowok itu terang-terangan bilang tidak mungkin jatuh jatuh cinta padanya.

"Walah, kok bisa alergi? Mbak Sashi cantik begini."

"Cantik kan soal selera, Pak. Nggak semua orang seleranya sebagus Pak Didi." Sashi tersenyum jumawa. Pujian yang dilontarkannya untuk Pak Didi lebih terdengar seperti pujian untuk dirinya sendiri.

"Mbak Sashi ini bisa aja!"

Sashi terkekeh ringan. "Udah sore nih, Pak. Saya mau balik dulu. Makasih, ya, udah nemenin saya ngobrol."

"Saya juga makasih panas-panas begini ditraktir es krim."

****

Kala merasa jauh lebih segar setelah dia menceburkan diri ke dalam kolam. Titik-titik basah di tubuhnya dia keringkan dengan handuk yang tadi dibawanya. Sementara, pandangan matanya menelusuri area kolam untuk menemukan kehadiran Sashi.

Monochrome to ColorsCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang