Ibas mengamuk.
Sashi cekikikan membaca sumpah serapah yang cowok itu tulis di story Instagramnya. Reaksinya persis seperti yang Sashi harapkan; marah-marah karena dia tidak tahan nomornya diteror oleh sejumlah oknum yang sange berat.
"Punya lo."
"Oh," Sashi mengangkat kepala. Selebaran kertas yang diterimanya menghentikan sejenak derai tawanya. "Oh, wow. An A."
"An A?" ulang Amanda dari belakang. Kasak-kusuk yang sejak tadi berlangsung di sekitarnya mendadak terhenti. Sashi dan kertas tugasnya yang bernilai A itu berhasil menyerap semua atensi. "Lo dapet A?"
"Gue nggak liat huruf lain di kertas gue selain huruf A. Kenapa kaget?"
"Mana coba? Gue mau liat." Sambaran tangan Re terlampau cepat untuk dihindari oleh Sashi. Kertas tugasnya sudah berpindah tangan, dikerumuni oleh teman-teman sekelasnya seolah itu adalah donat gula yang disukai semut. "Njir, gini doang."
Gini doang, katanya.
Sashi memutar bola mata dengan tangan bersedekap. Kakinya bergerak-gerak menahan sebal sepanjang telinganya mendengar kasak-kusuk penuh gerutuan dari sejumlah orang yang tidak terima bahwa hanya dia satu-satunya penghuni kelas yang mendapat nilai A.
"Paling juga joki."
Satu suara lagi dan gerak kaki Sashi berhenti. "Mana sih yang nggak terima dapet B itu?" Sashi balik menyambar kertas Re. Membaca sekilas isi kertas itu lewat screening. "Did I miss something or you were the one who missed the point? Tugas book report ini tentang perspektif gender. Perspektif itu sudut pandang. Berarti ada yang perlu dianalisis sebelum lo nuangin sudut pandang lo tentang buku itu. Punya lo ... di bagian mana lo nulis sudut pandang lo sebagai pembaca? Sejauh yang gue liat, isinya cuma rangkuman yang lebih mirip sinopsis. Pantes disuruh ngulang."
Sashi mengembalikan kertas itu dengan cara yang paling menyebalkan. "Kalo mau protes minimal tau dulu apa yang mau diprotesin biar nggak malu." Lalu tangannya terjulur pada Amanda yang bermuka masam. "Punya gue, sini. Udah bayar joki mahal-mahal malah kalian contek, rugi dong."
Itu cuma sarkas. Kalau sampai ada yang percaya, Sashi tidak paham siapa yang sebenarnya sinting di sini. Dia atau teman-teman sekelasnya?
Sebab, tugas book report mereka tidak hanya sampai di sana. Sashi juga harus setoran lisanㅡdan dia berhasil menceritakan kembali isi bab-bab tertentu yang diminta oleh dosennya.
Seandainya dia betulan pakai joki, bagaimana bisa dia menceritakan isi novel itu secara lugas?
"Udah lah, kerjain ulang aja tugas kalian." Si ketua kelas melerai yang diangguki oleh Sashi.
"Iya, kerjain ulang aja. Kan cuma gini doang. Masa nggak bisa?" Gadis itu tersenyum miring, merasa kemenangan ada di tangannya.
Dia melangkah riang meninggalkan kelasnya. Kalau kemarin-kemarin hari sialnya, hari ini pasti hari keberuntungannya.
Lihat saja, separuh dendamnya pada Ibas sudah terbalas. Lalu sekarang dia menjadi satu-satunya orang yang mendapat Aㅡdi saat teman-temannya yang lain diminta untuk mengulang tugas mereka.
"Kamu keliatan happy banget?"
Sashi yang kebanyakan senyam senyum itu terlonjak kaget. Nyaris terkena serangan jantung. "Kala?!"
"Hai," cowok itu menyapa manis. "Nyari kamu ternyata nggak sesusah itu."
"Lo ngapainㅡnggak, maksudnya sama siapa? Abe mana?" Sashi tidak paham kenapa bicaranya jadi seberantakan ini. Kepalanya juga turut menengok kesana kemari.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
Ficción GeneralSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
