"How long you will keep silent?" Jaziel melirik Sashi lewat ekor matanya. Gadis itu sudah berhenti menangis sejak bermenit-menit yang lalu tapi bukannya berceloteh atau apa, Sashi hanya diam dan meringkuk di kursi penumpang dengan pandangan mata yang kosong. Jaziel memperhatikannya walau cowok itu sibuk menyetir dari tadi. "Say something. I can't read your mind."
"Sebentar, Iyel. Gue lagi mikir." Sashi bergumam dengan nada yang tidak ingin diganggu. Gadis yang dari tadi meringkuk itu kini menurunkan kakinya dari atas jok lantas menggeser rear view mirror ke arahnya agar dia bisa berkaca. "Damn! I knew I was pretty but never thought I was THIS pretty. Pantes Clara kesel liat gue."
"Dia kesel sama lo karena lo ngelabrak temennya!" sahut Mima gregetan. Dia menyusul Sashi ke kantin Sastra begitu mendengar kabar tentang Sashi yang ribut dengan Dinda. Dia juga yang memberitahu Jaziel di mana Sashi berada.
"Nggak, Miw. Dia iri sama gue." Sashi masih tidak mau kalah. "Kalo nggak iri ngapain coba dia nyinggung soal penampilan gue?"
"Karena lo yang tampil all out ini sama sekali nggak menunjukkan kesan penyesalan!" cerocos Mima. "Orang gila mana yang sempet-sempetnya ngecat rambut di situasi kayak gini coba?"
"Justru gue begini biar tetep waras. Tiap orang kan punya cara sendiri buat dealing sama masalahnya. Namanya juga beda kepala, beda sifat. Anak yang kembar identik aja isi kepalanya nggak sama. Masa gue yang nggak ada hubungan darah sama mereka dipaksa harus punya pikiran yang sama kayak mereka?"
"Mohon maaf, Mbak. Tau sikon itu penting." Kalau bukan karena teman, Mima pasti sudah ikutan julid ke Sashi. "Gue nggak habis pikir deh, bisa-bisanya lo ngelabrak Dinda. Dia itu korban loh, Sash!"
"Gue juga korban kali." Sashi menyahut enteng. "Korbannya Ibas, korban framing jeleknya Dinda juga." Selama bermenit-menit dia diam tadi, Sashi sibuk berpikir sebesar apa kesalahan yang dia perbuat sampai semua orang mengkritik segala yang dia lakukan. Di titik ini, rasanya bernapas pun dianggap salah. Padahal kesalahannya tidak sebesar itu. Sashi malah mulai menyakini kalau dia innocent alias tidak bersalah.
Jadi begini, dia memang menyukai Ibas tapi kan dia tidak pernah memiliki keinginan untuk merebut Ibas dari Dinda. Dia tidak sejahat itu kali. Justru penjahat sungguhnya di sini adalah Ibas. Cowok itu memanfaatkannya di saat dia mabuk tapi kenapa susah sekali bagi orang-orang untuk memahami kalau dia dimanfaatkan oleh Ibas?
"I told you many times not to keep in touch with that loser but you didn't listen. Now you learned your lesson," sindir Jaziel masih dengan fokus sepenuhnya yang tertuju pada kemudi.
"Mm-hm, I learned my lesson. I feel cleverer now." Sashi membalas bangga meski niat aslinya adalah untuk sarkas. "Kesandung gara-gara hal tolol itu biasa. This is my first life anyway jadi trial and error pasti ada. Toh nggak ada tutorial bagaimana cara menjalani hidup yang baik dan benar."
"Ada! Ada banget!!! Dasar lo aja yang bebal," hardik Mima.
"Apasih, Miw? Perasaan dari tadi emosian mulu." Sashi mencibir padahal dia sendiri yang gampang naik darah.
Jaziel menggeleng pelan. "Sekarang apa? Shouldn't he get social witness too?"
"I was thinking the same thing!" Sashi menjentikkan jarinya lantas bersandar nyaman pada jok penumpang. "Nggak adil banget cuma gue yang kena sanksi sosial sementara Ibas bisa bebas haha-hihi di luar sana."
"I can do that for you."
"Please, don't." Mima bergidik. Dia yakin kalau ucapan Jaziel bukan sekedar omong kosong belaka. Memberi Ibas sanksi yang bisa membuat cowok itu jera bukan perkara sulit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
Ficção GeralSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
