Ini baru jam lima sore, tapi Jaziel merasa energinya sudah terkuras habis. Dia sempat terpikir ingin pulang, beristirahat tanpa ada yang mengganggu terdengar seperti pilihan yang tepat. Namun alih-alih membawa mobilnya menuju kondominiumnya, Jaziel justru memutar rute perjalanannya menuju apartemen Sashi.
Gadis itu sempat mengirim satu chat tadi siangㅡyang sayangnya tidak sempat Jaziel balas karena dia terlalu sibuk. Agaknya, Sashi paham dengan kesibukannya karena setelah itu Sashi tidak lagi menghubunginya. Jaziel tidak tau ini sesuatu yang bagus atau justru suatu kemunduran dalam pertemanan mereka.
Dulu, Sashi bergantung banyak padanya. Hari-hari Jaziel dipenuhi oleh beragam chat dan cerita panjang dari Sashi. Ekspresi excited gadis itu membuat Jaziel betah mendengar ceritanya hingga menjelang pagi. Ketika suara kicauan burung mulai terdengar, Sashi akan tertawaㅡbaru tersadar kalau mereka ternyata menghabiskan waktu sebanyak itu. Lalu jika sudah begitu, Sashi akan memberinya pelukan singkat, juga ucapan selamat tidur yang terdengar manis.
Sekarang keadaannya sudah berubah. Sashi lebih sering sendiri. Tidak pernah merengek apalagi menuntut.
Sebagian diri Jaziel sadar kalau dia mulai kehilangan Sashi-nya. Laki-laki yang menenteng jaket jersey itu sempat berdiri di samping mobilnya yang terparkir. Sebelah alisnya berjengit saat melihat Sashi turun dari mobil asing disusul oleh seorang laki-laki lain yang berusaha mengejarnya.
Jaziel tidak mengenalnya. Sashi juga tidak terlihat dekat dengan orang baru belakangan ini. Well, itu yang dia tau. Bagaimana kalau ternyata dia ketinggalan banyak hal tentang Sashi?
"Sashi?" panggilan tegas dari Jaziel membuat semua langkah mereka terhenti. Sashi berbalik dengan seulas senyum yang rupanya masih belum berubah.
"Hai, Iyel." Tangan gadis itu terangkat rendah untuk menyapa.
Jaziel berjalan menghampirinya sambil bertukar tatap dengan laki-laki itu. Tensi mereka tidak buruk tapi jelas keduanya lagi saling meniliti.
"Baru pulang?"
Sashi mengangguk. Dia juga sadar kalau Jaziel lagi menyelidik.
"Pulang bareng ... " Pandangan mata Jaziel kembali tertuju pada Kala. Sorotnya menggambarkan rasa curiga namun Sashi segera menghentikan aksi menyelidik itu dengan menggaet lengannya. Dia tidak menolak ketika Sashi turut menyeretnya pergi.
"Itu Kala," ucap Sashi memberitahu.
"Temen lo?" Kali ini perhatian Jaziel tertuju padanya. Dia yang merasa lucu diseret-seret padahal tubuhnya jauh lebih tinggi, beralih menggenggam tangan gadis itu.
"Dia yang nemenin gue makan di Janji Jiwa. Inget, kan? Tadi pas mobil gue mogok, dia yang bantuin." Meski dongkol setengah mampus, Sashi rasa Jaziel hanya perlu mendengar yang bagus-bagus tentang Kala.
"Pantes kayak nggak asing. Sori, tadi siang lagi chaos. Chat lo jadi nggak kebales."
"Iya, tau. Santai aja. Mobilnya juga udah di bengkel."
Mereka menunggu di depan lift. Kedua tangan yang tertaut itu membuat Kala menghela napas pelan. Dia yang tertinggal di belakang akhirnya berjalan mendekat. Ikut menunggu meski memilih berdiri di belakang.
Jaziel yang sadar dengan kehadirannya sempat menoleh sebelum dia mengajukan tanya pada Sashi. "Dia mau mampir?"
"Siapa?" Sashi jadi ikutan menoleh. Pandangan matanya bertemu dengan Kala. Lagi-lagi berubah sinis. "Enggaㅡ"
"Saya tinggal di sini."
"Hah?"
"Baru pindah."
The fuck?!
KAMU SEDANG MEMBACA
Monochrome to Colors
Ficção GeralSkandal video tiga detik yang tersebar di media sosial membuat hidup Sashi jungkir balik. Karirnya sebagai selebgram hancur dalam semalam. Dia kehilangan teman, pekerjaan, bahkan keluarga. Semua ini karena kebodohannya yang tanpa sadar mencium kekas...
