Bantu lapak ini makin berkembang yuukk 🤗
Jangan lupa vote, komen, dan share ke temen-temen kalian yang suka religi romance juga 🥰🫶🏼
Happy reading 🫶🏼***
Lantunan surah Al-Kahfi itu terasa sangat menyejukkan hati. Membuat Uwais jatuh cinta sejak pertama kali mendengarnya. Dulu mungkin ia melakukannya hanya untuk kesenangan. Tapi Sekarang ia ingin memulai keseriusan.
Diam-diam ia mulai memikirkan perihal calon ma'mum masa depan. Sejak ia selesai kuliah dan kembali ke Indonesia, lalu mengajar di pesantren, ia terus memikirkan itu. Walaupun mungkin umurnya masih terbilang muda. 22 tahun sekarang. Tapi ia mulai memikirkan kriteria wanita idaman. Yang bukan hanya akan disukai dan dicintai olehnya, tapi juga oleh seluruh keluarganya. Terutama Ummi dan Aisyah.
Ya, dulu ia memang suka mencari perhatian santri putri, hanya untuk hiburan saja. Bahkan ketika di Mesir, Ia terkenal sebagai player yang hobi mematahkan hati wanita. Namun kini, ketika melihat Annisa dan segala kecantikan yang dimilikinya, ia tidak lagi mau bercanda. Ini waktunya untuk memperjuangkan satu wanita dengan serius.
Mata Uwais masih terpejam. Menikmati segala ketentraman suasana masjid yang mulai sepi. Sesekali fikirannya berkelana, mencari cara yang sekiranya dapat menarik perhatian Annisa dan mendapatkan hatinya. Ia juga mulai memikirkan untuk mencari identitas diri Annisa. Mencari tau seperti apa latar belakang keluarganya, masa lalunya, dan wataknya. Sebagai pertimbangan untuk memantapkan niat Uwais dalam memilih Annisa untuk menjadi calon ma'mum masa depannya.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah tangan menepuk pelan pundaknya yang bersandar pada pilar tinggi masjid. Seketika Uwais membuka matanya, dan mendapati seorang lelaki muda berada di sampingnya. Teman lamanya.
"Lagi merenungi nasib, pak?" lelaki itu menyeringai lebar. Seringaian yang membuat Uwais ingin sekali menjitak kepalanya. "Kenapa? Mikirin kawin lu?" Tawa lelaki itu meledak. Ia bersikap santai seolah tidak sedang berbicara dengan anak ibu nyai.
"Wah, kampret lu!" Uwais balas tertawa sambil memiting leher lelaki di sampingnya. "Kaya lu udah nikah aja, Ik"
Faik. Ya, dia masih sering mendekati Uwais ketika Gus-nya itu sedang sendirian. Mencoba menghiburnya barangkali Gus Uwais sedang galau.
"Ya abis muka lu kocak gitu. Kaya seneng-seneng bingung gimana, gitu." kelekar Faik.
"Apaan sih lu, seneng-seneng bingung apa coba. Ga jelas lu!" Uwias mencibir. Mereka tertawa bersama. Terlihat cukup bahagia. Ia melepaskan kembali pitingannya dari leher Faik walau sebenarnya pitingan itu tidak terlalu kencang.
"Eh, ngapain sih disini. Kayak gembel kelaperan tau nggak! Tiduran di teras, kayak yang nggak punya rumah aje,"
"Sini nih. Lu denger nggak, suara di speaker masjid putri itu?" Uwais merangkul hangat bahu Faik.
Faik mengangguk antusias. "Oh, itu suara calon bini lu?"
Uwais menggeleng. Bukan. "Itu suara bidadari surga yang mau gue taklukkin."
"Wih, baru denger suaranya aja udah demen, apalagi liat orangnya." selorohan Faik menciptakan tawa diantara mereka kembali meledak.
Uwais ingat betul. Itu adalah kalimat yang selalu mereka __Faik, Adhim, Hakim__ ucapkan setiap mendengar suara mengaji santri putri yang merdu.
Pernah di suatu ketika, mereka sedang berada di tembok perbatasan Madrasan Aliyah (MA) putra dan putri. Mengobrol ringan sambil mendengarkan suara mengaji dari arah MA putri yang terdengar cukup merdu. Setelah beberapa saat menunggu dan suara itu masih belum juga berhenti, mereka memutuskan untuk mengintip lewat gerbang rahasia yang berada di bagian belakang masjid.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Kahfi
Teen Fiction"Diantara miliyaran manusia di dunia ini, aku tahu Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan" Uwais Al-Qorni, seorang lelaki tampan pujaan kaum hawa. Hampir seluruh perempuan yang mengenalnya rela bertekuk lutut di hadapannya demi mendapat perhati...