Jangan lupa vote, komen, dan share 😉💛
Happy Reading ✨️
***
"Ehemm..."
Dehaman itu membuat Uwais refleks menoleh. Tangannya yang sedang memberi makan untuk ikan-ikan di dalam kolam di depannya terhenti sejenak. "Mba, tumben pagi-pagi udah nyampe sini." Uwais menyapa kakaknya lebih dulu.
"Iya nih, Mba mau liat abangnya si Della yang katanya abis ketemu sang pujaan hati, semalem" Kalimat itu meluncur seiring berkembangnya seringai jahil di wajah Aisha.
Ada senyum kecil di wajah Uwais ketika mendengar ledekan itu. "Timbang minta tolong doang. Nggak ada spesial-spesialnya."
"Oh iya!" Aisha menurunkan Della yang sejak tadi berada dalam gendongannya. Anak kecil itu langsung mengambil makanan ikan yang di pegang Uwais dan menaburkannya kedalam kolam dengan wajah cerianya yang menggemaskan. "Annisa nggak kenal kamu, ya Waish"
Aisha memanggil Uwais dengan sebutan Waish __itu panggilan kesayangan, ngomong-ngomong__ itu artinya Aisha sedang tidak berminat untuk mencari masalah dengan Uwais. Wanita itu mungkin sudah capek berurusan dengan adiknya sendiri dan sedang ingin berdamai untuk saat ini.
"Nggak tau. Tapi dia manggil aku Mas." Uwais menjawab santai. Itu bukan masala besar. Annisa tidak perlu tahu siapa dirinya, yang terpenting adalah Annisa bisa sedikit dekat dengannya. Ya, walaupun memang hanya sedikit.
"Oh..." Aisha mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia menatap Uwais yang terlihat sedang merenung sambil menatap keruhnya air kolam ikan di depannya. "Terus, kamu nggak kenapa-napa, Waish?" Rupanya Aisha cukup khawatir dengan diamnya adik tersayangnya ini.
"Nggak apa-apa sih..." Uwais berkata pelan. "Tapi Mba, aku sempet liat tangannya waktu itu. Dia kayak gemetaran gitu, Mba. Kenapa ya kira-kira?"
"Gemeteran?" Aisha mengerutkan kening. "Nggak paham juga tuh, kenapa ya?"
"Apa dia lagi sakit, Mba?" Uwais menatap kakaknya, dan memasang wajah khawatir.
"Sakit? Kayaknya nggak deh. Tadi malem Mba juga ketemu. Tapi dia biasa aja tuh. Nggak kelihatan lagi sakit." Aisha mencoba mengingat-ingat pertemuannya dengan Annisa semalam. Annisa terlihat sehat. Wajahnya tidak terlihat pucat dan tubuhnya tidak bergetar seperti yang Uwais katakan.
"Terus kenapa dia gemeteran gitu, Mba?" kekhawatiran masih terlukis di wajahnya.
"Kamu positive thinking aja ya... Mungkin di cuma lagi kedinginan atau gimana."
"Ya, semoga emang ngga kenapa-kenapa. Aku khawatir."
***
"Eh, Nis kamu mau kemana?" Azizah mencegat Annisa yang berlari terburu-buru menuju gerbang asrama.
"Eh, Azizah" Annisa menghentikan langkahnya sejenak. Azizah menghampiri gadis yang berumur dua tahun di atasya itu. "Ini aku mau ke perpus. Kenapa emang? Mau kesana juga?"
"Oh perpus. Bareng yuk. Aku mumpung lagi senggang nih." Azizah menggandeng tangan kanan Annisa yang bebas. Sedangkan tangan kiri Annisa tampak membawa sebuah buku besar yang menemaninya di waktu senggang dalam tiga hari terakhir. Mereka berdua berjalan bersama menuju perpustakaan yang memang letaknya berdampingan dengan sekolah SMA putri.
Ya, Azizah memang lebih muda dibandingkan Annisa. Lebih tepatnya ia masih berusia 18 tahun. Begitu pula dengan Syifa, dan Afwah. Tapi Ia memanggil Annisa hanya dengan menyebut namanya. Tanpa embel-embel Mba dan sebagainya. Tapi itu bukan karena dia tidak sopan atau apa, hanya saja Annisa memaksanya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Gadis Kahfi
Teen Fiction"Diantara miliyaran manusia di dunia ini, aku tahu Tuhan mempertemukan kita bukan tanpa alasan" Uwais Al-Qorni, seorang lelaki tampan pujaan kaum hawa. Hampir seluruh perempuan yang mengenalnya rela bertekuk lutut di hadapannya demi mendapat perhati...