Bagian 10 - Kesempatan

21 2 5
                                    

            Annisa masih diam hingga malam menjelang. Sementara Syifa tidak pernah menyinggung masalah itu. Ia tahu Annisa butuh privasi. Walaupun ia sangat penasaran, bagaimana mungkin gus Uwais berkata begitu pada Annisa, Syifa akan tetap diam. Ia tahu, topik itu bisa jadi merupakan sesuatu yang sensitif bagi Annisa.

Apa yang diucapkan Uwais tadi pagi? "Saya adalah lelaki yang akan duduk di depan ayahmu, menggenggam tangan beliau dengan mantap lalu mengucapkan akad di depan para saksi. Aku yang akan mengucap janji pada ayahmu untuk terus menemani dan menjagamu, menggantikan tanggung jawab ayahmu untuk menafkahimu."

Bukankah ucapan seperti itu termasuk lamaran secara tersirat? Jadi Gus Uwais telah menentukan pilihannya pada Annisa, sementara Annisa tidak tahu apa-apa? Lalu, apakah Ning Aisyah sebenarnya tahu fakta itu tetapi memilih untuk menutupinya? Dan, apakah permintaan Ning Aisyah yang meminta agar Annisa ikut tadarus setiap hari karena Ning Aisyah ingin mengetahui dan mengenal Annisa lebih dalam lagi?

"Syifa," panggil Annisa. Mereka sedang berada di kamar. Waktu sudah menunjukkan lewat tengah malam, namun Annisa dan Syifa masih bertahan untuk tidak terlelap. Mereka berdua sibuk memikirkan hal yang sama.

"Iya, ada apa Nis?" sahut Syifa. "Mau tahajjud?"

Annisa menggeleng. Kini ia berjalan menuju tempat tidur Syifa. Syifa menggeser posisi tidurnya agar Annisa bisa ikut berbaring di sampingnya. Annisa membaringkan tubuhnya di samping Syifa. Sembari menatap ke atas, ia berucap "jangan cerita sama siapa-siapa Fa."

Syifa yang mengerti arah pembicaraan Annisa kemudian mengiyakan. "Kamu tenang aja. Aku nggak bakal cerita sama siapa-siapa kok."

Annisa menghembuskan nafas panjang, seolah sedang memikul beban berat.

"Ada apa?"

"Nggak apa-apa kok, Fa"

"Kamu beruntung ya." ujar Syifa. "Disukai Gus. Kamu itu perempuan pilihan. Gus Uwais pasti memilih kamu bukan tanpa alasan."

"Bebannya yang nggak beruntung." Timpal Annisa.

"Maksudnya?"

"Menjadi Ning atau Gus itu berat Fa. Harus menjaga sikap, menjaga akhlak, menjaga amanah. Nggak boleh sembarangan bertingkah atau sembarangan ngomong. Karena mereka bawa nama besar keluarga. Sekali mereka mengecewakan, atau membuat kesalahan, bukan hanya dia saja yang menanggung malu atau aib. Tetapi juga itu artinya ia telah mengotori nama besar keluarga. Ning dan Gus itu membawa amanah besar.

"Belum lagi jika di amanahi untuk meneruskan mengajar atau diberi warisan santri. Amanah yang digendong akan semakin besar. Bukan cuma dipercaya oleh Umi dan Abi, tetapi juga seluruh wali santri. Sedangkan santri disini banyak, ada ratusan. Dan mengurus santri sebanyak ini agar tetap tertib itu amat susah."

Syifa baru menyadari hal itu. Ia kira menjadi Ning itu menyenangkan. Ternyata berat. Lebih berat daripada rindu.

"Tapi, kalau suatu hari nanti Gus Uwais benar-benar melamarmu, apakah kamu bakal nerima lamaran itu atau nggak?" tanya Syifa.

"Entahlah. Biarlah takdir berjalan dengan semestinya. Kalau memang Allah berkata bahwa bersamanya adalah yang terbaik, aku akan menjalaninya. Kalau Allah berkata bahwa bersamanya bukan hal baik, aku juga akan tetap menjalaninya. Karena sudah menjadi tugas manusia untuk menjalani apapun takdir yang Allah tulis untuk kita. Bukankah begitu?"

Ya. Syifa yakin, Annisa adalah yang terbaik untuk Gus Uwais. Gadis itu begitu lembut dan luhur budi pekertinya. Sangat cocok menjadi Ning. Syifa yakin, Annisa pasti bisa mengemban amanah itu.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 10, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Gadis KahfiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang