Bagian 8 - Hari Baru

21 3 7
                                    

"Annisa, tolong ambilin piring dong. Itu di samping kamu." Afliha menunjuk sebuah piring putih di samping Annisa.

Gadis itu menoleh dan mengambilkan piring untuk Afliha. Hari ini, sesuai dengan rencana tadi malam, Annisa ikut membantu Afliha memasak di dapur untuk Umi dan Abi. Tanpa paksaan dari pihak manapun, Annisa memang ingin mengabdikan diri pada orangtua keduanya itu.

"Ini, Mba" Annisa memberikan piring yang di maksud Afliha tadi.

"Kamu bisa bikin Capcai gak nis?" tanya Afliha selanjutnya sembari memindahkan ayam goreng dari penggorengan ke piring.

"Bisa, Mba. InsyaAllah." ya, Annisa memang sudah terbiasa membantu Mamanya memasak saat di rumah. Jadi jika hanya di suruh membuat capcai, mudah saja baginya.

"Yaudah tolong kamu buatin capcainya ya. Saya mau memasak ikan dulu. Itu sayuran yang di butuhin udah jadi satu di kantong kresek itu" Afliha menunjuk sebuh kantung plastik berwarna hitam yang ada di samping kotak bumbu.

Annisa mengambil kantong itu dan melihat isinya.

"Jangan kebanyakan ladanya, soalnya gus Uwais nggak terlalu suka lada." lanjut Afliha menjelaskan.

"Iya, Mba" jawab Annisa patuh.

Beberapa menit berlalu. Suasana dapur dipenuhi keheningan. Khodim yang bertugas memasak sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hingga suara pintu dapur yang terbuka dibarengi dengan seseorang yang mengucap salam memecahkan hening itu. "Waalaikumussalam" Serentak semua khodim yang berjumlah empat orang itu menjawab.

Sorang pemuda bertubuh tinggi dan memiliki wajah rupawan masuk. Ia tampak menyunggingkan senyuman miring, seolah berhasil menangkap mangsa. "Afliha, menu saya hari ini apa?" tanyanya.

"Menunya capcai dan ayam goreng, Gus." jawab Afliha dengan pandangan tertunduk sebagai tanda segan.

"Ya udah. Cuma mau nanya itu." tatapan mata Uwais tertuju pada Annisa yang terlihat khusyuk memotong wortel dan beberapa sayuran. Gadis itu selalu terlihat cantik. Membuat Uwais tak pernah jenuh memandangnya.

"Shobahul khoir, kamu yang lagi motong wortel." ucap Uwais yang kini tengah duduk di sebuah kursi kayu dekat dengan tempat duduk Annisa.

Menyadari bahwa yang di maksud Uwais adalah dirinya, akhirnya Annisa menjawab. "Shobahun nuur, Gus." jawab Annisa dengan suara lirih. Ia sama sekali tidak berani menatap lelaki di sampingnya. Jangankan menatap, hanya dengan mendengar suaranya saja membuat Annisa teringat kembali akan traumanya.

"Boleh kenalan?"

Pertanyaan itu mengundang prasangka dalam hati gadis-gadis khodim ini. Apakah Gus kita menyukai Annisa? Sungguh beruntung gadis itu, mendapat lelaki sesempurna Uwais al-Qorni.

Annisa tidak menjawab pertanyaan dari Gusnya itu. Ia terus saja menunduk. Tidak melirik sedikitpun pada lelaki yang memakai sarung dan kemeja berwarna abu-abu itu. Lain dengan khodim lain yang sesekali mencuri pandang pada lelaki yang nampak tersenyum cerah itu. Annisa tetap menunduk, fokus pada wortel yang sedang ia potong tipis.

"Kamu orang mana? Boleh saya kapan-kapan main ke rumah mu?" Uwais masih berjuang. Ia tidak akan menyerah untuk dapan berbincang dengan Annisa. Meskipun gadis itu terlihat seperti mengacuhkannya. Entah karena memang tipe gadis cuek atau karena menjaga diri.

"Assalamualaikum," Uwais mengucapkan salam dengan suara lirih. Tubuhnya agak dicondongkan ke arah Annisa. Agar hanya dirinya dan Annisa yang mendengar salam itu. Mengapa Uwais melakukan ini? Karena ia hanya ingin mendengar suara Annisa. "Menjawab salam itu hukumnya wajib, Annisa..."

Gadis KahfiTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang