3. On Memories

214 17 0
                                        

WARNING‼️
PART INI AKAN MULAI BERJALAN MUNDUR ATAU MENGGUNAKAN ALUR MUNDUR ATAU ISTILAHNYA FLASHBACK ON. PERHATIKAN BAIK BAIK TANDANYA. DAN JANGAN MELEWATKAN SATU HAL SAJA YANG BISA MEMBUAT KALIAN TIDAK MENGERTI ALUR CERITA. SAYA JAMIN KALIAN AKAN NAGIH. HAPPY READING MY BMAYO💕

***
"Lo beneran nolak Lan?"

Huft

Alana menarik napasnya dalam-dalam menghentikan aktivitas beberes barang-barangnya sudah bersiap untuk pulang sebelum berbalik menghadap ke arah Syifa yang sedari tadi terus bertanya dan menuntut Alana untuk menjawab pertanyaannya. "Cip gini–"

"–aku paham betul kalau kamu khawatir sama aku, but you know! I have no other business than holding the title of ordinary student here. Aku hanya ingin menyelesaikan study ku segera dan pergi sejauh-jauhnya dari tempat ini. Aku ingin melepas penat ku dan menyusun hidupku tanpa bayang-bayang gelap," Alana menjeda kalimat nya, menatap sahabat yang selalu menemani dirinya di segala kondisi, memperhatikan semburat merah dan bulir bening yang sudah siap jatuh dari langit damai matanya.

"Yang kemarin menyakitiku Syifa!" Bersamaan dengan itu, baik Alana maupun Syifa menunduk dengan isak tangis yang sudah tidak dapat lagi di bendung.

Alana memalingkan wajahnya, sedangkan Syifa berbalik memunggungi Alana menghadap pintu kelas tidak ingin saling menatap satu sama lain.

"Benar kata orang. Ditengah edarannya Matahari berjalan gagah membentang, kepeduliannya terhadap sinarnya sering dianggap arogan pada kedudukan tertinggi. Ternyata umpama waktu yang habis ditelan masa, ada secercah harapan untuk menarik kembali sinarnya agar tidak menuai senyum pudar untuk esok. Ia kehabisan tenaganya." Syifa dalam sadarnya berucap dalam hati, adakah orang yang benar buta akan kebenaran?

"Alana seperti angin yang dianggap tidak bertujuan. Meski beberapa diantara mereka masih melihat keberadaannya, Alana hadir hanya untuk hidup diatas jasadnya yang telah lama mati. Bangun lalu tidur untuk kembali memulai mimpi menyedihkan dalam tidurnya, dan ketika kembali terbangun semuanya terasa seperti neraka."

"Kamu bisa istirahat di sini Lan" Ucap Azalea yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara Alana dan Syifa. "Yah disini" Ucap Alana dalam hati masih mempunyai harapan saat Azalea berdiri dan menarik kepalanya untuk di letakkan bersandar di bahunya.

FLASHBACK ON ‼️

Pukul sepuluh tiga lima waktu Indonesia barat, satu kampus terbesar yang berada di tengah pusat kota Jakarta ramai dihebohkan dengan enam kandidat yang menduduki peringkat teratas tertinggi International Olympic Mathematics selection.

Acara tahunan? Ralat! Acara yang digelar dua tahun sekali pada jenjang pendidikan teratas, dan ini digelar serentak tingkat internasional.

Puluhan ribu mahasiswa University Of Sitanus Indonesia UOS memperebutkan posisi, namun hanya tujuh kandidat teratas yang akan terpilih sebagai kompetitor yang akan mewakili UOS pada IOM yang akan diselenggarakan satu bulan ke depan di Lo Stivale (Italy).

Dan hari ini, tepat saat pengumuman hasil seleksi Internasional Olympic (IO) yang akan mewakili University Of Sitanus (UOS) pada kompetisi mendatang.

Jika pada tahun sebelum-sebelumnya mahasiswa yang terpilih adalah berjenis kelamin laki-laki, maka tahun ini satu perwakilan dari perempuan berhasil merebut kursi, dan hal paling mengejutkan adalah status mahasiswi tersebut berasal dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik dimana dari segi pembelajaran bahkan materi sudah jelas sangat bertolak belakang.

Pemecah rekor ini tidak lain adalah Alana De Zhalunea Ilyona mahasiswa semester tiga, gadis sederhana, gadis berkelahiran Makassar sebagai penerima beasiswa full dari University Of Sitanus Indonesia (UOS) yang terletak di kota Jakarta. Diikuti keenam kandidat lain yang berasal dari jurusan berbeda.

WAITERSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang