Hai...Kamu.
Yang kutemui di persimpangan jalan kemari. Yang kutemui saat kenyataan mengobrak-abrik relung jiwaku. Kamu...yang sekarang menjadi penduduk dan pemilik tahta tertinggi dihatiku. Yang sekarang menjadi obat pada saat gundah gulana menyeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Aku mah apa atuh"
"Udah, kita mulai aja sekarang" Sela Ansel menjadi penengah yang di ikuti oleh beberapa anggukan oleh teman-temannya di akhir.
"Alpha gimana?" Tanya Rega.
"Nyusul katanya" Jawab Vano, membuat mereka mulai fokus pada masing-masing bukunya tak terkecuali Alana.
Alana pun sama mulai membaca dan membolak-balik halaman demi halaman mencari materi yang ingin di pelajari. Namun karena merasa semuanya cukup dan juga semua materi yang seharusnya dirinya pelajari hari ini berganti dirinya kerjakan semalam, Alana beralih membuka novel nya yang berjudul Jarak Dan Waktu kemudian berhenti karena kesal dengan si pemeran utama laki-laki. Setelah membaca novel Alana kini membuka buku yang berisi tentang hak-hak seorang perempuan.
"Gue baru tahu ada hak ginian" Alana menoleh mendapati Vano yang menatap buku bacaannya dengan mimik bingung namun sedetik kemudian mengangguk kecil.
"Wisss, 'Larangan PHK karena hamil, menikah dan melahirkan' keren ya jadi perempuan" Lanjut Vano setelah membaca halaman terbuka yang di tampilkan oleh buku Alana.
Alana memutar bola matanya jengah mendengar kalimat akhir Vano "Enak menurut kamu, kami sih isdet det det"
"Loh emang enak kan, mana ada laki-laki punya UUD kayak gini. Lihat nih beneran ada lagi, UU Ketenagakerjaan pasal 153 ayat 1e"
"Yaudah habis nikah nanti kamu aja yang hamil terus melahirkan, enak kan?"
"Lah gue kan cowok mana bisa"
"Tadi kamu kan bilang enak, berarti mau dong!" Alana memasang wajah garang.
"Ya ngga gitu juga kanibal"
"Cik"
Alana berdecak kesal mendengar Vano menyebutnya dengan nama buatan alias kanibal jadi-jadian. "Vano ganteng kamu paham gak sih? UU ketenagakerjaan ini itu dibuat untuk memenuhi kebutuhan semua orang. Biar ga berat sebelah. Maksudnya berat sebelah, biar seorang perempuan mendapatkan hak nya juga, jangan cuma laki-laki yang diberikan kebebasan, perempuan juga berhak menentukan kehidupannya, perempuan bebas bekerja saat dalam kondisi hamil dan lain-lain dari PHK"
"Kamu pernah denger kan, seorang wanita berhenti bekerja karena hamil atau mau melahirkan?"
"Gak pernah"
Tuk
Alana menjitak kepala Vano kemudian kemudian mendorong buku yang tadi di pegangnya, yang kini beralih berada di hadapan Vano.
"Nolep"
Vano hanya menampilkan wajah malas kemudian mulai menyentuh buku yang kini sudah berada di hadapannya, namun belum sempat membaca seseorang lebih dulu menutup bukunya membuat Vano dan Alana menoleh dengan cepat. "Matematika! Bukan Hak dan Kewajiban" Ucapnya menatap Vano dengan raut dingin.