Hai...Kamu.
Yang kutemui di persimpangan jalan kemari. Yang kutemui saat kenyataan mengobrak-abrik relung jiwaku. Kamu...yang sekarang menjadi penduduk dan pemilik tahta tertinggi dihatiku. Yang sekarang menjadi obat pada saat gundah gulana menyeran...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tak!
Alana menelungkupkan dagunya di atas lutut usai melempar ponselnya ke belakang, sebagian dari rambutnya turun menutupi wajahnya hingga Alana hanya bisa menatap sedikit hamparan danau dihadapannya melalui celah rambutnya. Helaan napas dari Alana terdengar sangat berat, suasana hatinya sangat kacau usai menerima pesan dari Alpha, padahal niatnya kesini untuk mengurangi negatif thingkingnya lantaran dua harinya direnggut dengan perasaan gundah yang sering menghantuinya.
Alana sudah mencoba untuk tidak berkomunikasi dengan Alpha, bahkan nekad tidak mengikuti kelas, belajar bareng dan juga mengorbankan pekerjaanya hanya karena tidak ingin bertemu dengan Alpha. Alana benar-benar menguji dirinya sendiri, ingin melihat sejauh mana dirinya bisa tanpa keberadaan Alpha. Perlahan pikirannya terbuka, bahwa benar selama ini dirinya yang sangat mengganggu Alpha dan berujung selalu sakit hati sendiri. Padahal jika dipikir-pikir ini adalah sesuatu yang harus Alana terima konsekuensinya. Berani jatuh cinta, berarti harus berani dengan semua rasa sakitnya. Ketika kita memilih untuk menaruh hati, artinya kita harus siap menerima setiap kemungkinan yang akan terjadi. Tertolak, tidak diterima atau bahkan harus siap jika saja orang yang kita suka justru menyukai orang lain.
"Kenapa ngga ada yang bilang kalau jatuh cinta tidak cukup dengan hanya jatuh cinta saja?" Gumam Alana semakin menelungkupkan kepalanya diantara lututnya hingga tidak ada lagi yang terlihat dari wajahnya. "Kenapa harus menunggu disukai? Kenapa dia harus tahu dulu? Kenapa dia harus menerima juga? Kenapa, kenapa dan kenapa? Aku ngga yakin bisa nunggu selama ini. Bertahun-tahun masih ngga cukup, harus menunggu berapa tahun lagi? Aku mulai capek"
Alana terus saja berceloteh hingga tidak sadar bahwa objek dari omongannya sedari tadi sudah duduk disampingnya. Alpha terus menatap Alana yang masih setia menunduk, mendengar semua keluh kesah yang Alana gumamkan, yang meski hanya samar namun Alpha bisa mendengarnya cukup jelas. "Gimana ya perasaan orang yang jatuh cinta tapi cuma di pendam, apa ngga meledak kepalanya? Bayangin aja rasanya udah menguras energi. Pasti manusia macam itu ngga satu spesies sama aku, atau mungkin jelmaan lampir? Tapi emang ada ya orang jatuh cinta tapi cintanya di pendam? Ihh nyebelin banget, seharusnya yang aku pikirin nasib aku. Udah ngutarain, ngusahain tapi tetap ditolak, malu-maluin banget! Atau aku stop aja kali y–"
"Jatuh cinta bisa bikin gila juga ternyata" Ucap Alpha membuat Alana refleks menoleh ke sumber suara. Tepat disampingnya Alpha sudah duduk hampir menyamakan cara duduknya, tangan Alpha berada tepat diatas beberapa buku yang sempat dirinya bawa, menggeser buku itu sedikit kebelakang agar bisa lebih mendekat ke Alana. "Kenapa diam? Perasaan dari tadi lo ga berheti berceloteh?"
"Ngga kenapa-kenapa" Jawab Alana membuang pandangannya kembali menatap kedepan, jika terus menatap Alpha bisa-bisa perasaannya semakin tidak tertahan. Dan Alana tidak mau terus-terusan seperti itu, Alana tidak ingin terlalu mengganggu Alpha dan berakhir sakit hati sendiri jika tidak mendapat jawaban sesuai dengan keinginannya. "Gue antar lo pulang"
"Aku masih mau disini" Tolak Alana masih keukeuh dengan jawabannya sedari di room chat.
"Gue disini, lo natap apa didepan sana?" Tanya Alpha membalik tubuh Alana dengan satu tangannya, hingga Alana kini menghadap penuh kearah Alpha.