***
"Alpha"
"Alpha tunggu" Panggil seorang gadis yang tidak lain adalah Alana, memanggil seseorang dengan langkah kaki terlihat terburu-buru. Tangannya menggenggam begitu erat buku-buku yang ada di tangannya, takut terjatuh.
Langkah kaki Alana berhenti tepat dihadapan Alpha yang hanya memperlihatkan wajah datarnya. "Kamu ini, ya Tuhan–" Alana tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya karena ngos-ngosan. Alana memegang dadanya yang berdegup kencang, berusaha menetralkan pernapasannya.
Selesai menetralkan degup jantungnya yang mendadak berdisko-disko akibat berlari, Alana menyodorkan buku yang ada di tangannya ke hadapan Alpha, seolah menjawab pertanyaan dari Alpha. "Buku kamu ketinggalan"
"–dari tadi aku panggilin ga nyaut-nyaut, mana langkah kaki kamu panjang banget lagi"
"Ok" Ucap Alpha tidak minat, mengambil buku-buku itu kemudian berlalu meninggalkan Alana.
"Tapi tadi–"
"Stop di situ, jangan ganggu gue sibuk!" Kali ini Alana hanya menatap kepergian Alpha tanpa berniat sedikitpun untuk mencegah. Niatnya tadi mau ngajak dan ngasih sesuatu tapi karena melihat wajah Alpha yang sangat serius dengan ucapannya membuat Alana mengurungkan niatnya.
"Yaudah Lan' next ya" Ucap Alana pada dirinya sendiri berusaha menyemangati dirinya. Alana menggerak-gerakkan tangannya untuk merenggangkan.
"Di pikir-pikir kok baru terasa ya pegelnya. Padahal pas ngejar Alpha tadi ga kerasa" Tanya Alana pada dirinya sendiri. Bukan satu atau dua buku, melainkan delapan buku yang berkisaran satu buku berisi tujuh ratus halaman, dan itu Alana bawa sendiri dengan jarak yang sangat jauh. Bayangkan saja Alpha, Alana dan teman-temannya yang lain belajar di gedung sospol, dan Alana mengejar Alpha sambil berlari-larian menuju gedung Astronomi.
"Gapapa Lan"
Adakah perempuan gila?
ADALAH! ADA!
Ini dia, Alana.
Gadis yang minim rasa malu.
Jika biasanya perempuan lebih cenderung menyukai seorang pria secara diam-diam, kali ini berbeda. Alana ini titisan hantu sumur yang nyelem di air, biar masak.
Maksudnya Alana itu titisan hantu sumur yang betah dingin-dingin. Hantu sumur kayaknya nyelem di air kan? Tahan dingin!
Nah ibaratnya Alana juga kayak gitu, kebal cowok dingin. Selama Alana mengenal Alpha dari masa pengumuman seleksi olimpiade, Allahuakbar sudah hilang rasa malunya. Author aja yang nulis geleng-geleng.
Hantu sumur tahan kena gayung yang di tarik ke atas terus di lempar lagi ke dalam buat ambil air itu asal kalian tahu menyakiti hantu sumur loh. Ambil lempar-Ambil lempar. Walaupun seperti itu dia tetap bertahan ditempatnya. Itu adalah cinta sejati.
Sama halnya Alana!
Alpha yang dingin tidak tersentuh, selalu melontarkan kata-kata sarkas, menyakiti, dan tidak enak untuk di dengar itu masih membuat Alana bertahan, karena apa? Cinta.
Alana juga manusia. Hampir semua wanita mencintai lelaki karena ketampanannya. Begitupun Alana. Tapi disini berbeda, Alana merasa cara dirinya mencintai Alpha itu berbeda. Sayangnya Alana tidak bisa menjelaskan letak perbedaannya.
Alana ingin menyangkal bahwa dirinya tertarik pada Alpha karena ketampanan, tapi Alpha memang benar-benar tampan. Dirinya akan di cap munafik jika menolak kenyataan itu. Bahkan Alana tidak bisa fokus pada kegiatannya jika Alpha sudah berada disekitarnya. Tapi dari lubuk hati yang paling dalam, Alana menolak keras jika seseorang menamakan perasaannya pada Alpha itu cuma karena ketampanan. Tidak! Alana tidak setuju. Alana tertarik pada Alpha dengan cara dan pastinya dengan alasan yang berbeda.
KAMU SEDANG MEMBACA
WAITERS
RomanceHai...Kamu. Yang kutemui di persimpangan jalan kemari. Yang kutemui saat kenyataan mengobrak-abrik relung jiwaku. Kamu...yang sekarang menjadi penduduk dan pemilik tahta tertinggi dihatiku. Yang sekarang menjadi obat pada saat gundah gulana menyeran...
